Jayapura, Jubi – Kantor Perwakilan Bank Indonesia atau KPw BI Papua akan menggelar untuk pertama kalinya Festival Cenderawasih di Eks Terminal PTC Entrop, Jayapura selama tiga hari, Jumat-Minggu (17-19/5/2024).
Kepala Tim Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (Kekda) KPw BI Papua Dandung Tri Marsetyo mengatakan KPw BI Papua mengadakan Festival Cenderawasih untuk mendorong potensi wisata di Papua.
“Kegiatan ini menjadi momentum menimbulkan kesadaran masyarakat terhadap potensi pariwisata di Papua sehingga membantu pertumbuhan ekonomi. Membuka kesadaran kita bahwa kita sangat kaya, kita bisa bersaing dengan daerah lain, pariwisata kita juga modalnya cukup oke,” katanya saat acara Media Briefing KPw BI Papua di Jayapura, Senin (14/5/2024).
Sebelum pemekaran, kata Dandung, sektor pertambangan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua. Namun setelah pemekaran, perlu adanya sumber pertumbuhan ekonomi dari sektor lainnya. Menurutnya ada empat faktor pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi Papua, salah satunya adalah sektor pariwisata.
Festival Cenderawasih mengusung tema ‘Upaya strategis mendorong pertumbuhan Papua yang inklusif dan berkelanjutan melalui penguatan SDM, kemitraan global value chain, dan sustainable tourism’. Ada enam rangkaian acara yaitu, edukasi, showcasing and business matching, pariwisata, budaya, competition, dan music festival.
Festival Cenderawasih melibatkan 37 UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) binaan KPw BI Papua. UMKM tersebut terdiri dari 32 UMKM Food and Beverage, 3 UMKM fashion, 2 UMKM kerajinan, dan 3 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Manajer Tim Implementasi Kekda Kpw BI Papua Muhammad Fahrurrizki Aulia berharap kegiatan tersebut mampu menggemakan Papua di sektor ekonomi kreatif.
Salah satunya, katanya, melalui business matching dengan mengundang agregator seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Papua dan Jakarta, Asosiasi Pedagang Retail Indonesia Papua dan Jakarta, dan ASITA (Association of The Tours and Travel Agencies) Papua dan Papua Barat.
“Pariwisatan dan ekonomi kreatif ini perlu didorong sehingga dibutuhkan keterbukaan wawasan. Kalau mau berkembang, harus ada pasarnya. Maka kami akan mengadakan business matching untuk UMKM agar usahanya berkembang luas, seperti pasar pariwisata (ASITA) dan pelaku usaha pariwisata bersinergi,” kata Aul, sapaan akrabnya.
Sedangkan dampak dari sisi ekonomi, menurut Aul, terlalu dini untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi terlalu besar. Menurutnya butuh waktu sekitar tiga atau lima tahun. Ia lebih menekankan kesadaran di awal.
“Mungkin masih sedikit, tapi karena ini pionir, awareness-nya (kesadarannya) dulu, jika sudah terbuka, maka jalannya makin mudah mendorongnya lagi,” katanya.
Ia mencontohkan Raja Ampat tidak serta-merta menjadi pertumbuhan ekonomi di Papua Barat Daya. “Misalnya di Kali Biru Raja Ampat, ada tiba-tiba datang pertunjukkan suku adat datang berpakaian adat. Jadi orang di sana itu dikasih tahu dulu, bimbingan dulu, baru nanti berlanjut sampai sekarang. Itu tiga sampai lima tahun lebih, baru terasa dampaknya,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Dandung melanjutkan, paket wisata di Papua belum tersedia. Kadang orang kesulitan mencari paket wisata di daerah Papua.
“Apalagi di internet mungkin hampir tidak ketemu, kalau ada ketemu mungkin hanya sampai di Sentani, tidak sampai ke mana-mana,” ujarnya. “Mungkin malah yang populer selain Raja Ampat, ada Wamena (Festival Lembah Baliem), kalau di Jayapura (Festival Danau Sentani).”
Menurut Dandung wisata di Biak belum terlalu terekspos, padahal Biak memiliki modal yang mirip dengan Raja Ampat. Bahkan dari sisi aksesibilitas antar spot lebih mudah.
Di Raja Ampat, tambahnya, satu tempat dive-nya ke tempat dive (menyelam) lainnya agak jauh-jauh. Sedangkan di Biak begitu di darat bisa mengunjungi banyak hal yang tidak ditemukan di wilayah lain. “Ini yang bisa dijual,” katanya.
Salah satu alasan mendatangkan ASITA dari Sorong, kata Dandung, karena dinilai memiliki kemiripan pasar di Papua, misalnya dengan promosi bersama.
“Bisa tidak ya, pasang promosinya di Raja Ampat sehingga wisatawan yang berkunjung di sana juga tertarik diving atau outdoor bisa mengunjungi Biak,” ujarnya. (*)























Discussion about this post