Washington, Jubi – Biro Investigasi Federal atau FBI bersama sejumlah badan intelijen lain Amerika Serikat mengungkap keterlibatan Iran pada upaya peretasan terhadap kampanye kepresidenan Trump dan Biden-Harris. Mereka mendeteksi agresivitas Iran selama masa pemilihan, terutama operasi siber yang menyasar pada kampanye kepresidenan.
FBI dalam pernyataan bersama dengan Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI), serta Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA) menyatakan aktivitas terbaru tersebut membahayakan kampanye Donald Trump. Mereka menuding Iran menggunakan rekayasa sosial dan upaya lain untuk mendapat akses langsung ke kampanye presiden dari Partai Demokrat maupun Partai Republik.
“Aktivitas semacam itu, termasuk pencurian, dan pengungkapan informasi, dimaksudkan untuk memengaruhi proses Pemilu Amerika Serikat. Kami tidak akan menoleransi upaya asing yang memengaruhi ataupun mencampuri pemilu kami, termasuk menargetkan kampanye politik Amerika.” tulis lembaga tersebut, seperti dikutip Anadolu, Selasa (20/8/2024).
Tuduhan terhadap Iran, dan Rusia tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga pada pemilu di negara-negara lain. Namun, Pemerintah Iran telah membantah tuduhan Amerika Serikat tersebut.
Sementara itu, Presiden Joe Biden meyakinkan peserta Konvensi Partai Demokrat bahwa calon presiden mereka tidak akan pernah tunduk kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurutnya, sikap itu berkebalikan dengan pesaing mereka, Donald Trump dari Partai Republik.
“Trump tunduk kepada Putin, sedangkan saya tidak pernah melakukannya. Saya bersumpah kepada Anda bahwa Kamala Harris [calon presiden dari Demokrat] juga tidak akan tunduk [kepada Putin],” kata Biden dalam Konvensi Nasional Demokrat di Chicago, Senin, waktu setempat.
Biden mengklaim Washington selama kepemimpinannya berhasil menyatukan negara-negara Eropa. Dia juga mengklaim berhasil menghilangkan kesenjangan teknologi dengan Tiongkok.
Biden menyatakan mundur dari Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024. Dia kemudian mendukung Kamala Harris yang ditetapkan Partai Demokrat sebagai pengganti pencalonannya.

Demonstrasi pro-Palestina
Konvensi Nasional Partai Demokrat berlangsung di Chicago pada 19–22 Agustus. Para delegasi secara resmi akan menunjuk calon presiden mereka untuk menghadapi Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 5 November mendatang.
Konvensi Nasional Partai Demokrat di Chicago diwarnai unjuk rasa rasa pro-Palestina. Massa menuntut Amerika Serikat mengakhiri dukungan terhadap Israel.
Unjuk rasa berpusat di Union Park. Jaraknya hanya sekitar 800 meter dari aula Konvensi Nasional Partai Demokrat. Para pengunjuk rasa bertekad menyampaikan langsung protes mereka kepada Biden, Harris, dan para delegasi konvensi.
Saat para delegasi tiba di aula konvensi, para pengunjuk rasa berkonvoi dengan melintasi pusat kota Chicago. Mereka meneriakkan slogan, seperti ‘Bebaskan, Bebaskan Palestina!’, beberapa jam sebelum Biden menyampaikan pidato pada konvensi tersebut.
Benjamin, seorang demonstran mengatakan satu keyakinan yang menyatukan ribuan orang di taman tersebut, yakni setiap orang berhak merasa aman di rumah, dan di komunitas mereka. Karena itu, dia menuntut Amerika Serikat memberlakukan embargo senjata terhadap Israel, dan tidak ada lagi mendanai praktik apartheid, pendudukan, dan genosida terhadap Palestina.
“Mereka mendanai, serta mempersenjatai genosida yang telah menewaskan lebih 40 ribu orang, yang sebagian besar ialah perempuan, dan anak. Itu terjadi dengan menggunakan uang dari pajak kami, miliaran dolar setahun yang [seharusnya] untuk mendanai pendidikan, perawatan kesehatan, pekerjaan, dan perumahan bagi masyarakat kami,” kata aktivis Jewish Voice for Peace, tersebut kepada Anadolu.
Jewish Voice for Peace menjadi salah satu penyelenggara Koalisi Unjuk Rasa pada Konvensi Partai Demokrat 2024. Aksi mereka juga didukung lebih 240 organisasi nasional, dan lokal, seperti CODEPINK, ANSWER Coalition, dan Muslim Amerika untuk Palestina.
“Kami menyalahkan Partai Demokrat, yang saat ini [berkuasa] di Gedung Putih, atas genosida di Gaza. Saya tidak yakin jika Kamala Harris menang [menjadi presiden], akan melakukan hal lain, selain meneruskan kebijakan membela Israel meskipun mereka melakukan genosida,” kata Linda, demonstran dari Partai Sosialis Kebebasan.
Tom, demonstran dari Illinois ingin Israel segera mengakhiri pendudukan mereka di Gaza, dan praktik genosida terhadap Rakyat Palestina. Dia memastikan tetap terus menuntut keadilan bagi Palestina meskipun Harris terpilih menjadi presiden.
“Ini bukan masalah politik. Ini masalah kemanusiaan,” ujar Tom.
Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar senjata bagi Israel. Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, lebih 70 persen senjata Israel diimpor dari Amerika Serikat. Senjata itu digunakan Israel dalam sejumlah serangan udara di Gaza.
Keberpihakan Amerika Serikat terhadap Israel mendapat tentangan keras dari mayoritas pendukung Partai Demokrat. Survei Gallup pada Juni menunjukkan hanya 23 persen pemilih Partai Demokrat mendukung operasi militer Israel di Gaza. (*)


























Discussion about this post