Sidang Aktivis Papua dipindah ke Makassar, Penasihat Hukum nilai sarat kepentingan politik

Penulis: Gamaliel M. Kaliele
Editor: Admin

Jayapura, Jubi – Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, mengecam keputusan aparat hukum yang memindahkan persidangan empat tahanan politik Papua ke Makassar. Ia menilai langkah itu tidak berdasar hukum dan justru berpotensi merugikan hak-hak terdakwa.

“Kami baru saja menerima surat dakwaan serta penetapan perpanjangan penahanan terhadap klien kami, yaitu Abraham Goram Gaman, Maksi Sangkek, Piter Robaha, dan Nixon May. Surat tersebut kami terima Sabtu sore (23/8) dari Majelis Hakim PN Makassar,” kata Warinussy melalui pesan WhatsApp, Minggu (24/8/2025).

Menurutnya, pemindahan sidang itu tidak sejalan dengan amanat Pasal 85 KUHAP yang hanya membolehkan perubahan lokasi persidangan atas alasan keamanan, ketertiban, atau kepentingan pemeriksaan. “Namun dalam kasus ini, tidak ada argumentasi hukum yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Warinussy menilai keputusan tersebut bukan sekadar persoalan teknis, melainkan sarat kepentingan politik untuk menjauhkan terdakwa dari pantauan publik. “Ketika sidang dipindahkan ke Makassar, akses keluarga dan masyarakat otomatis tertutup. Negara sengaja menjauhkan rakyat Papua dari ruang pengadilan yang seharusnya terbuka untuk umum,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi ini semakin memperberat psikologis para terdakwa yang kini ditahan di Lapas Kelas IA Khusus Makassar. “Mereka bukan hanya menghadapi proses hukum, tapi juga diasingkan jauh dari tanah kelahirannya. Keluarga mereka pasti kesulitan hadir untuk memberikan dukungan,” kata Warinussy.

Sebagai penasihat hukum, pihaknya menegaskan akan terus mendampingi klien dalam setiap sidang di Makassar. “Kami sedang mempersiapkan langkah pembelaan agar hak-hak hukum para klien tidak dilanggar,” jelasnya.

Warinussy menutup dengan seruan agar masyarakat sipil dan lembaga hak asasi manusia ikut mengawasi jalannya proses hukum. “Jangan biarkan keadilan mati di ruang sidang hanya karena kepentingan politik dan keamanan semu,” pungkasnya.(*)

BERITATERKAIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Nduga shooting victims’ families ask Papua Legal Aid Institute to oversee investigation

Jayapura, Jubi – The families of three residents shot in Nduga Regency, Highland Papua Province, on October 23, 2026, have [...]

Challenges and hopes for the new AJI Jayapura City chair for 2026-2029

Jayapura, Jubi – Theo Kelen and Maurits Yansip have been elected chair and secretary of the Alliance of Independent Journalists [...]

PAPEDA encourages shared parenting and breastfeeding support in Keerom

Jayapura, Jubi – The Papua Breastfeeding Awareness Community (PAPEDA) held a maternal and child health education session for residents of [...]

Jayapura braces for floods as rainy season returns

Jayapura, Jubi – Flooding is a recurring problem in Jayapura City, Papua province. Its hilly terrain and high rainfall make [...]

Forest and land fires driven not only by El Niño but also by corporate  expansion

Jayapura, Jubi – Forest and land fires (karhutla) should not be attributed solely to El Niño and climate change, but [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist