Sorong, Jubi – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernadus Bohitwos Baru, OSA, menyampaikan pesan iman yang tajam dan mendalam pada sebuah misa syukur yang khidmat bersama para pengungsi internal asal Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, Kamis (26/6/2025).
Ibadah dilangsungkan di Paroki St. Bernadus Aimas, dan menjadi momentum penguatan spiritual bagi warga pengungsi yang telah empat tahun lebih terusir dari tanah mereka akibat konflik bersenjata.
“Bagaimanakah kita tetap bertahan dalam penghiburan Tuhan dan percaya kepada janji-Nya? Kisah Abraham yang dijanjikan keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut itu, kalau kita kaitkan dengan situasi kita hari ini di Papua, maka ini adalah kisah yang relevan. Orang Papua sudah banyak yang putus asa, merasa Tuhan tak dengar lagi tangisan mereka,” ujar Mgr. Bernadus mengawali khotbahnya.
Dalam khotbah panjangnya, Mgr. Bernadus mengangkat kisah keteguhan iman Abraham dan Sarah dalam menghadapi penderitaan.
Ia mengaitkannya dengan situasi para pengungsi Maybrat, yang telah bertahan sejak tragedi pengungsian dimulai pada 2 September 2021 akibat operasi militer dan kekerasan yang masih terus berlangsung hingga hari ini, seperti di Intan Jaya dan Puncak.
“Ibu-ibu dan anak-anak kita hidup dalam penderitaan: pergi berburu tidak bisa, berkebun tidak bisa, anak-anak sekolah tidak ada uang. Ini penderitaan panjang yang hampir empat tahun lamanya. Tapi seperti Sarah dan Abraham, kita diajak percaya bahwa Tuhan sedang memproses sesuatu. Tuhan menjawab tahap demi tahap, dan akan menjawab tangisan orang Papua, lanjut Mgr. Bernadus.
Dalam suasana haru, ia mengajak semua yang hadir untuk tetap setia dalam iman meski dilanda banjir penderitaan dan angin keputusasaan. “Kalau kita tetap berdiri di atas batu yang kokoh, yakni Tuhan, maka rumah kita tidak roboh. Kita tidak akan jatuh. Kita akan tetap ada, dan kemenangan akan kita rasakan. Jangan pernah ragukan janji Tuhan. Dia tidak menutup telinga-Nya untuk orang Papua,” ujarnya.
Mgr. Bernadus juga menyampaikan pesan yang menyentuh dari Vatikan, bahwa Tanah Papua meninggalkan kesan mendalam di hati para pemimpin gereja dunia.
“Kemarin Kardinal Antonio, jenderal kapitel ordo kita, sampaikan bahwa hanya ada dua tempat di dunia ini yang paling mengesankan baginya: India dan Papua. Bahkan Paus saat ini, yang dulunya juga datang ke Papua, sampai hari ini tetap mengingat dan menyebut Tanah Papua dengan kasih,” ujar Mgr. Bernadus dengan suara bergetar.
“Mari kita serahkan semua penderitaan ini dalam doa, dalam iman. Tuhan punya rancangan lain, yang kita belum tahu. Tapi kita percaya, Dia akan menyatakan kemuliaan-Nya kepada orang Papua. Jangan pernah takut. Jangan kehilangan harapan. Kita mesti terus berdoa, memanggil leluhur kita, memanggil para pendahulu kita dalam adat, dan bersama dengan iman Katolik kita berjalan ke depan,” katanya.
Ia berharap misa syukur di Paroki St. Bernardus Aimas ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momen spiritual yang membangkitkan kembali daya juang dan pengharapan bagi ribuan pengungsi Maybrat dan seluruh rakyat Papua.
“Dalam seruan-seruan penuh kekuatan iman, tangisan Papua dijadikan nyanyian harapan, bahwa Tuhan belum selesai dengan Papua. Bahwa tanah ini akan tetap hidup dan bersuara. Bahwa setiap air mata akan dijawab oleh Tuhan,” katanya.
Perwakilan pengungsi Maybrat, Yeremias Asem, menyampaikan sambutan penuh penghargaan dan keharuan atas kehadiran Uskup Mgr. Berrnardus.
“Beliau adalah gembala yang baik yang datang mencari dombanya. Kami tahu beliau datang bukan dengan tangan kosong, tetapi dengan hati penuh kasih,” kata Yeremias, disambut tepuk tangan umat
Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, mulai dari Gereja Katolik, tim kemanusiaan Keuskupan Manokwari-Sorong, pemerintah daerah hingga masyarakat luas yang sudah turut membantu para pengungsi selama berada di pengungsian.
“Sebagian besar dari kami sudah kembali, tapi masih ada yang bertahan karena alasan pendidikan dan ekonomi. Pasar belum ada, transportasi sulit, sekolah belum stabil. Kami berdoa agar berkat melimpah bagi semua yang telah membantu kami,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Yeremias menekankan bahwa penderitaan orang Papua bukanlah penderitaan individu atau kelompok semata, melainkan penderitaan bersama sebagai Orang Papua.
Dengan suara penuh keyakinan, Yeremias mengajak semua elemen masyarakat Papua untuk bersatu dalam doa dan perjuangan Allah tidak pernah melupakan kita. Roh Kudus menyertai kita. Alam Papua menyertai kita. Mari kita bangkit. Mari kita percaya. Mari kita lawan penderitaan dengan iman dan persaudaraan.” Katanya. (*)






















Discussion about this post