Jayapura, Jubi – Jaringan Kerja Rakyat Papua atau JERAT Papua melakukan program pengembangan ekonomi hijau dan biru di Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Supiori, Provinsi Papua. Program dengan model pembangunan berkelanjutan berbasis kampung itu melibatkan sejumlah pihak.
Terkait program tersebut, JERAT Papua mengadakan kegiatan workshop di Kota Jayapura selama tiga hari, Rabu-Jumat (26-28/2/2025). Workshop diikuti puluhan orang dari kedua kabupaten.
Direktur Program JERAT Papua Jimmy Biay mengatakan peserta yang diundang dari Kabupaten Supiori adalah kelompok pelestari mangrove, kelompok nelayan, dan kelompok Aibon. Sedangkan dari Kabupaten Boven Digoel adalah kelompok pertanian, baik kelompok pemuda maupun perempuan.
“Pemahaman dari peserta sudah ada. Ada komitmen bersama yang sudah dibangun melalui workshop ini dan ada rencana tindak lanjut sendiri yang sudah dibuat, serta disepakati secara bersama oleh masing-masing kelompok,” kata Biay kepada Jubi, Rabu (28/02/2025).
Ia berharap kesepakatan itu dapat diterapkan dan diimplementasikan oleh peserta di kampung masing-masing. “Agar pengetahuan dan informasi tersebut berguna bagi masyarakat adat dan masyarakat kampung lainnya di wilayah kampung masing-masing,” ujarnya.
Menurut Jimmy Biay workshop tersebut berhasil karena pada akhir kegiatan sudah ada draft model konsep ekonomi berkelanjutan berbasis kampung yang dibuat sendiri oleh peserta dengan dibantu fasilitator dan akademisi yang dihadirkan. Draf itu berupa Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang disepakati bersama oleh peserta.
“Dapat disimpulkan bahwa peserta memang benar-benar memahami dan tinggal bagaimana menerapkannya,” katanya.
Peserta, kata Biay, akan membawa pulang draf tersebut dan menyosialisasikannya kepada masyarakat yang ada di kampung. Kemudian nanti tim JERAT Papua akan melakukan kunjungan langsung ke wilayah-wilayah kampung yang perwakilannya sudah dihadirkan pada proses untuk sama-sama menyepakati apakah draft konsep tersebut benar-benar dapat digunakan atau tidak.

“Jika masyarakat menyepakati draft itu dapat digunakan, maka kemudian akan berproses pada tahapan-tahapan selanjutnya. Artinya, kita langsung melakukan praktik-praktik, seperti produksi, kita langsung melakukan pendampingan langsung kepada kelompok-kelompok tersebut,” ujarnya.
Workshop yang menghasilkan draf RTL, kata Biay, merupakan bagian dari awal proses untuk pembangunan berkelanjutan berbasis kampung dan berbasis masyarakat adat baru dimulai.
“Karena ini adalah bagian dari awal, maka ini adalah proses draft awal,” katanya.
Yohanis Nongyap, salah satu peserta dari Yayasan Funem Papua Lestari yang menjadi mitra JERAT Papua untuk kegiatan di Boven Digoel mengatakan, sesuai RTL yang pertama dilakukannya nanti adalah melakukan konsolidasi antar lembaga pemerintah, adat, dan masyarakat. Kemudian melakukan sosialisasi program pengembangan ekonomi hijau di Kampung Awayanka.
“Karena masyarakat kampung perlu tahu apa yang akan dilakukan dan apa yang didapatkan dari kegiatan ini,” ujarnya.
Kegiatan kedua, kata Nongyap, adalah pendataan potensi yang akan dilakukan sesuai kebutuhan program di Kampung Awayanka.
“Misalnya yang kami programkan di sini adalah nanas. Nanas akan kami olah menjadi sirup dan bagaimana untuk untuk kita tanam lagi,” katanya.
Selain itu, tambahnya, juga ada potensi pariwisata yang akan dikembangkan di Kampung Awayanka, yaitu wisata gunung. Juga ada pengembangan Sekolah Kampung yang mengajarkan beberapa tema sesuai kegiatan yang akan kembangkan di sana, seperti cara pengelolaan nanas, manajemen keuangan rumah tangga, dan pengembangan kelompok-kelompok tani.
Terkait Sekolah Kampung, kata Nongyap, Yayasannya sudah mendirikan pada akhir 2022 dengan kegiatan pelatihan pertanian. Di antaranya pelatihan bertanam sayur-sayuran dan cara melakukan steak dan mencangkok tanaman seperti manggis, durian, jambu, giawas atau jambu biji, dan lainnya.
“Sedangkan pada 2023 kami fokus pada pelatihan komputer, khususnya Office, Excel, dan Power Point. Peserta yang ikut dari pendamping desa, staf distrik, dan aparat kampung,” katanya.
Ia berharap Jerat Papua bisa membantu kegiatan lanjutan, yaitu mengembangkan ekonomi di Kampung Awayanka.
Kepala Distrik Kepulauan Aruri Paul Rumbekwan yang juga menjadi peserta mengatakan beberapa RTL yang dirancang untuk distriknya adalah melakukan konsolidasi antar lembaga pemerintah, adat, masyarakat, dan perempuan.
Kemudian melakukan sosialisasi pengembangan ekonomi biru dan penguatan kelompok aibon, nelayan, penanaman mangrove, dan pengembangan potensi wisata bahari. Selain itu, juga enguatan kapasitas kelembagaan kampung. yaitu lembaga adat, pemerintah kampung, badan musyawarah kampung, dan gereja
“Kami juga akan melakukan pendataan demokrafi, seperti jumlah kepala keluarga, jumlah kelompok nelayan, jumlah kelompok aibon dan kelompok penanaman Mangrove. Ini penting, karena kami sebagai stakeholder bertanggung jawab untuk kesejahteraan dan pembangunan masyarakat, khususnya dari sisi ekonomi,” katanya.
Rumbekwan mengatakan distriknya harus berbuat dan bukan menunggu untuk diperhatikan dan dibina. Ia juga bertekad distriknya harus menjadi role model bagi kampung dan distrik-distrik lain.
“Khusus untuk JERAT Papua saya sangat apresiasi apa yang mereka buat, ini sebuah tindakan nyata yang sangat aplikatif dan sangat mengena pada inti dari proses yang akan kita jalani di lapangan,” katanya. (*)





















Discussion about this post