Jayapura, Jubi – Layanan internet satelit Starlink dari perusahaan SpaceX milik Elon Musk dinilai sangat cocok digunakan di wilayah Papua. Starlink diklaim memiliki kecepatan internet yang kencang dan stabil dengan harga yang relatif terjangkau dan murah. Namun, pemerintah diingatkan agar tidak sekedar menjadikan layanan internet satelit sebagai proyek.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Papua Jeri Agus Yudianto S Kom mengatakan layanan internet VSAT Starlink menjadi harapan dan angin segar bagi masyarakat. Menurut Jeri, layanan internet VSAT Starlink sangat cocok digunakan di Papua.
Ia mengatakan setelah VSAT Starlink diluncurkan di Bali oleh Presiden Jokowi dan Elon Musk, tentu menjadi harapan dan angin segar, sebab teknologi VSAT Starlink sangat memungkinkan untuk daerah dengan geografis yang sulit, termasuk di Papua.
“Tentu lebih mudah dari VSAT konvensional lainnya, kalau Starlink kita letakkan dia nyari sendiri. Kelebihan-kelebihan Starlink lebih simpel, kalau VSAT konvensional lainnya kita harus siapkan piringan, antena, starlink kan tidak,” kata Jeri kepada Jubi di Kota Jayapura, Selasa (28/5/2024).

Dari segi bentuk dan teknologi, kata Jeri, sangat simpel dan backbone menggunakan satelit orbit rendah atau low earth orbit. Satelit Starlink beroperasi di low earth orbit di bawah ketinggian 600 kilometer dan bertahan hingga 5 tahun.
Jeri mengatakan layanan internet Starlink bisa menjadi solusi digunakan di daerah-daerah yang secara geografis sulit karena sangat simpel dan mudah. Menurutnya VSAT Starlink berbeda dengan VSAT konvensional lainnya karena layanan VSAT lainnya membutuhkan kerja ekstra dari teknisi untuk pointing.
“Kita berharap VSAT Starlink bisa menjadi salah satu alternatif. Tapi kan kita belum tahu VSAT Starlink ini ke depannya, kita baru pakai ini. Nah, dari segi bentuk, teknologi sangat simpel. Backbone menggunakan satelit low orbit atau sangat rendah memungkinkan cepat untuk bermanuver. Beda dengan layanan VSAT stasiun geosioner yang sangat jauh sekali dan luas,” ujarnya.
Menurutnya bandwidth atau kecepatan internet VSAT Starlink sangat bagus dan kencang. Pihaknya sudah memakai layanan Starlink sejak Mei 2024 yang dipesan dari Jakarta dengan harga sekitar Rp40 juta.

Harga perangkat keras Starlink di situs https://www.starlink.com/id/residential berkisar Rp4.680.000 hingga termahal yang dipasang di kapal Rp43.721.590. Pelanggan juga dapat memilih paket layanan untuk keluarga berkisar Rp750.000 per bulan hingga tertinggi untuk prioritas mobile-5 TB Rp86,130 juta per bulan. Perangkat keras Starlink berukuran 575 mm x 511 mm atau 22,6 inci x 20,1 inci.
“Itu perangkat keras Starlink saja belum ada aksesoris lainnya. Seperti kita mau share kita butuh WiFi, dan mikrotik. Mikrotik Starlink itu tidak boleh diutak atik, tidak diizinkan. Kalau mau dipakai banyak orang kita harus tambah device mikrotik supaya digunakan. Tahun ini kita ada coba, kecepatnya cukup bagus. Yang kita coba harga paket layanan Rp730 ribu per bulan, bandwidth download itu 230 mbps,” katanya.
Jeri akan melakukan uji coba layanan internet Starlink di Kampung Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. “Barangnya sudah ada, kita sudah coba di kantor. Kita mau coba di Kampung Skouw yang belum terjangkau kabel optik Telkom,” ujarnya.
Jangan hanya sekedar proyek
Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi dalam keterangan pers pada (20/5/2024) meyakini kehadiran layanan internet satelit dapat menjadi alternatif solusi penyediaan akses internet terutama di daerah terpencil. Menurutnya, kondisi geografis Indonesia dengan lebih dari 17.500 pulau dan pegunungan menjadi tantangan tersendiri dalam penyediaan akses jaringan infrastruktur digital.
Starlink kini tersedia di 32 negara. Di Indonesia, layanan internet Stralink dari Space X telah mendapatkan izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, yakni izin layanan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dan Internet Service Provider (ISP). Uji coba layanan internet Starlink telah dilakukan di Bali pada 19 Mei 2024.
Akan tetapi, Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komunikasi Provinsi Papua Periode 2022-2027, Rizky Achmad S Kom MT mengingatkan agar layanan internet berbasis VSAT/satelit jangan hanya dijadikan proyek. Ia mengatakan hal ini menjadi persoalan besar yang sering terjadi di Papua.

“Infrastruktur TIK mesti dibikin, tapi jangan sekedar proyek, tapi berkelanjutan. Ini yang menjadi persoalan yang paling besar. Jangan barang dibeli terus tidak dipakai. Itu paling terjadi hanya sekedar memuaskan proyek, tapi pemanfaatan itu. Kalau tidak bayar langganan, kalau bangun internet tidak dimanfaat, kita beli alat itu percuma, itu kayak BTS,” kata Ketua Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer dan Manajemen (FIKOM) Universitas Sains dan Teknologi Jayapura tersebut.
Rizky mengatakan layanan internet VSAT/satelit seperti Starlink sangat dibutuhkan di Tanah Papua. Layanan internet VSAT seperti Starlink sangat memungkinkan digunakan bagi masyarakat di daerah-daerah dengan topografi seperti di Papua. Namua penggunaan internet perlu dibarengi dengan literasi internet digital bagi masyarakat.
“Internet di Papua ini sangat, sangat dibutuhkan, cuma kita di Papua topografi wilayahnya gunung. Makanya di pedalaman kampung yang bisa dijangkau, yah VSAT/satelit. Entah apanya namanya yang penting vsat atau satelit,” ujar Rizky kepada Jubi, Senin (27/5/2024).
Menurutnya dari segi harga layanan internet VSAT Starlink sangat murah. Selain itu dari sisi kecepatan upload dan download-nya luar biasa bagus dan tidak terlalu ribet saat pemasangan. Kelebihan VSAT Starlink dengan VSAT konvensional lainnya tidak direpotkan dengan pointing saat pemasangan.
“Stralink itu kan layanan internet berbasis satelit atau vsat. Dari sisi harga sangat murah dengan layanan internet VSAT. Dulu internet VSAT digunakan biayanya tinggi sekali, kecepatan terbatas. Semua terbatas, VSAT konvensional lainnya maka pointing menjadi sesuatu yang luar biasa,” katanya.
Rizky juga mengatakan layanan internet Starlink perlu membangun server di Indonesia. “Server itu harus ada di Indonesia, tapi apakah itu kita sudah siap dengan segala macam. Apakah pangsa pasar Indonesia siap, regulasinya seperti apa? Itu pasti pertimbangan dari Starlink,” ujarnya.
Sangat membantu
Warga Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan David Sobolim mengaku layanan internet Starlink sangat membantu. Menurutnya kecepatan internet Starlink sangat bagus dan tidak membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengirim atau mengunduh file.
“Bandingan dengan sebelum ada Starlink dua sampai lima jam untuk mengirim atau mendownload file dan aplikasi,” ujarnya.
Layanan internet Starlink di Kabupaten Yahukimo, kata Sobolim, diperkenalkan seorang dokter umum yang bekerja di RSUD Dekai Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Ia lalu tertarik dan membeli ke Amerika Serikat dengan harga Rp20 juta pada 2023. Ia membayar paket tanpa batas untuk pribadi Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan dan untuk kantor Rp1,7 juta per bulan.

“Kalau [Starlink] dipakai di Yahukimo pada 2023. Tapi kami di kantor [Bawaslu Yahukimo mulai pakai] pada 10 Februari 2024,” katanya.
Sebelum ada Starlink, kata Sobolim, masyarakat menggunakan jaringan internet Ubiqu maupun TPNet.com dengan harga voucher Rp20.000 per jam dan Rp50.000 per tiga jam. Padahal pemerintah daerah sudah banyak membangun tower untuk jaringan, namun tidak difungsikan dengan baik.
Sobolim mengatakan pemda sudah berusaha mengizinkan penyedia jaringan internet untuk membangun BTS, namun BTS-BTS tersebut tidak berlaku dan hanya menjadi bangunan perusak pemandangan kota.
“Di Kabupaten Yahukimo sendiri rata-rata penyedia voucher WiFi menjual dengan harga 1 jam Rp20.000 dan 3 jam Rp50.000. Itupun yang bisa menggunakan pasti orang tertentu yang punya uang,” ujar Sobolim kepada Jubi pada Sabtu (25/5/2024).
Ia berharap kehadiran jaringan internet Starlink membawa dampak perubahan, karena masyarakat tidak harus ketinggalan informasi. Ia juga memanfaatkan jaringan internet untuk mengikuti kuliah online dan menjual produk lokal ke dunia luar.
“Saya sangat mendukung dan berharap Pemda menyediakan layanan internet Starlink bagi masyarakat, khusus di Papua Pegunungan, karena Telkomsel merugikan kami masyarakat. Saya sebagai pengguna kartu Simpati layanan untuk jaringan internet tidak baik sekali dan menjadi korban karena beli kuota tetapi saya tidak menggunakan, internet habis sendiri. Dan kami mau mengklaim tetapi kantor Telkomsel di Yahukimo tidak ada,” katanya. (*)





















Discussion about this post