Jayapura, Jubi – Indeks minat baca masih rendah akibat pengaruh perpustakaan (konvensional) yang sistem pengelolaanya belum dimaksimalkan, sehingga belum menjadi skala prioritas di masyarakat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah
Kota Jayapura, Provinsi Papua Septinus Ireeuw, mengatakan untuk menumbuhkan minat baca maka perpustakaan digital harus dimaksimalkan.
“Mulai dari anak-anak usia dini sudah harus dipacu minat bacanya sehingga menjadi kebiasaan saat dewasa,” ujar Ireeuw di Jayapura, Rabu (1/6/2022).
Dikatakan Ireeuw, hingga Agustus 2021 baru menginput sebanyak 700 judul buku dengan kategori bahasa dan sastra, buku anak, buku sekolah, business popular, cooking, desain, fiksi, keluarga, komputer, motivasi, outdoor, teks ekonomi, dan teks nonekonomi.
“Penginputan buku dimulai dari 2019 sebanyak 500 judul buku. Tahun 2020 kami tidak melakukan penginputan, karena terkendala anggaran. Kami ada 9.300 eksemplar dan 3.471 judul buku,” ujar Ireeuw.
Menurut Ireeuw, dengan memaksimalkan
perpustakaan digital dapat menumbuhkan sumber daya manusia, gemar membaca, dan menulis.
“Sarana penunjang seperti perpustakaan digital sangat penting, sebagai penyedia layanan informasi secara digital sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman,” ujar Ireeuw.
Kata Ireeuw, penyebab rendahnya budaya baca terutama datang ke perpustakaan karena internet dan media sosial yang cukup tinggi, sehingga memengaruhi warga untuk membaca buku.
“Mengakses perpustakaan digital, warga harus melakukan registrasi atau mendaftar di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Jayapura,” ujar Ireeuw.
Ireeuw berharap, mendapat dukungan anggaran yang memadai untuk mengembangkan perpustakaan digital, sehingga dapat diakses masyarakat tanpa ada kendala dan hambatan.
“Harapan saya, dengan hadirnya perpustakaan digital ini dapat menumbuhkan minat baca dan menulis di kalangan masyarakat baik siswa SD, SMP, SMA, hingga kalangan mahasiswa,” ujar Ireeuw. (*)
Discussion about this post