Nabire, Jubi – Lagu Tanah Papua sangat melegenda bahkan tersohor hingga ke mancanegara. Nadanya indah dan liriknya pun sarat makna. Itu berkat tangan dingin seorang Yance Rumbino.
Menurut anggota Majelis Rakyat Papua Tengah Benny Wenior Pakage, lagu tersebut mengajarkan para generasi muda untuk benar-benar mencintai Tanah Papua. Mereka bisa memaknai betapa indahnya alam di Tanah Papua.
“Lagu itu mengajak [Orang Papua] berbangga dengan semua yang Allah berikan bagi Tanah Papua. Saya harap generasi muda Papua tetap cinta dan setia kepada Tanah Papua,” kata Pakage, Kamis (30/5/2024).
Lagu Tanah Papua merupakan sebuah mahakarya dari Yance Rumbino. Sang pecinta lagu tersebut tutup usia pada Kamis dini hari karena sakit.
Pakage mengagumi lagu yang diciptakan Rumbino pada 1979 itu. Menurutnya, karya tersebut akan terus dikenang sepanjang masa di Tanah Papua.
“Lagu Tanah Papua telah mengabadikan namamu [Rumbino] di sepanjang masa. Karyamu akan mengiringimu ke jalan-Nya. Semoga [Rumbino] tenang bersama para orang Kudus di Firdaus,” kata Pakage sebagai ungkapan belasungkawa atas kepulangan Rumbino.
Yance Rumbino lahir di Sorong pada 22 Juni 1953. Mendiang karib disapa Yero.
Markus Rumbino, kerabat mendiang mengatakan Yero mengasah bakat seninya sejak di bangku Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Betlehem Biak. Dia bahkan sudah mengenal not balok saat masih di kelas III SD.
“Sekolah tersebut menekankan pendidikan seni [bagi para siswa]. Seluruh mata pelajaran diakhiri dengan menyanyi. Tak heran, YPK identik dengan sekolah menyanyi,” kata Markus.
Menurut Markus, Yero sangat mencintai, dan memandang penting kesenian karena memengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Kesenian, terutama seni musik di mata Yero juga merupakan ungkapan syukur manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Musik bagi beliau, tidak hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk Sang Pencipta. Pada akhirnya, [penciptaan karya musik tersebut] menjadi kebahagiaan bagi diri sendiri [penikmat maupun penciptanya],” ujar Markus.

Pengabdian seorang guru
Yero menamatkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) YPK Biak pada 1975. Dia pertama kali berdinas sebagai guru di SD Negeri Sinak, Kabupaten Puncak, yang saat itu masih menjadi wilayah Kabupaten Paniai.
Kabupaten Puncak berada di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Ketinggian daerahnya sekitar 8.000 meter di atas permukaan laut.
Profesi guru tidak membuat Yero meninggalkan dunia musik. Kedua aktivitas tersebut justru dijalaninya dengan seiring dan sejalan. Kemampuan bermusik Yero bahkan kian berkembang setelah menjadi guru.
Yero, di antaranya pernah membentuk kelompok musik Paniai Group pada era 1990, saat dia telah menjadi pendidik. Lagu Tanah Papua bahkan diciptakannya saat masih menjadi guru di Pegunungan Tengah Papua.
Yero termasuk tokoh perintis pendidikan di Kabupaten Puncak. Dia menghadapi tantangan berat selama tiga tahun berdinas di Sinak.
Yero bertahan hidup tanpa mengonsumsi nasi, apalagi memiliki kendaraan, dan uang selama di Sinak. Dia juga harus menghadapi siswa yang seluruhnya tidak bisa berbahasa Indonesia.
“Sebagai guru perintis, Yero harus berhadapan dengan situasi mengajar yang sulit di Sinak. Dia kemudian menggunakan kemampuan seninya supaya siswa tertarik belajar. Tantangan itu akhirnya dapat diatasi lewat [dengan mengajak siswa] bernyanyi,” kata Markus Rumbino.
Yero dipindahtugaskan dari Sinak setelah menjadi Kepala SD Negeri Inpres Siriwini di Kabupaten Nabire pada 1978. Dia juga pernah berdinas di Kabupaten Puncak Jaya.
“Saat bertugas di Puncak Jaya, beliau harus berjalan kaki sejauh 21 kilometer dengan melewati gunung, lembah, dan sungai. Dari situlah, muncul inspirasinya untuk menciptakan lagu Tanah Papua,” kata Markus.
Alumnus SMA YPK Tabernakel Nabire Fredi Degei mengatakan Yero juga pernah mengampu mata pelajaran kesenian di sekolah mereka. Mendiang bahkan merangkul sejumlah siswa dalam pembuatan album rekaman lagu.
“Beliau [mendiang Yero] menguasai not balok. Beliau juga sangat menjiwai saat mengajar kesenian [musik]. Kami sangat kehilangan seorang guru terbaik,” kata Degei. (*)





















Discussion about this post