Jayapura, Jubi – Suku Kamoro yang mendiami dataran rendah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, dikenal dengan istilah 3S, yaitu sungai, sagu, dan sampan.
“Ya, mereka itu sangat dikenal dengan istilah 3S yaitu Sungai, Sagu, dan Sampan dalam kehidupan mereka sejak dulu,” kata antropolog Dr. JR Mansoben, pakar antropologi yang meneliti sistem politik tradisional di Papua, saat dikontak oleh Jubi, Sabtu (15/2/2025).
Mansoben menjelaskan bahwa dalam kepercayaan suku Kamoro, totem merupakan makhluk hidup atau benda tertentu yang dianggap suci oleh kelompok sosial tertentu.
Mitos dalam kehidupan masyarakat juga memiliki peran penting sebagai pedoman dan arah dalam kehidupan mereka.
“Mitos menjadi pegangan penting dalam kehidupan dan arah masa depan manusia, termasuk bagaimana cara manusia menunjukkan rasa hormat terhadap leluhur. Bahkan seekor binatang pun dapat menghadirkan sakralitas kehidupan,” ujarnya.
Sementara itu, Iriani Doddy Aditya Iskandar, ST., MCP., Ph.D dalam disertasinya yang berjudul Budaya Taparu sebagai Dasar Pengelolaan Sumberdaya Pesisir oleh Masyarakat Adat Kamoro di Kampung Pigapu, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, menyebutkan bahwa Kabupaten Mimika memiliki tutupan mangrove terbesar di Papua dengan keanekaragaman hayati tinggi. Namun, ekosistem ini semakin terancam akibat pencemaran lingkungan.
Hasil penelitian Iriani menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya pesisir oleh masyarakat adat Kamoro didasarkan pada budaya taparu, yang memiliki dua sistem makna, yakni sistem sosial berbasis adat dan sistem tanah hunian berbasis pengelolaan sumber daya.
Dalam praktiknya, masyarakat Kamoro hidup dengan naik sampan, mengitari dusun sagu, serta mencari ikan, kepiting, dan tambelo di sekitar pohon bakau yang kering.
Selama menjalani kehidupan berbasis budaya taparu, masyarakat Kamoro kerap berinteraksi dengan berbagai flora dan fauna, termasuk buaya muara yang dikenal sebagai predator.
Tokoh masyarakat Kamoro, Marianus Maknaipeku, menyatakan bahwa keberadaan buaya di wilayah Pomako dan Sungai Amar sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kamoro.
“Buaya itu sebenarnya kita yang tinggal di situ melihatnya bukan sebagai buaya ganas. Dia bukan buaya yang ganas dan bikin susah orang,” kata Marianus, sebagaimana dilansir dari Seputar Papua pada 18 Februari 2022.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan buaya di sekitar Pelabuhan Pomako, sangat terkait dengan bau ikan yang menarik mereka untuk mencari makanan.
Ia juga menambahkan bahwa dalam kepercayaan suku Kamoro, terdapat dua jenis buaya, yaitu buaya laut dan buaya penunggu.
“Buaya penunggu itu, kalau malam dia bersahabat dengan manusia, dan kalau ada masalah, dia bisa memberi tanda atau peringatan,” ujarnya.
Menurutnya, buaya tidak akan menerkam sembarangan kecuali ada alasan tertentu, seperti konflik antarkampung atau permasalahan dalam hubungan antarindividu.
Hellen Kurniati, peneliti utama di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini menjadi bagian dari BRIN, menyatakan bahwa buaya dapat memangsa manusia jika kehilangan pakan alaminya.
“Ketika wilayah yang ditinggali buaya mengalami penurunan jumlah makanan, maka buaya akan mencari wilayah baru yang mampu menjamin keberlangsungan hidup mereka,” kata Hellen, sebagaimana dilansir dari National Geographic Indonesia.
Menurutnya, buaya merupakan predator yang menargetkan hewan dengan ukuran lebih kecil dari mereka, seperti ikan, burung, reptil, dan mamalia kecil. Aligator, di sisi lain, lebih cenderung memangsa mamalia besar. Buaya muara maupun aligator hanya menyerang ketika ada objek yang bergerak di sekitarnya.
Pembangunan yang mengalihfungsikan habitat buaya juga berdampak pada sumber makanan mereka, sehingga meningkatkan kemungkinan interaksi langsung antara buaya dan manusia.

Kasus Serangan Buaya di Mimika
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika, terdapat 74 sungai di wilayah ini, sehingga dijuluki “Negeri di atas Sungai.” Beberapa kasus serangan buaya yang terjadi di Mimika antara lain:
1. 4 April 2020 – Letimina Hariatu, seorang ibu rumah tangga, hilang saat mencari kepiting dan kerang di Pelabuhan Amamapare. Ia diduga diterkam buaya.
2. 20 Januari 2022 – Damianus Yauta (30), warga Kampung Tipuka, hilang setelah diterkam buaya di Sungai Ayuka saat mencari ikan dan kepiting.
3. 30 Oktober 2022 – Darwis La Daima (27) hilang di Sungai Amar dan ditemukan pada 15 Januari 2023 oleh Tim Siaga SAR Timika.
15 November 2023 – Marlina Onawame (19) dilaporkan hilang saat memancing di Kali Pece Lama, Distrik Jita.
4. 20 Januari 2022 – Seorang warga Kampung Ayuka ditemukan tewas di Sungai Ayuka setelah diterkam buaya sepanjang tujuh meter.
Keberadaan Buaya di Tanah Papua
Menurut Prof. Dr. Ronald G. Petocz, peneliti konservasi di Papua, terdapat dua jenis buaya di wilayah ini, yaitu buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya New Guinea (Crocodylus novaeguineae). Buaya New Guinea banyak ditemukan di Sungai Mamberamo, sementara buaya muara lebih umum di wilayah Mimika, Asmat, dan Merauke.
Sebagai bagian dari budaya mereka, beberapa klen dalam suku Kamoro menganggap buaya sebagai totem dan tidak diperbolehkan mengkonsumsi dagingnya. Bahkan, ada marga tertentu yang dianggap sebagai “tuan” dari buaya atau ikan besar tertentu.
Marianus Maknaipeku menyayangkan tindakan sejumlah masyarakat yang menangkap dan menembak buaya tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.
“Buaya bisa menerkam manusia karena kehilangan pakan alaminya,” katanya.
Dengan meningkatnya pembangunan dan eksploitasi sumber daya di Kabupaten Mimika, keseimbangan ekosistem perlu diperhatikan agar keberadaan buaya dan kehidupan masyarakat tetap terjaga. (*)





















Discussion about this post