• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Buaya muara di Papua bisa memangsa manusia

February 8, 2025
in Lingkungan
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Timoteus Marten
Buaya irian (Crocodylus novaeguineae). Buaya jenis ini banyak terdapat di Sungai Mamberamo, Provinsi Papua. - Wikipedia

Buaya irian (Crocodylus novaeguineae). Buaya jenis ini banyak terdapat di Sungai Mamberamo, Provinsi Papua. - Wikipedia

0
SHARES
53
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Sungai-sungai di Papua terkenal dengan buaya muaranya. Mulai dari selatan sampai Papua Tengah, dari Sungai Mamberamo sampai di Sungai Digoel, dan muara sungai di pelabuhan Amamapare di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Wilayah Papua Selatan dan Papua Tengah ini sangat terkenal karena memiliki buaya muara.

Peneliti Konservasi di Irian Jaya Prof Dr Ronald G Petocz mengatakan, ada dua jenis buaya di Tanah Papua, antara lain, buaya pantai atau buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya New Guinea atau Crocodylus novaeguineae. Khusus untuk buaya New Guinea banyak terdapat di Sungai Mamberamo, Provinsi Papua.

Program penangkaran buaya milik CV Bintang Mas di Kota Jayapura era 2020, terutama sesudah tidak beroperasi lagi. Waktu itu CV Bintang Mas menangkar buaya, yang bibitnya berasal dari daerah hulu sungai Membramo, Merauke, Pulau Dolok, Distrik Kimaam Merauke, dan Tembuni di Kabupaten Teluk Bintuni.

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

Prof. Dr. Dedi Soedharma, DEA, Ketua Pengawas dan Praktisi Konservasi The Indonesia Wildlife Conservation Foundation/IWF dikutip dari Agroindonesia.co.id dalam artikel berjudul “Memacu Kegiatan Penangkaran Buaya di Indonesia” menyebutkan, terdapat lima jenis buaya yang hidup di perairan Indonesia, antara lain: buaya muara (Crocodylus porosus), buaya siam (C. siamensis), buaya rawa (C. palustris), buaya Irian (C. novaeguineae) serta buaya senyulong/buaya julung atau buaya supit (Tomistoma schlegelii).

“Jenis buaya muara hampir dapat ditemukan di seluruh perairan sungai, rawa, danau, bahkan sampai ke muara yang airnya payau, sedangkan buaya siam dan buaya rawa yang hidupnya hanya di perairan tawar saat ini sudah tidak pernah lagi ditemukan di habitat aslinya mungkin diduga sudah punah, sedangkan buaya irian hanya ditemukan di perairan tawar di Papua dan buaya julung sebagai satwa endemik hanya ditemukan di perairan tawar Sumatera dan Kalimantan,” tulis Prof. Dr. Dedi Soedharma, DEA.

Sementara itu peneliti buaya jurusan Biologi Reptil dari University of Missouri Amerika Serikat, Scott Frazier–mantan peneliti dari FAO yang pernah meneliti buaya di Mamberamo dan Kaimana–mengatakan, sebagaimana binatang reptil lainnya seperti ular, penyu, kura-kura jenis buaya juga berkembang biak dengan bertelur.

BERITATERKAIT

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

TIME FOR PAPUA — Wereldmuseum Leiden opens First Major exhibition from The Worls’s largest Papua collection in sixty years

Velix Wanggai : Perlu Desain Ulang Peran Freeport untuk Tanah Papua

Tim riset Papua temui tokoh Patani, keinginan merdeka terungkap

“Telur diletakan di sarang yang telah dibuat dari serasah atau daun-daun kering, kemudian dicampur dengan lumpur. Letak sarang telur tersebut umumnya berada di pinggiran sungai atau pada gosong-gosong tanah kering yang terdapat di pinggiran danau atau rawa. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan telur-telur tersebut menetas, induknya yang akan selalu menjaga dan menunggu di sekitar sarang membawa anak-anak buaya yang baru lahir (baby crocodile) ke tempat yang berair,” kata Frazier seraya menambahkan, bahwa anak-anak buaya terkadang tak terselamatkan dan perlu dilindungi dengan menjaga mereka sampai menetas menjadi anak anak buaya.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Apalagi, lanjut Frazier, anak-anak buaya setelah berada di dalam air sebagai habitatnya, secara naluri dapat mencari makan sendiri, dengan menangkap mangsanya seperti capung, belalang, kodok, ikan, dan binatang air lainnya.

Menurut Frazier, selama melakukan penelitian di Papua mereka lebih banyak menangkar dan menyelamatkan anak-anak buaya, sejak induknya bertelur di lokasi penangkaran di alam.

Dikatakan bahwa makanan buaya sangat tergantung dari tingkatan usianya dan ukuran tubuhnya. Makanan buaya yang lebih dari satu meter panjangnya sudah bisa menangkap kura-kura, tikus, musang atau ikan yang berukuran besar, sedangkan bagi yang telah dewasa dengan panjang badan di atas tiga meter dapat menangkap babi hutan, rusa, bahkan bisa juga menyerang manusia.

Tantangan selanjutnya ketika habitat dan ekosistem berubah fungsi, maka sangat berpengaruh terhadap sumber makanan mereka, sehingga manusia juga bisa menjadi ancaman ke depan.

Mengapa buaya menyerang manusia?

Buaya bisa bertahan hidup di lingkungan sekitarnya sangat tergantung dari makanannya yang cukup bervariasi dan beragam. Insiden buaya menerkam manusia di Papua belum banyak dicatat.

Buaya muara suka hidup di sungai yang airnya tenang dan terdapat cadangan makanannya yang tersedia di alam bebas.

Buaya-buaya muara selalu menyerang dalam senyap dan sekejap, karena kecepatan menerkam sangat cepat dari jarak dekat.

Pada 10 Mei 2018, tercatat warga Distrik Sidey di Kabupaten Manokwari, Papua Barat diterkam buaya di muara pantai Sidey.

Pakar reptile dari UNIPA Manokwari, Dr. Kleopas Krey kepada wartawan di Manokwari mengatakan, kemungkinan saat korban menyeberang di muara, buaya telah mengintainya sehingga langsung menyergap korban.

Menurut dia, di wilayah Sidey terdapat banyak sungai sehingga jenis buaya yang menyerang manusia itu jenis Crocodylus porosus. Demikian dikutip dari Orideknews.com.

Krey mengaku bahwa di Papua Barat maupun seluruh tanah Papua, terdapat dua jenis buaya, yaitu, buaya muara (Crocodylus porosus) dan Crocodylus novaeguineae.

Pendapat Krey ini sama dengan peneliti Prof. Dr. Ronald G. Petocz dalam bukunya berjudul “Konservasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya”.

Masalahnya, lanjut Krey, kalau di lokasi buaya, sumber makanannya mulai berkurang, terutama hewan dan buruan besarnya sudah tidak ada lagi. Maka incaran lainnya adalah manusia, yang dekat dengan habitatnya di sungai.

Ia menambahkan buaya muara pasti telah mengintai dan begitu manusia mendekat langsung disergap.

warga solomon bunuh buaya muara
Buaya muara yang dibunuh warga Kepulauan Solomon- Jubi/rnz.com

Dikatakan buaya muara sangatlah agresif, mempunyai rahang yang sangat kuat, dan gigi yang tajam, sehingga sekali mencengkeram korban tentunya sangat sulit untuk dilepas.

Kasus manusia hilang diterkam buaya pernah pula terjadi di Kabupaten Mimika di Pelabuhan Amamapare pada 4 April 2020, seperti dikutip dari Antara.

Seorang ibu rumah tangga bernama Letimina Hariatu hilang dan warga bersama tim SAR mencarinya. Korban diterkam saat mencari kepiting dan kerang di sekitar wilayah pelabuhan Amamapare.

Jenazah korban tak ditemukan, tetapi keluarga korban mengaku ibu mereka hilang saat diterkam buaya.

Kasus manusia diterkam buaya juga terjadi di Kabupaten Mimika pada 20 Januari 2022 sebagaimana dilansir Antara.

Seekor buaya sepanjang tujuh meter menerkam seorang warga bernama Damianus Yauta (30), warga Kampung Tipuka yang dilaporkan hilang sejak Kamis (20/1/2022) petang. Ia diterkam buaya saat mencari ikan dan kepiting di sekitar sungai Ayuka di Kampung Ayuka, Mimika.

Selanjutnya juga di Kabupaten Mimika, seorang perempuan yang sedang hamil Marlina Onawame (19) dimangsa buaya saat sedang menemani suaminya memancing di Kali Pece Lama, Distrik Jita, Mimika, Papua Tengah.

Dikutip dari Seputarpapua.com pada Rabu (15/11/2023) dari Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Mimika dilaporkan ada korban bernama Marlina. Dilaporkan hilang sejak Senin 13 November 2023 siang.

Menurut keterangan suami korban, saat itu mereka sedang memancing ikan di kali Pece Lama. Namun dikarenakan kondisi cuaca yang panas, korban meminta izin suaminya untuk berenang.

Selang beberapa jam, korban tidak terlihat. Masyarakat pun mencari dan telah menangkap buaya tersebut dan membelah perutnya, hingga ditemukan beberapa potongan tubuh korban.

Kasus korban buaya lainya juga ditemukan di Kabupaten Mimika pada Mei 2022. Saat itu korban bernama Damianus Yauta, seorang pencari kepiting bakau asal Kampung Tipuka dinyatakan hilang saat hendak membersihkan kepiting bakau yang didapatnya di Sungai Ayuka, tepatnya sekitar satu kilometer dari jembatan pertama menuju kargo dok Pelabuhan Amamapare.

Setelah buaya raksasa itu mati terbunuh, tubuh korban kemudian dikeluarkan dan langsung dievakuasi oleh Tim SAR gabungan menuju rumah kerabatnya di Kampung Ayuka.

Di wilayah pesisir Mimika, Provinsi Papua Tengah banyak terdapat sungai besar dan lebar yang ditumbuhi pepohonan bakau lebat, yang dianggap cocok sebagai habitat buaya.

Sementara itu, menurut The Crocodile Foundation yang dikutip dari www.channelnewsasia.com menyebutkan bahwa Indonesia mengalami lebih banyak serangan buaya terhadap manusia setiap tahunnya, dibandingkan negara lain di dunia.

The Crocodile Foundation, sebuah lembaga nirlaba berbasis di Amerika Serikat yang bergerak di bidang perlindungan dan pelestarian buaya, ordo reptil yang juga mencakup aligator, caiman, dan gharial melaporkan bahwa lebih dari 1.000 serangan telah terjadi di Indonesia dalam 10 tahun hingga 2023, yang menyebabkan 486 kematian, menurut Croc Attack, basis data di seluruh dunia.

Terlepas dari pro dan kontra, biasanya manusia tidak menjadi makanan buaya. Namun demi bertahan hidup di muara sungai yang krisis sumber makanan, hewan reptil di muara sungai tidak punya pilihan selain mencari makanan. Jadi, mereka mulai menyerang manusia.

Terkadang, mereka menyerang sebagai bentuk perlawanan, bukan untuk berburu makanan. (*)

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Continue Reading
Tags: Buayabuaya muaraPapua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Tanah Papua

Gereja mesti tegas terhadap krisis tanah dan lingkungan di Tanah Papua

March 7, 2026
Masyarakat ada

Kain dan cat merah, upaya masyarakat adat Papua jaga paru-paru dunia

March 6, 2026
wilayah laut adat

Dorongan pengakuan wilayah laut adat dan revisi UU Pemda

March 5, 2026

Potensi laut di Tanah Papua luas, tapi sepi peminat

March 4, 2026

Masyarakat Adat Suku Afsya tanam patok di Hutan Bariat, tolak PT ASI

February 28, 2026

Tanah Papua di antara oligarki, ilusi hijau, investasi, dan kehancuran ekologis

February 27, 2026

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara