Serui, Jubi – Serui Kota menjadi daerah dengan kasus malaria tertinggi di Kepulauan Yapen. Berdasarkan laporan Puskesmas Serui Kota kepada Dinas Kesehatan Kepulauan Yapen, terdapat 5.238 kasus malaria di kelurahan tersebut selama Januari hingga September 2024.
Penanggung Jawab Penangulangan Malaria Dinas Kesehatan Kepulauan Yapen Selfiana M Kandenapa mengatakan posisi Serui Kota disusul Kampung Warari dengan 3.164 kasus. Kemudian, Kampung Ansus dengan 1.242 kasus, Kampung Reradumpi dengan 1.222 kasus, dan Kampung Tindaret dengan 624 kasus, serta Kampung Woi dengan 517 kasus.
“Pemeriksaan [sampel darah pasien] menggunakan mikroskop. Jika hasilnya positif [menyatakan] malaria, pasien langsung mendapat pengobatan,” kata Kandenapa, seusai Pelatihan Kader Penanggulangan Malaria Kepulauan Yapen, Kamis (3/10/2024).
Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen dalam menanggulangi penularan malaria. Upaya itu, di antaranya pembagian kelambu gratis, penyemprotan disinfektan, dan kampanye pemberantasan sarang nyamuk.
“Kami juga menggunakan larvasida untuk membasmi jentik dan melakukan pengasapan di lingkungan permukiman warga. Pengasapan dibiayai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan pada puskesmas setempat,” kata Kandenapa.
Kepala Program Sub Sub Recipient Paroki Bunda Maria Serui Antonius Kareba mengatakan banyak warga masih belum memahami risiko penularan malaria di Kepulauan Yapen. Mereka sering kali beraktivitas tanpa menghiraukan ancaman gigitan nyamuk anopheles, penular malaria.
“Nyamuk anopheles sering menggigit tubuh manusia pada pukul 18:00–06:00. Informasi [pengetahuan] tersebut masih belum banyak diketahui masyarakat di Kepulauan Yapen,” kata Kareba.
Dia menyarankan warga setempat mengurangi aktivitas di luar rumah pada malam hari. Jika pun harus beraktivitas, mereka sebaiknya berpakaian tertutup, dan menggunakan losion antinyamuk.
“Masyarakat juga masih banyak yang tidak menggunakan kelambu [sewaktu tidur] dengan alasan gerah dan membuat gatal saat bersentuhan dengan badan. Itu kenapa penularan malaria tidak pernah berakhir [di Kepulauan Yapen],” kata Kareba. (*)























Discussion about this post