Jayapura, Jubi – Komunitas Papua Peduli ASI (PAPEDA) menggelar kegiatan sosialisasi serta edukasi kesehatan mama dan anak kepada warga Kampung Pyawi, Distrik Mannem, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, Sabtu (31/10/2026).
Melalui edukasi ini PAPEDA mengajak keluarga berbagi tanggung jawab dalam pengasuhan anak, mendukung pemberian ASI sejak awal kehidupan, dan memanfaatkan pangan lokal untuk kesehatan keluarga.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya PAPEDA menjangkau masyarakat asli di wilayah Keerom melalui edukasi tentang pentingnya menyusui, dukungan keluarga bagi mama setelah melahirkan, serta pemanfaatan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“Pemilihan Kampung Pyawi sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada rekomendasi Ibu Ross Muyasin, Ketua Ikatan Perempuan asal Keerom,” tulis PAPEDA dalam pesan elektroniknya, Minggu (1/11/2026).
Melalui kegiatan ini, PAPEDA berupaya menghadirkan edukasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan mama dan bapa dalam mendukung kesehatan serta tumbuh kembang anak.
Ema Kristiana yang membawakan materi sesi pertama bertajuk “Anak Papua Harus Cerdas dan Sehat” menekankan bahwa merawat dan membesarkan anak bukan hanya tanggung jawab mama, melainkan tanggung jawab bersama kedua orang tua.
“Ketika bikinnya berdua, maka urusnya berdua,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Ema.
Pesan ini mengajak para bapa untuk terlibat aktif dalam pengasuhan anak dan mendampingi mama sejak setelah melahirkan hingga menjalani proses menyusui.
Katanya, dukungan keluarga dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti membantu pekerjaan rumah, ikut menjaga dan merawat anak, serta mendengarkan istri tanpa menghakimi ketika ia menyampaikan keluhan atau mengalami kesulitan.
Menurutnya, keterlibatan tersebut penting agar mama merasa didukung secara fisik dan emosional, terutama selama masa pemulihan setelah melahirkan dan ketika menjalani proses menyusui.
Dalam materinya, Ema juga menyampaikan pentingnya pemberian ASI sejak awal kehidupan bayi, termasuk kolostrum atau ASI pertama yang dihasilkan setelah persalinan.

Ia menjelaskan, kolostrum umumnya berwarna kekuningan dan mengandung antibodi serta berbagai komponen pelindung yang membantu bayi menghadapi risiko infeksi.
Karena manfaat perlindungan awal tersebut, kolostrum sering disebut sebagai imunisasi pertama bayi. Istilah ini menggambarkan peran kolostrum dalam memberikan perlindungan awal dan tidak berarti menggantikan imunisasi melalui vaksin sesuai jadwal.
“Kolostrum sebaiknya tidak dibuang karena sangat bermanfaat bagi bayi. Pemberian ASI sejak awal kehidupan merupakan salah satu hadiah terindah yang dapat diberikan kepada bayi ketika baru dilahirkan,” ucapnya.
Karena itu kata Emma, mama perlu mendapatkan dukungan agar dapat mulai menyusui sesegera mungkin setelah persalinan, sesuai kondisi mama dan bayi, serta memperoleh bantuan apabila mengalami kesulitan menyusui.
Ia menegaskan, dukungan keluarga menjadi bagian penting agar mama tidak menghadapi proses tersebut seorang diri.
Sanya Andalusiana yang menjadi pemateri pada sesi kedua membawakan materi “Makan Bergizi, dari Pangan Lokal Keluarga Sehat”.
Dalam sesi ini, peserta diajak mengenali potensi pangan lokal, seperti papeda, ikan, dan berbagai jenis umbi-umbian, sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.
Edukasi ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkan bahan pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mengolahnya menjadi makanan yang beragam.
Pemanfaatan pangan lokal dinilai dapat menjadi salah satu upaya mendukung pemenuhan gizi keluarga, termasuk bagi mama yang sedang menyusui.
Kegiatan berlangsung melalui penyampaian materi dan diskusi bersama masyarakat. Mama dan bapa yang hadir menunjukkan antusiasme dengan mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman.
Diskusi ini menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman bahwa kesehatan mama dan anak membutuhkan perhatian serta keterlibatan seluruh keluarga.
Sebanyak 75 peserta tercatat dalam daftar hadir. Selain peserta yang terdaftar, anggota keluarga dan masyarakat lainnya turut mengikuti kegiatan tanpa mengisi daftar hadir.
Jumlah keseluruhan orang yang berada di lokasi diperkirakan sekitar 100 orang atau lebih, tetapi angka tersebut belum terverifikasi melalui pendataan peserta.
Melalui kegiatan di Kampung Pyawi, PAPEDA berharap semakin banyak keluarga memahami bahwa keberhasilan menyusui bukan hanya tanggung jawab mama.
Keterlibatan bapa, pembagian tanggung jawab pengasuhan, dukungan emosional, serta perhatian terhadap kebutuhan gizi keluarga merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mama dan tumbuh kembang anak.
PAPEDA berencana melanjutkan edukasi serupa ke kampung-kampung lain di Papua. Lokasi kegiatan berikutnya masih dalam tahap perencanaan.
Melalui semangat “ASI Bisa, Ko Bisa, Papua Bisa!”, PAPEDA mengajak keluarga dan masyarakat untuk bersama-sama mendukung mama menyusui, melindungi hak anak mendapatkan ASI, serta membangun generasi Papua yang sehat.
Papua Peduli ASI (PAPEDA) merupakan komunitas relawan yang bergerak dalam edukasi dan dukungan menyusui bagi masyarakat di Papua.
PAPEDA berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya ASI, dukungan keluarga, kesehatan mama dan anak, serta pemanfaatan pangan lokal untuk mendukung keluarga yang lebih sehat dengan tagline: ASI Bisa, Ko Bisa, Papua Bisa! (*)





















