Jayapura, Jubi – Sejak 28 November 2024, aparat keamanan non-organik serta personel gabungan melakukan penyisiran di Distrik Oksop. Fokus penyisiran dilakukan di Kampung Mimin dan Alutbakon, Distrik Oksop, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.
Hal itu disampaikan Kepala Distrik Oksop, Kabupaten Pegunungan Bintang, Yohanes Sasaka. Dampak dari penyisiran tersebut, warga sipil di kedua kampung terpaksa memilih mengungsi ke hutan, bahkan turut membawa balita, anak-anak, lansia, perempuan, dan ibu hamil. Hingga 4 Desember 2024 malam sekitar 300-an personel TNI/Polri, dikabarkan masuk ke wilayah Distrik Oksop.
“Ketika kami komunikasi dengan komandan pasukan [gabungan] itu katanya mereka mencari tiga orang anggota atau pimpinan TPNPB OPM yang menjadi sasaran untuk ditangkap, serta ada tujuh anggota TPNPB OPM [lainnya] juga. Jadi tujuan mereka mau menangkap dan menumpas TPNPB yang ada di wilayah Pegunungan Bintang,” katanya, melalui telepon seluler yang diterima Jubi dari Kota Jayapura, Papua, Jumat (13/12/2024).
Ia menyampaikan bahwa aparat keamanan juga memerintahkan warga sipil, untuk pindah lokasi dari sejumlah kampung yang menjadi sasaran penyisiran.
“Jadi dua kampung, Mimin dan Alutbakon itu, 100 persen tidak ada masyarakat, semua ada di hutan. Mereka ketakutan luar biasa karena tentara tiba-tiba ada di kampung-kampung dengan seragam dan senjata lengkap, seperti dalam zona perang,” ujarnya.
Sasaka menuturkan sejak 28 November sampai 30 November 2024 aparat keamanan secara sembunyi-sembunyi melakukan penyisiran di hutan. Masyarakat yang ada di lima kampung di Distrik Oksop, tidak mengetahui keberadaan aparat keamanan di hutan.
“Sampai pada 30 November itu, anggota TNI itu [mulai] kelihatan [ketahuan] berada di hutan, karena kebetulan anak-anak membakar buah kelapa hutan lalu apinya menyala besar, seperti kebakaran hutan. Jadi aparat keamanan takut, baru [mereka] mulai masuk ke kampung warga sipil dan mengambil alih kampung-kampung [dan dijadikan] sebagai markasnya,” katanya.
Ia bersama dua kepala kampung dari Mimin dan Alutbakon, serta para pemuda yang terdiri dari 12 orang menyusuri kampung, namun tidak ada satu orang pun yang berada di kampung karena semuanya telah mengungsi ke hutan.
Pihaknya juga telah mendatangi aparat keamanan dan meminta izin, untuk mengumpulkan masyarakat yang mengungsi, lalu mengecek warga sipil lima kampung di Distrik Oksop.
“Warga Kampung Atenar, Oksop, dan Oktumi, [yang mengungsi] sudah kembali ke kampung. Sedangkan warga dua kampung [Mimin dan Alutbakon], kami masih harus cari, sebab mereka sudah mengungsi ke hutan yang jauh dari perkampungan,” ujarnya.
Aparat keamanan duduki Kantor Distrik Oksop, gereja, dan puskesmas
Kepala Distrik Oksop Yohanes Sasaka mengatakan, aparat keamanan juga menduduki tiga tempat atau fasilitas publik, yaitu Kantor Distrik Oksop, Gereja GIDI Efesus Sape di Kampung Mimin, dan Puskesmas Oksop.
Menurutnya, aparat keamanan yang menduduki gereja membuat tungku api di dalam bangunan. Selain itu, fasilitas gereja juga dirusak mulai dari kaca jendela bahkan mimbar. Gereja tersebut tinggal kerangka bangunan saja.
“Setelah itu mereka taruh senjata, koper-koper, dan tas-tas yang dibawa, ditaruh dalam gereja, mereka tinggal sambil isap rokok dan sebagainya. Mereka semua menempati gereja dan pasang api untuk berjemur [menghangatkan badan],” katanya.
Sasaka menceritakan, saat memasuki Kampung Mimin mereka dilarang membawa ponsel atau mengambil gambar. Mereka dikawal dengan todongan senjata oleh aparat keamanan.
“Kami mau ambil gambar juga nanti ditembak, jadi kami masih hati-hati, masih pelan-pelan berkomunikasi dengan komandannya,” katanya.
Ia mengira-ngira jumlah personel aparat keamanan ada sekitar 400 lebih. Terdiri dari Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, sedangkan dari pasukan (yang disebut) Nusantara terdiri dari gabungan TNI/Polri.
Dari hasil komunikasi dengan komandan TNI di lapangan, diketahui bahwa aparat keamanan didatangkan atas perintah langsung Presiden Prabowo Subianto.
“Masyarakat sangat takut dan trauma, lalu mereka lari selamatkan diri ke hutan karena ada banyak TNI yang bersenjata lengkap, melakukan penyisiran di kampung mereka,” ujarnya.
Masyarakat meminta agar pasukan tersebut segera ditarik kembali, karena warga sangat ketakutan dan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Mereka juga meminta pimpinan tertinggi di daerah seperti Penjabat Bupati, sekda, ketua DPRD, bersama LSM, lembaga dewan adat, tokoh agama, dan unsur pimpinan TNI/Polri serta Komnas HAM, untuk berkomunikasi dengan presiden agar aparat keamanan segara ditarik kembali.
Sementara itu, salah satu gembala Gereja GIDI Efesus Sape Kampung Mimin, Besiel Mimin mengatakan mereka akhirnya tidak bisa beribadah, karena gereja telah dirusak oleh aparat keamanan. Warga akhirnya beribadah di rumah masing-masing selama dua pekan ini.
“Kami dalam suasana Natal yang mestinya dirayakan dengan damai, tapi masyarakat di sini tidak merasakan damai Natal, tapi yang ada malah ketakutan. Kami tidak bisa ibadah, karena gereja kami dipakai TNI dan fasilitas rusak. Lalu umat yang dalam pengungsian di hutan itu, mereka juga ibadah di hutan,” katanya.
Jubi berupaya mengonfirmasi terkait kehadiran aparat keamanan di Distrik Oksop, kepada Kepala Penerangan (Kapen) Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Inf Winaryo melalui telepon seluler maupun pesan aplikasi, namun hingga berita ini diturunkan upaya konfirmasi tidak direspons. (*)




Discussion about this post