Nabire, Jubi – Sebanyak 95 pemuda peserta aksi KNPB atau Komite Nasional Papua Barat ditangkap aparat keamanan dan dibawa ke Kantor Polisi Resor (Polres) Nabire ketika melakukan aksi unjuk rasa pada Kamis (15/8/2024). Sedangkan satu lagi tertembak di punggung sehingga jumlah peserta aksi yang ditembak dengan peluru karet oleh aparat berjumlah 3 orang.
KNPB Wilayah Meepago melakukan aksi demonstrasi untuk menentang New York Agrement 15 Agustus 1962 sekaligus memperingati Agustus sebagai Bulan Rasisme.
Koordinator Lapangan Umum Aksi Unjuk Rasa KNPB di Nabire, Provinsi Papua Tengah, Kimot Mote, mengatakan para peserta aksi ditangkap aparat keamanan dari sejumlah titik kumpul aksi, yaitu di KPR Siriwini, SP, Kali Bobo, dan Pasar Karang.
“Semua berjumlah 95 orang yang dapat tangkap dari semua titik dan diangkut ke Polres Nabire pada Kamis (15/8/2024),” ujarnya kepada Jubi, Kamis (15/8/2024).
Mote menjelaskan di titik kumpul Kalibobo ada sekitar 30 aktivis KNPB melakukan longmarch ke gerbang masuk kampus Universitas Stya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire.
“Massa aksi membawa ‘banner’ dibentangkan, pamflet tuntutan diangkat, tali komando dipasang sambil menunggu rakyat bergabung bersama massa aksi,” katanya.
Kemudian, katanya, aparat kepolisian dengan sejumlah kendaraan tiba di sana dan berada di depan gapura USWIM.
“Kami melihat aparat menggunakan kendaraan dua truk Sabara, 1 mobil Dalmas, dan 1 mobil Kijang dengan jumlah aparat kepolisian sekitar 100 orang. Dengan perincian polisi berseragam sekitar 80 orang dan tidak berseragam sekitar 20 orang,” katanya.
Aparat kepolisian, tambah Mote, langsung mengepung massa aksi KNPB, serta secara paksa dan brutal mereka dipaksa naik ke atas mobil Dalmas dan 1 truk Sabara polisi, lalu dibawa ke Polres Nabire.
“Di Polres Nabire mereka kemudian semuanya disuruh buka baju, sepatu, dan dijemur di bawah terik matahari di lapangan apel Polres Nabire,” ujarnya.
Ditembak dengan peluru karet
Sedangkan kejadian di titik aksi KNPB di KPR Siriwini, Nabire, kata Kimot Mote, massa aksi KNPB melakukan orasi-orasi politik di sana. Kemudian ketika massa aksi belum sempat melakukan longmarch, aparat kepolisian datang menggunakan truk Dalmas dan membubarkan massa aksi. Saat itu juga polisi menangkap tiga orang.

“Saat melakukan aksi, tepatnya di tepi rumah sakit, KPR Siriwini, dibubarkan paksa oleh TNI-Polri, massa aksi dipukul oleh polisi. Polisi juga menembakkan gas air mata dan mengejar massa ke arah KPR Siriwini Dalam,” ujarnya.
Usai dibubarkan aparat keamanan, kata Mote, sekitar pukul 14.23 Waktu Papua, ia dan aktivis KNPB lainnya duduk diskusi untuk mengevaluasi aksi.
“Namun aparat menembak anggota kami atas nama Kamel Bagau, ia dapat tembak kena peluru di bagian bahu kiri, jadi kami jaga dia sambil berobat secara tradisional,” ujarnya
Penembakan terhadap Kamel Bagau, kata Mote, terjadi saat Koordinator Lapangan Aksi KNPB di KPR Siriwini sedang berdiskusi dan mengevaluasi kegiatan.
“Saat asyik berdiskusi kemudian kami dikejar dengan mobil Fortuner warna hitam dan dua sepeda motor masuk langsung mengeluarkan tembakan. Jadi sementara kami terpencar di hutan, jadi saat ini tidak bisa update secara mendetail,” katanya.
Menurut Mote Koodinator Lapangan Umum Aksi KNPB dengan kepala suku sedang melakukan negosiasi dengan Polres Nabire.
“Kami lagi koordinasi, jadi paling sebentar mereka keluar dari tahanan Polres Nabire. Kami harap mereka segera dibebaskan dari Polres Nabire,” ujarnya.
Warga Nusantara lakukan aksi spontan
Berdasarkan pantauan Jubi.id di lapangan dan kesaksian warga Nabire, Taksen Giyai. Usai peserta aksi KNPB dibubarkan paksa oleh aparat keamanan di depan gel-gel Karang Barat, Nabire, massa memblokade jalan raya di resetlemen hingga di depan jalan raya SMP Wonorejo.

“Massa memalang karena aparat keamanan diduga membakar motor milik warga setempat, sehingga mereka memalang jalan. Bukan massa yang bakar, tapi polisi yang bakar karena tidak terima dong palang jalan,” katanya, kepada Jubi.id, Kamis (15/8/2024).
Giyai mengatakan, seketika dirinya sempat melewati Wonarejo dan warga yang menamakan diri Nusantara sudah menjaga massa aksi di arah Wonorejo, Nabire.
“Mereka berjaga sambil memegang besi, kayu, samurai, pedang, parang, menjaga massa aksi yang hendak ke Wonorejo. Seketika ada reaksi dari massa KNPB, mereka kemudian berdiri dan toki tiang listrik, dan semua masuk ke jalan raya,” atanya.
Menurut Giyai potret seperti itu kurang baik. Apabila polisi tidak melarang warga di jalan raya tidak mungkin terjadi korban penembakan, pemukulan, dan pengorganisiran Warga Nusantara.
Giyai mengatakan seketika melewati Wonarejo massa Nusatara sempat menghadangnya, tetapi mereka berikan ruang agar bisa lewat.
“Saya melihat ini potret buram yang terjadi di masyarakat. Polisi harusnya mengawal massa aksi hingga ke tempat di mana tujuan mereka, yaitu jalan di kantor MRP [Majelis Rakyat Papua], ini pembungkaman ruang demokrasi,” katanya.
Polisi dilempari batu
Kapolres Nabire AKBP Wahyudi Satrio Bintoro pada Kamis (15/8/2024) siang mengatakan penanganan aksi yang ia lakukan sudah sesuai protap, yaitu Perkap No 1 Tahun 2009.
“Kami melakukan tindakan kepolisian mulai dari kehadiran kita. Kepolisian Nabire melaksanakan tindakan tegas terukur,” katanya.
Menurut Kapolres massa aksi melakukan tindakan anarkis pelemparan batu dan ada anggotanya yang kena.
“Ada juga anggota kami pun posisi terkena lemparan massa. Ada juga anggota kami mengalami juga luka-luka di KPR Siriwini,” ujarnya. (*)





















Discussion about this post