Jayapura, Jubi – Unicef Indonesia wilayah Papua dan Yayasan Nusantara Sejati (YNS) melakukan pendampingan guru penguatan literasi dan numerasi pada PAUD dan SD di Kabupaten Yalimo serta Kabupaten Mamberamo Tengah, Provinsi Papua Pegunungan periode 2024 hingga 2026.
Penguatan literasi dan numerasi merupakan salah satu dari Program Dukungan Peningkatan Implementasi Pembelajaran Dasar yang Sensitif Gender dan Inklusif di PAUD serta SD di Provinsi Papua Pegunungan yang didanai Pemerintah Australia.
Direktur Eksekutif Yayasan Nusantara Sejati, Eka Simanjuntak mengatakan, lemahnya literasi dan numerasi sebetulnya adalah masalah nasional.
“Kita [pendidikan di Indonesia] tidak punya pembelajaran khusus literasi dan numerasi. Di SD itu adanya Bahasa Indonesia dan Matematika,” kata Eka Simanjuntak saat diwawancarai pada kegiatan Diseminasi Hasil Akhir Program Dukungan Peningkatan Implementasi Pembelajaran Dasar yang Sensitif Gender dan Inklusif di PAUD dan SD di Papua Pegunungan di salah satu hotel di Kota Jayapura, Provinsi Papua, Selasa (2/11/2026).
Padahal katanya, dalam Bahasa Indonesia ada namanya keterampilan fondasi yang tidak pernah diajarkan, misalnya bunyi.
“Anak-anak tidak diajarkan tentang bunyi. Padahal kita kalau berbicara itu kan basisnya yang paling benar bunyi,” ujarnya.
Eka mencontohkan dalam mengeja ma-ma. Anak-anak diajarkan mengeja em – a (ma) em – a (ma) dibaca mama.
BERITATERKAIT
“Padahal kalau mengikuti bunyi yang benar adalah ema ema bukan mama. Jadi, diajarkan cara membunyikan yang benar.”
Begitu pun juga numerasi. Menurutnya, kebanyakan guru-guru mengajarkan numerasi hafalan angka 1,2,3 hingga 10. Akan tetapi ketika murid ditanya mana lebih banyak 3 atau 1 mereka tidak tahu karena itu tidak konkret.
“Coba ajarannya, ambil batu 1,2,3. Nah, itu mereka baru tahu 3 itu lebih banyak dari 1. Jadi mereka bisa lihat konkret,” katanya.
Ia menambahkan, kebanyakan matematika diajarkan secara abstrak padahal sebetulnya matematika melatih logika berpikir dan penalaran bukan sekadar hafalan.
Sementara itu, Spesialis Pendidikan Unicef Indonesia wilayah Papua, Pria Santri Beringin mengatakan, ada beberapa tantangan yang sering dihadapi saat pelaksanaan program, antara lain rotasi atau mutasi guru ke sekolah lain sehingga pendampingan oleh fasilitator tidak bisa berlanjut dan ketidakhadiran guru.
“Tidak ada guru di tempat, atau kita sebut guru mangkir ini menjadi masalah menahun, faktornya banyak, kalau struktural pasti kaitannya dengan tempat itu tidak ada internet, listrik, air bersih dan lain-lain,” kata Pria Santri Beringin.
Katanya pada kegiatan itu, mereka memberikan informasi kepada pemerintah daerah mengenai program atau model inovasi pendidikan, khususnya pendidikan dasar untuk membantu peningkatan kualitas mengajar belajar di PAUD dan SD di Papua Pegunungan.
Sehingga, ke depannya diharapkan pemerintah daerah dapat mengambil program atau metode yang dikenalkan untuk keberlanjutan.
“Kalau untuk PAUD, kami perkenalkan alat ukur namanya MELQO-MELE, MELQO singkatan dari Measuring Early Learning Quality Outcome. Jadi, hasil perubahan cara belajar dan bertumbuhnya anak usia di bawah 6 tahun, kita kasih tahu hasilnya apa dan tantangannya apa,” ucapnya. (*)



























