Sentani, Jubi – Kepala Sekolah Menengah Atas Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Gereja-Gereja Injili (Kepsek SMA YPPGI) Sentani di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Teli Tabuni berpendapat pemerintah pusat perlu membenahi penyaluran dana Program Indonesia Pintar atau PIP.
Pendapat ini disampaikan Tabuni sebab menurutnya, di sekolah yang ia pimpin diduga masih ada siswa penerima dan PIP, tidak menggunakan bantuan itu sebagaimana mestinya.
Katanya, dana PIP seharusnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan siswa, seperti membeli seragam, sepatu, buku, alat tulis, maupun membantu membayar biaya pendidikan lainnya.
Namun, pihak SMA YPPGI Sentani masih menemukan sejumlah siswa belum melengkapi perlengkapan sekolah mereka, meskipun telah menerima bantuan dana PIP.
“Kami melihat ada siswa yang setelah menerima PIP tetap tidak melengkapi seragam atau kebutuhan sekolah. Bisa saja uangnya dipakai membeli telepon genggam atau kebutuhan lain yang tidak berkaitan dengan pendidikan,” kata Tabuni di Sentani, Jumat (17/7/2026).
Ia mengatakan, sekira 80 siswa SMA YPPGI Sentani kini menjadi penerima bantuan PIP dengan besaran yang bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga Rp1 juta lebih untuk setiap siswa.
Tabuni berharap pemerintah dapat menyempurnakan mekanisme penyaluran PIP agar lebih tepat sasaran. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah sebagian dana bantuan disalurkan langsung untuk membiayai kebutuhan sekolah, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan peserta didik.
Sebab katanya, tujuan utama Program Indonesia Pintar adalah membantu siswa dari keluarga kurang mampu, agar tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa terkendala biaya.
Karenanya lanjut Tabuni, pengawasan dari pihak sekolah, orang tua, maupun pemerintah diperlukan agar bantuan digunakan sesuai tujuan program, karena peningkatan mutu pendidikan tidak dapat hanya dibebankan kepada pihak sekolah.
Ia pun meminta para orang tua lebih aktif mendampingi dan mengawasi pendidikan anak, sekaligus mengawal pemanfaatan bantuan PIP, agar digunakan sesuai peruntukannya.
“Kalau hanya sekolah yang bekerja tentu tidak bisa. Pendidikan harus didukung orang tua sejak anak berada di rumah,” ucapnya.
Menurutnya, peran orang tua sangat penting dalam membentuk disiplin belajar anak, memastikan kebutuhan sekolah seperti seragam dan perlengkapan belajar terpenuhi, serta mengawasi pergaulan siswa di luar lingkungan sekolah.
Sementara itu, salah seorang murid SMA YPPGI Sentani penerima PIP, Sewi Emanuela Mimin mengaku bantuan tersebut sangat membantu meringankan biaya pendidikannya.
Siswi asal Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan yang baru naik ke kelas XI SMA itu mengatakan, setiap bulan ia harus membayar uang komite Rp100 ribu.
Menurut Sewi Mimin, dana bantuan PIP yang diterimanya diprioritaskan untuk membayar kewajiban sekolah sehingga tidak terlalu membebani keluarga.
“Puji Tuhan, saya bersyukur karena Tuhan membuka jalan lewat bantuan ini sehingga saya bisa terus sekolah. Saya berharap beasiswa PIP bisa terus disalurkan secara konsisten kepada siswa yang kurang mampu supaya mereka bisa fokus belajar dan meraih masa depan yang lebih baik,” kata Sewi Mimin. (*)






















Discussion about this post