Jayapura, Jubi – Hingga 22 Juli 2024, sebanyak 438.390 anak atau 50,6 persen anak di Tanah Papua telah diberi vaksin Polio dosis pertama. Jumlah itu masih jauh lebih kecil dibandingkan jumlah total sasaran Pekan Imunisasi Nasional atau PIN Polio 2024 di Tanah Papua yang mencapai 865.690 anak. PIN Polio 2024 akan berlangsung hingga September 2024, dan setiap anak kelompok sasaran diharapkan menerima paket lengkap empat dosis vaksin Polio.
Ribuan anak-anak yang sudah menerima imunisasi Polio dosis pertama diantaranya umur 0-59 bulan (258.269 anak), umur 5 sampai kurang dari 7 tahun (110.915 anak) dan umur 7 tahun (69.206 anak).
Anak-anak yang sudah menerima vaksin Polio dosis pertama itu tersebar di Provinsi Papua (105.588 anak), Papua Barat (75.212 anak), dan Papua Tengah (86.945 anak). Ada pun anak-anak yang telah menerima vaksin Polio dosis pertama di Papua Pegunungan (17.866), Papua Selatan (84.330 anak), dan Papua Barat Daya (68.449 anak).
Jumlah anak yang menerima vaksin Polio lanjutan (dosis kedua dan dosis ketiga) lebih sedikit lagi. Jumlah anak yang telah menerima vaksin Polio dosis kedua mencapai 224.126 anak, sedangkan anak yang menerima vaksin Polio dosis ketiga baru 2.564 anak.
Health Officer – Immunization UNICEF Papua, dr Husny Muttaqin mengatakan untuk saat ini cakupan imunisasi Polio di Tanah Papua, baik untuk vaksin dosis pertama, kedua, maupun ketiga, terus harus dikejar. Husny mengatakan pemerintah kabupaten/kota di Tanah Papua perlu meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat.
“Bila perlu tenaga kesehatan bisa melakukan penyisiran sasaran dari rumah ke rumah,” kata Husny pada Rabu (24/7/2024).
Husny mengatakan daerah yang masih rendah cakupan imunisasi Polio perlu juga melibatkan tokoh agama dan tokoh adat untuk mendorong orangtua membawa anaknya agar diimunisasi.. Pos imunisasi dapat dibuka di tempat seperti di gereja, termasuk pada hari Minggu, sebagai salah satu cara meningkatkan cakupan imunisasi Polio.
“Presiden sudah melakukan pencanangan PIN Polio. Harapannya semua upaya itu bisa meningkatkan semangat tenaga kesehatan kita, dan membuat masyarakat semakin sadar pentingnya PIN Polio,” ujarnya.
Papua Pegunungan sangat rendah
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Papua Pegunungan, Darbi Kiwo mengakui cakupan imunisasi Polio di Papua Pegunungan masih sangat rendah. Data per 22 Juli 2024 menunjukkan vaksinasi Polio di Papua Pegunungan itu untuk dosis pertama baru mencapai 17.866 anak (setara 10,2 persen kelompok sasaran). Sedangkan vaksinasi Polio dosis 2 baru mencapai 4.369 anak (setara 2,5 persen kelompok sasaran).
Kiwo mengatakan cakupan imunisasi Polio yang rendah itu disebabkan beberapa hal. Menurutnya, para petugas kesehatan kesulitan menginput data imunisasi secara daring, karena buruknya jaringan internet. Para petugas kesehatan juga sulit pergi ke lapangan, karena terkendala masalah keamanan maupun biaya.
“Tim Polio sudah jalan. Ada [data] yang belum diinput karena kendala jaringan, [sehingga] belum lapor ke aplikasi, sehingga kelihatan di cakupan di Papua Pegunungan rendah. [Ada juga masalah] pembiayaan belum tersedia, padahal mereka [petugas] harus terjun ke lapangan, ke gereja ke daerah-daerah sulit harus jalan kaki, gunakan mobil, pesawat. Tapi biaya dari mana?,” ujar Kiwo pada Rabu malam.
Kiwo mengatakan masalah keamanan dialami oleh petugas kesehatan di Kabupaten Nduga. Menurutnya, sejak PIN Polio 2024 dimulai pada 27 Mei 2024, hingga kini Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga belum melaporkan cakupan imunisasi Polio mereka.
Padahal, total jumlah sasaran imunisasi PIN Polio 2024 di Kabupaten Nduga mencapai 11.673 anak. Kiwo mengatakan PIN Polio di Nduga hanya bisa dilakukan di Puskesmas Kenyam yang berada di Ibu Kota Kabupaten Nduga, dan itupun belum dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Papua Pegunungan.
“PIN Polio di kabupaten lain Papua Pegunungan sudah jalan, hanya Kabupaten Nduga [yang belum jalan]. Kabupaten Nduga sampai hari ini belum ada laporan. Awalnya mereka sudah kasih jalan imunisasi Polio, tetapi setelah pencanangan 27 Mei 2024 kelihatan teman-teman petugas dapat ancam dari teman-teman seberang. Mereka dapat ancam sehingga susah bergerak. Jadi mereka [petugas] takut, tidak berani, karena terbukti beberapa peristiwa sudah dapat ancam, termasuk petugas orang Nduga juga, bukan orang luar,” katanya.

Kiwo juga mengatakan ada juga masyarakat dari Kabupaten Nduga yang mengungsi ke Wamena, Lanny Jaya, dan Puncak. Ia mengatakan anak-anak pengungsi Nduga di Wamena sebagian telah diimunisasi. Namun, Kiwo mengatakan pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten yang lain agar mengimunisasi anak-anak pengungsi Nduga di wilayah mereka.
“Mereka yang mengungsi di Jayawijaya, puskesmas di Wamena dapat layani. Di Wamena kami Dinas Kesehatan Papua Pegunungan ada pantau mereka. Kami ada turun layani, termasuk didampingi Penjabat Gubernur dan Kepala Dinas Kesehatan. Untuk putaran kedua dan ketiga, kami arahkan Puskesmas untuk lanjutkan. Kalau [pengungsi Nduga di] Lanny Jaya ada di Kuyawage. Dari Lanny Jaya untuk jangkau Kuyawage harus menggunakan pesawat kecil,” ujarnya.
Kiwo mengatakan Penjabat Gubernur Papua Pegunungan telah mengeluarkan instruksi pada 26 Juni 2024, agar pemerintah kabupaten menyediakan anggaran imunisasi Polio. Kiwo mengharapkan para bupati dapat memberikan dukungan dana tersebut, lantaran pelaksanaan imunisasi Polio membutuhkan biaya yang cukup besar.
“Surat itu sudah kami eksekusi ke masing-masing kabupaten melalui kepala dinas, supaya mereka laporkan kembali ke bupati masing-masing sehingga pemerintah kabupaten bisa siapkan anggaran bantu fasilitasi teman-teman kesehatan/petugas di lapangan. [Misalnya] biaya pesawat ke Nduga itu sekitar Rp40 juta satu kali terbang. Itu antar saja. Artinya, mau ke distrik-distrik [Nduga] itu penerbangan dari Wamena. Petugas harus kembali ke Wamena dulu, baru atur jadwal, tunggu jadwal itu satu sampai dua minggu baru terbang ke distrik-distrik,” katanya.
Kiwo mengatakan pihaknya hanya bertugas melakukan pengawasan dan monitoring imunisasi Polio. Dinas Kesehatan Papua Pegunungan juga telah mendistribusikan vaksin Polio ke masing-masing daerah di Papua Pegunungan.
“Kami di provinsi hanya sebagai pengawas dan monitoring imunisasi Polio ini jalan atau tidak. Tugas kami distribusi obat vaksin ke masing-masing daerah. Kami sudah lakukan dan sedang lakukan sesuai permintaan mereka. Kami antar langsung ke masing-masing lokasi, pakai pesawat [itu]. Kami ke Yahukimo, Nduga, Pegunungan Bintang. [Di] beberapa kabupaten yang [bisa] kami [jangkau] dengan mobil sudah dua kali kami sudah antar [vaksin Polio]. [Pemerintah] daerah [selanjutnya] distribusi ke masing-masing puskesmas, sesuai dengan permintaan data sasaran,” ujarnya.
Masih ada penolakan
Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Asmat, Papua Selatan, Sudarsono SKM mengakui masih ada orangtua yang menolak anaknya diberi vaksin Polio. Sudarsono mengatakan pihaknya sedang berupaya menjelaskan manfaat imunisasi Polio kepada orangtua yang menolak anaknya diimunisasi.
“Penolakan dari orang tua ada. Kami mengajak kepala distrik, kepala kampung, tokoh agama, untuk bersama-sama dengan tim menjelaskan [manfaat imunisasi Polio] kepada warga yang menolak,” kata Sudarsono melalui layanan pesan WhatsApp pada Rabu.
Sudarsono mengatakan hambatan lain yang dihadapi adalah waktu sosialisasi kepada masyarakat yang terlalu singkat, sehingga tidak sampai kepada seluruh masyarakat. Menurutnya, upaya penyebaran informasi imunisasi Polio melalui media maupun poster terbatas. Akan tetapi, tim imunisasi Polio di Kabupaten Asmat tetap bekerja.
“Sasaran PIN Polio di Kabupaten Asmat itu 21.117 anak. Tapi [data] dari Kemenkes [menyebut] sasaran [PIN Polio di] Asmat 33.146 anak. Kami tetap gunakan [data] sasaran Kabupaten Asmat. [Perbedaan data itu karena] kami menggunakan data microplanning yang disusun oleh 22 puskesmas se-Kabupaten Asmat, dengan sasaran anak 0 hari sampai 7 tahun,” ujarnya.
Sudarsono mengatakan anggaran yang digunakan untuk melakukan imunisasi Polio putaran 1 dan putaran 2 di 22 puskesmas mencapai Rp1,613 miliar. Ia mengatakan pembiayaan imunisasi Polio putaran 3 dan 4 akan menumpang di kegiatan imunisasi rutin yang sedang berjalan pada Juli hingga Agustus. Tim puskesmas akan berusaha untuk mengejar target agar cakupan tetap tinggi.
“Imbauan dari Dinas Kesehatan Asmat, agar anak-anak Asmat terlindung dari penyakit yang mengancam jiwa, mari bawa anak ke layanan kesehatan puskesmas-posyandu, untuk diberi imunisasi,” katanya. (*)





















Discussion about this post