Jayapura, Jubi — Para ahli kesehatan di Pasifik menyerukan masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi, menyusul peningkatan kasus campak di Selandia Baru yang kini menyebar ke berbagai wilayah di negara itu.
Health NZ/Te Whatu Ora telah mengonfirmasi 17 kasus campak hingga awal November, dengan infeksi ditemukan di Northland, Auckland, Taranaki, Wellington, dan Nelson. Demikian dikutip Jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Senin (4/11/2025).
Beberapa lokasi yang menjadi titik perhatian meliputi pusat perbelanjaan Westfield St Luke, unit gawat darurat Rumah Sakit Kota Auckland, sejumlah rute bus di Feilding dan Wellington, serta supermarket di Taranaki.
Virus yang Sangat Menular
Dalam wawancara dengan program Pacific Mornings, Dr. Chris Puli’uvea, imunolog dari Auckland University of Technology (AUT), menjelaskan bahwa rendahnya tingkat vaksinasi meningkatkan risiko penyebaran virus.
“Virus campak sangat menular dan dapat bertahan di udara hingga dua jam. Itu yang membuatnya sangat berbahaya,” ujarnya.
“Karena tingkat vaksinasi kita belum mencapai target, situasi ini menjadi pukulan ganda dan menyulitkan penanganan saat ini.”
Berdasarkan Jadwal Imunisasi Anak Nasional, anak-anak disarankan menerima dosis pertama vaksin MMR (campak, gondongan, dan rubella) pada usia 12 bulan, dan dosis kedua pada usia 15 bulan. Namun, hingga Juni 2024, hanya 49,6 persen bayi berusia 18 bulan di kawasan Pasifik yang telah menerima kedua dosis tersebut.
Puli’uvea menekankan pentingnya seluruh anggota keluarga untuk divaksin guna melindungi kerabat yang rentan.
“Sebagian orang tidak bisa divaksinasi, jadi tanggung jawab kita adalah melindungi mereka. Cara terbaik adalah dengan memastikan semua yang bisa, mendapat vaksin.”
Potensi 1.000 Kasus dalam Tiga Bulan
Mark Thomas, pakar penyakit menular dari Universitas Auckland, memperkirakan wabah dapat meningkat tajam jika langkah pencegahan tidak segera dilakukan.
“Epidemi ini akan berkembang bertahap—kasus bisa berlipat dua setiap dua atau tiga minggu, dan dalam tiga bulan kita mungkin melihat lebih dari 1.000 infeksi,” ujarnya.
Thomas mengingatkan bahwa wabah besar pada 2019 di Selandia Baru menyebabkan lebih dari 2.000 kasus dan menyebar hingga ke Sāmoa, menewaskan 83 orang. Ia menyayangkan lambatnya respons terhadap peringatan dini.
“Saya terkejut banyak orang masih belum divaksinasi, dan lambatnya minat otoritas bertindak. Masalah ini sudah lama dibiarkan,” kata Thomas.
Perlindungan Tidak Instan
Puli’uvea menambahkan, banyak orang bisa menularkan virus tanpa menyadari mereka sudah terinfeksi, karena gejala sering muncul beberapa hari setelahnya.
Sementara itu, Yayasan Nasional untuk Penyakit Menular mencatat bahwa campak dua kali lebih menular dibanding Covid-19 dan cacar air, serta dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti kerusakan otak, paru-paru, dan ketulian.
Pada Jumat (31/10/2025), Health NZ melaporkan rekor 2.098 dosis vaksin MMR telah diberikan. Namun Thomas mengingatkan bahwa perlindungan tidak langsung aktif setelah disuntik.
“Vaksin butuh waktu sekitar seminggu untuk efektif. Jangan berpikir sudah aman sehari setelah divaksin. Butuh tujuh hingga sepuluh hari,” tegasnya.
Ia juga meminta keluarga di Pasifik agar tidak percaya pada misinformasi anti-vaksin, dan hanya mengikuti saran dari sumber medis yang tepercaya.
Pemerintah Selandia Baru pun kembali mengimbau semua warga yang lahir setelah 1969 untuk memeriksa status vaksinasi mereka dan memastikan telah menerima dua dosis MMR, karena mereka yang lahir sebelumnya dianggap memiliki kekebalan alami.
Hingga kini, tidak ada laporan kematian akibat wabah yang sedang berlangsung.(*)





















Discussion about this post