Sentani, Jubi- Sebanyak 12 ruang kelas belajar Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua, SD YPK Martin Luther Sentani, di Jln. Eluay I Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua terbakar habis pada Rabu (9/10/2024) malam sekitar pukul 21.50 WP .
Pantauan Jubi pada Kamis (10/10/2024) pagi pukul 8.30 WP terlihat bangku dan meja serta lemari dijajarkan di halaman sekolah. Itu fasilitas sekolah yang berhasil diselamatkan dari kebakaran itu. Bangunan sekolah yang berbentuk huruf L itu dimakan habis api. Hanya menyisakan tembok dan puing-puing. Kebakaran itu menyisakan tiga ruang kelas serta ruang guru saja.
Ruang guru memang terpisah dari bangunan sekolah, jaraknya 2 meter saja dari bangunan yang terbakar.
Kamis pagi itu anak-anak sekolah datang dengan semangat seperti biasa. Tapi yang mereka temui adalah sekolah mereka hangus terbakar. Ada anak yang menangis sesengukan. melap air mata. Ada yang bingung. Diam diri seolah tidak percaya melihat bangunan sekolahnya tinggal puing.
Kesedihan itu juga dirasakan guru-guru dan orangtua. Ada guru yang menangis. beberapa di antara mereka berangkulan. saling menguatkan.
Kepala sekolah SD YPK Martin Luther Sentani Maria Bawan menjelaskan, sebelumnya pada 22 September 2024 juga terjadi kebakaran sehingga empat ruang kelas beserta kursi, meja, lemari dan semua isinya terbakar habis. Lalu kejadian itu dilaporkan kepada pihak kepolisian melakukan penyelidikan.
Sementara masih menunggu hasil penyelidikan, kebakaran kembali melanda tujuh ruang kelas belajar dengan satu ruang perpustakaan. Semua terbakar habis.
“Tapi tadi malam jam 10 lewat 50 begitu kami dikagetkan lagi dengan ditelpon oleh guru karena saya tinggal di luar. katanya ‘ibu ada kebakaran lagi di sekolah” begitu, saya lari kesini tapi api sudah menyala besar. Lalu pemadam karena sopirnya tidak ada akhirnya agak lama baru datang,” kata Maria.
Maria Bawan menjelaskan ada sembilan ruangan tetapi yang tersisa hanya dua ruang saja, tujuh ruangan dengan satu ruang perpustakaan yang berisi ribuan buku ajar dan bacaan, ludes terbakar.
“Ribuan buku buku di perpustakan tidak ada yang selamat. Semua terbakar habis. Itu buku paket anak-anak kurikulum Merdeka, kurikulum 2013. Hanya kursi, meja, lemari itu saja tadi malam berusaha kasih keluar dari ruangan kelas,” katanya.
Kepala sekolah itu mengakui tidak mengetahui penyebab kebakaran. Namun dari informasi yang diperolehnya, api mulai terlihat belakang ruang kelas VB.
“Karena pemadam agak lambat jadi akhir ini habis. Saat terbakar itu untung orang tua murid dan semua orang yang datang kasih keluar ini jadi kami masih sempat punya kursi, meja, lemari,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa empat ruang kelas yang terbakar dua minggu lalu itu pihaknya berdiskusi dengan pihak Yayasan dan dinas yang datang berdiskusi mencari solusi supaya proses belajar mengajar terus berjalan, meskipun ruangan belajar anak-anak sudah berkurang.
Akhirnya sekolah memberlakukan pembelajaran bergilir. Pagi dan siang.
“Tapi hari ini terbakar lagi akhirnya nanti anak-anak belajar di luar saja, karena mereka tidak mau pulang, mereka bilang kami mau belajar. Pagi tadi saya datang semua anak-anak peluk saya dan semua menangis karena tidak ada ruangan lagi untuk mereka belajar,” katanya.

Siswi kelas VI A Agustince Kafiar (12) ia tinggal di lokasi sekolah itu dengan orangtua salah satu guru juga di sekolah itu. Agustince mengatakan dia melihat apinya mulai menyebar terbakar itu dari kelas V B.
“Karena saya rasa panik jadi saya panggil pak guru Yusak dengan pak guru ekstrakurikuler pak guru Samuel. Jadi karena angin juga jadi apinya tambah menyebar, sampai telepon pemadam tapi pemadam belum datang. Apinya menyebar ke kelas V A sampai ke kelas II B baru pemadam datang,” kata Agustince.
Berharap secepatnya dibangun kembali
Kepala SD YPK Martin Luther Sentani, Maria Bawan mengatakan, penjabat Wali Kota Christian Sohilait yang juga alumni sekolah itu sudah datang langsung, setelah mendengar kabar sekolah itu terbakar. dia berharap ada jalan keluar.
“Namanya membangun ruangan atau sekolah itu kan butuh waktu. Jadi mungkin sementara pakai tenda saja dulu sebagai solusi tercepat. Doa kami semua dari 300 lebih siswa dan siswi, orang tua dan guru-guru doakan semoga cepat bangun kembali,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa sekolah itu 80 persen anak-anak Papua. Pihaknya juga senentiasa menampung calon siswa yang tidak diterima di sekolah lainnya.
“Saya biasa tanya kepada guru kelas, masih ada kursi yang kosong ka, ini ada yang datang karena ditolak disana, sini jadi kita harus amankan anak-anak papua ini harus mereka sekolah. Karena saya juga alumni YPK juga tahun 1980, dan ini saya punya rumah,” kata Maria.
Salah satu orangtua, Pieter Yom mengatakan dirinya sebagai orang tua murid mengharapkan sekolah ini dibangun kembali. Supaya anak-anak bisa belajar dalam ruangan tanpa panas, hujan. Karena mungkin sekarang ruang terbakar jadi untuk sementara anak-anak akan belajar di luar.
“kami harap sekolah dibangun Kembali secepatnya untuk menunjang anak-anak sekolah untuk masa depan. Saya menyesalkan hal ini terjadi, semoga pemerintah melihat keadaan ini dan memperhatikan sekolah ini,” ujar Piter Yom.(*)






















Discussion about this post