Sentani, Jubi – “Kami semua tidak bermasalah dan tidak punya masalah dengan siapa pun di dalam maupun di luar sekolah. Setiap akhir kegiatan belajar mengajar kami evaluasi dan berdoa bersama seluruh staf dan guru di sekolah,” ujar Maria Bawan, kepala SD YPK Marthin Luther Sentani kepada Jubi di kantornya, Selasa (15/10/2024).
Matanya berkaca-kaca seakan tidak kuat berbicara. Itu ketika Jubi menanyakan kebakaran yang terjadi pada sekolahnya secara beruntun, dua kali pada 9 Oktober 2024 dan sebelumnya 22 September 2024.
“Dua kali terjadi dan itu pada waktu malam,” ujarnya.
Musibah kebakaran yang terjadi hanya berselang dua minggu itu merupakan kejadian pertama sejak sekolah itu berdiri pada 1962.
Kebakaran pertama pada 22 September 2024 mengakibatkan 4 ruangan kelas dan 5 kamar mandi ludes terbakar. Belum sempat diperbaiki, terjadi lagi kebakaran pada 10 Oktober 2024 yang mengakibatkan 7 ruang kelas, kantor kepala sekolah, perpustakaan, kantin, gudang, dan ruang UKS ludes.

Maria Bawan tidak menyerah dengan kondisi tersebut. Hanya sehari saja sekolah diliburkan pasca kebakaran terakhir, ia kembali mengaktifkan sekolah. Bangunan ruangan tata usaha yang selamat dijadikan ruang kelas untuk 30 murid Kelas V yang mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) selama dua hari, 15-16 Oktober 2024. Murid lainnya terpaksa menumpang di gedung SMA Kononia.
Sebanyak 18 guru dan pegawai lain tetap beraktivitas. SD YPK Marthin Luther Sentani memiliki 11 guru ASN, 2 guru kontrak, dan 1 guru P3K. Selain itu, ada 3 staf administrasi dan 1 tenaga keamanan.
Bawan menceritakan, setelah musibah kebakaran ia bersama orang tua wali murid mengadakan pertemuan mencari solusi terbaik agar 360 siswa dapat belajar dengan baik.
Ada beberapa sekolah, kata Bawan, yang bersedia memberikan tumpangan untuk belajar sementara, seperti SMA YPK Unggulan Sentani, SD Abeale Sentani, dan SMA Kristen Kononia Sentani.

“Atas kesepakatan bersama orang tua dan pihak SMA Kononia Sentani, 12 rombongan belajar dari sekolah ini diberikan ruangan kelas untuk belajar dengan memanfaatkan waktu siang hingga sore,” katanya.
Bawan mengaku enggan mencari tahu penyebab kebakaran sekolah. Sebab, itu bukan ranah dan bagian dari pihak sekolah. Tetapi kejadian terkait musibah kebakaran sudah dilaporkan kepada polisi.
“Katanya arus listrik, horden jendela yang terbakar, dan lain-lain. Itu bukan bagian kami untuk mencari tahu, karena semua staf dan guru yang bekerja selalu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik,” kata alumni SD YPK Sentani angkatan 1980 itu.
Ia menjelaskan, kebakaran pertama pada 22 September 2024 ada bukti atau tanda-tanda yang mencurigakan. “Itu sudah dilaporkan kepada pihak berwajib, satu minggu setelah kebakaran pertama,” ujarnya.
Kondisi yang dialami sekolahnya sekarang, lanjut Bawan, sama sekali tidak nyaman. Anak-anak belajar di sekolah yang lain dan guru-guru harus mengawasi.
“Termasuk murid yang masih mengikuti kegiatan di sekolah ini dengan belajar di luar ruangan. Harapan kita semua kondisi ini bisa pulih dan kembali dengan normal sehingga semua anak yang belajar bisa memperoleh hasil yang maksimal,” katanya.

Menurut Bawan pasca kejadian sudah ada sejumlah pihak yang datang melihat dan memberikan dukungan kepadanya.
Meski bangunan sekolahnya ludes, Bawan mengatakan, beberapa agenda kegiatan yang diikuti murid tetap dilanjutkan. “Seperti kegiatan marchind band di Stadion Lukas Enembe dalam waktu dekat, mereka tetap akan mengikuti kegiatan tersebut,” ujarnya.
Orang tua murid, Parmenas Sokoy sangat menyayangkan kejadian kebakaran yang merusak fasilitas pendidikan seperti itu.
“Fasilitas pendidikan ini ada di wilayah perkotaan, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tetapi, tentunya pihak sekolah juga sudah mengantisipasinya. Kita berharap pihak berwajib dapat mengungkap motif di balik ini semua,” ujarnya.
Sokoy yang juga alumni angkatan 1992 di sekolah itu mengingatkan kepada seluruh wali murid agar senantiasa memberikan dukungan penuh kepada pihak sekolah dan kepada anak-anak yang sedang berjuang untuk belajar, meski dalam kondisi sekolah yang tidak normal.

“Otomatis semua berubah, tetapi kondisi ini harus dijalani. Yang biasanya datang ke sekolah ini harus berubah arah ke sekolah yang telah kita sepakati bersama sebagai tempat belajar sementara. Semoga badai ini cepat berlalu,” katanya.
Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jayapura Hariyanto Piet Soyan mengatakan musibah kebakaran sekolah itu terjadi ketika ada perubahan pola pikir dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Menurutnya, zaman yang semakin canggih ini sudah mengajari banyak hal, termasuk bagaimana mengatasi persoalan gangguan pada kabel listrik di dalam sebuah ruangan.
“Dugaan sementara seperti itu, tetapi tidak memberikan jawaban yang maksimal terhadap peristiwa yang terjadi, karena dua kali peristiwanya di tempat dan objek yang sama,” ujar politisi PKB itu.
Sebagai wakil rakyat, Soyan juga mendorong pihak berwajib agar segera mengungkapkan motif yang terjadi di balik terbakarnya SD YPK Marthin Luther Sentani.
“Sebab-sebab terjadinya kebakaran perlu diketahui publik, sebab sekolah ini sudah ada sejak zaman Belanda dan sudah melahirkan banyak pemimpin di daerah ini,” katanya. (*)





















Discussion about this post