Jayapura, Jubi – Kekeringan yang dipicu oleh El Niño dan sedang berlangsung sangat mempengaruhi masyarakat di Distrik Tufi, Provinsi Utara, Papua Nugini (PNG). El Niño telah menghancurkan kebun sayur dan mengeringkan anak sungai serta aliran air.
Tokoh masyarakat dan mantan presiden Pemerintah Daerah Tufi, Luke Nunisa, mengatakan situasi terus memburuk karena pasokan makanan semakin langka dan semakin banyak sumber air yang mengering.
“Situasinya sangat buruk. Keluarga mulai dari orang tua hingga anak-anak di bawah usia lima tahun sangat terdampak oleh kekeringan ini,” katanya sebagaimana dilansir Jubi dari laman tvwan.com.pg, Minggu (5/7/2026).
“Keluarga hanya makan satu kali sehari dan ini mengancam karena musim kemarau terus memengaruhi mata pencaharian masyarakat,” ucapnya.
Lebih lanjut Luke Nunisa mengatakan masyarakat sangat membutuhkan bantuan dan memohon kepada Pemerintah Nasional dan Pemerintah Provinsi Utara untuk segera memberikan dukungan.
“Kami meminta pemerintah nasional dan pemerintah provinsi untuk membantu kami di saat bencana ini,” katanya.
Ia juga meminta Pusat Penanggulangan Bencana Nasional untuk segera mengerahkan tim penilai guna menentukan luas kerusakan di daerah yang terkena dampak.
Menurut Bapak Nunisa, delapan kelurahan—Kelurahan 10 hingga 17—telah terdampak parah dari 20 kelurahan di distrik tersebut.
Ia mengatakan kekeringan juga telah menimbulkan masalah kesehatan dan sanitasi, dengan masyarakat kesulitan menjaga kebersihan dasar karena sumber air terus menghilang.
Nunisa memperingatkan bahwa situasinya semakin kritis dan menyerukan bantuan makanan dan air segera untuk masyarakat yang terkena dampak.
Ia juga memohon kepada Anggota Parlemen Tufi, David Arore, dan Otoritas Departemen Pengembangan Infrastruktur (IDDA) untuk membantu warga yang terdampak kekeringan.
Sementara itu Badan Meteorologi Nasional PNG telah menegaskan bahwa pola cuaca El Niño yang parah, secara resmi dinyatakan pada pertengahan 2026, sedang melanda Papua Nugini (PNG).
Badan Meteorologi Nasional PNG memperingatkan intensitas yang kuat hingga sangat kuat yang mencerminkan kejadian bersejarah tahun 1997/98.
Fenomena ini menyebabkan kekeringan berkepanjangan, penurunan permukaan air, dan embun beku yang merusak di daerah dataran tinggi .
Hal senada juga dikatakan Lembaga Oxfam PNG memperkirakan hingga 3 juta orang di seluruh negeri terdampak oleh kekurangan pangan dan air yang terjadi, dengan wilayah Dataran Tinggi menjadi yang paling terpukul.
Embun beku yang parah dan kondisi kekeringan berkepanjangan telah menghancurkan kebun-kebun pertanian, memusnahkan tanaman pokok seperti ubi jalar dan memicu kekhawatiran luas akan kekurangan pangan.
Cuaca kering yang berkepanjangan telah berdampak pada Bendungan Sirinumu , yang selanjutnya mengurangi kapasitas pembangkit listrik tenaga air di seluruh stasiun pembangkit listrik tenaga air Rouna dan menyebabkan pemadaman listrik bergilir di kota serta pembatasan penggunaan air di Port Moresby.
Ooritas nasional di PNG mendesak pemerintah daerah untuk menyimpan makanan yang tidak mudah busuk, mengumpulkan air hujan jika memungkinkan, dan mengamankan benih tahan kekeringan.
Pemerintah juga mengoordinasikan pelepasan air baku untuk memastikan pasokan air keran kota diprioritaskan daripada kebutuhan pembangkit listrik. (*)




















Discussion about this post