Jayapura, Jubi – Penerbangan uji coba dari China ke Vanuatu mendarat di Port Vila pada Selasa (29/4/2025), mengangkut lebih dari 30 penumpang. Penerbangan ini menandai langkah maju penting dalam hubungan bilateral dan pertumbuhan ekonomi antara kedua negara.
Dalam upacara penyambutan, Duta Besar Tiongkok untuk Vanuatu, Li Minggan, menyatakan bahwa penerbangan ini bukan sekadar jalur transportasi, melainkan “koridor langit yang dibentuk oleh sayap perak” yang membuka babak baru dalam kerja sama Tiongkok–Vanuatu.
“Atas nama Kedutaan Besar Tiongkok, saya menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh kementerian, maskapai, perusahaan, dan individu dari kedua negara yang telah bekerja keras untuk mewujudkan hal ini,” ujar Li Minggan, dikutip dari Daily Post Vanuatu, Jumat (2/5/2025).
Ia menyebut penerbangan uji coba ini sebagai “jembatan udara” yang memberikan dorongan baru bagi kerja sama ekonomi, pariwisata, dan strategi pembangunan. Pemerintah Tiongkok membayangkan penerbangan langsung reguler sebagai peluang untuk meningkatkan akses Vanuatu ke pasar global dan pariwisata internasional.
Dengan proyeksi penerbangan mingguan yang mampu mengangkut ribuan penumpang dan hingga 20 ton kargo per tahun, Li mengatakan jalur udara baru ini dapat menjadi “akselerator super” bagi pertukaran ekonomi antara kedua negara.
“Kopi dan daging sapi Vanuatu akan lebih cepat sampai ke konsumen Tiongkok, sementara para ahli dan peralatan dari Tiongkok bisa dengan mudah dikirim ke Vanuatu,” katanya. “Penerbangan ini membuka panggung bagi kerja sama yang lebih erat di bidang pendidikan, kesehatan, olahraga, dan lainnya.”
Potensi dampak ekonominya cukup besar. Jika satu penerbangan mengangkut 120 wisatawan yang menginap selama lima hari dan membelanjakan VT17.000 per hari, maka total pendapatan mingguan bisa mencapai VT10,2 juta—atau sekitar VT500 juta per tahun.
Li juga menekankan bahwa inisiatif ini mendukung visi Sabuk dan Jalan Tiongkok, serta mencerminkan komitmen terhadap pembangunan negara-negara Kepulauan Pasifik.
“Kami yakin rute ini akan menjadi jalur persahabatan dan pembangunan,” ujarnya. Ia menambahkan, jalur udara ini berpotensi menjadikan Vanuatu sebagai pusat transportasi penting di Pasifik Selatan sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan negara tersebut.
Keberhasilan penerbangan uji coba ini—dengan lebih dari 30 penumpang—dinilai sebagai awal yang menjanjikan menuju koneksi udara reguler antara China dan Vanuatu.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Kantor Pariwisata Vanuatu (VTO), Adela Issachar Aru, menyambut penerbangan ini sebagai “kehormatan besar” dan awal dari perjalanan bersama yang didasarkan pada persahabatan dan ambisi.
“Pada 2019, kami menyusun rencana berani untuk memasuki pasar Tiongkok, melihat potensi besar dalam mempererat hubungan antarmasyarakat,” ujarnya.
“Pandemi COVID-19 sempat menghentikan langkah itu, seperti yang terjadi secara global. Namun, penerbangan hari ini menandai peluang baru untuk terhubung kembali, membangun kembali, dan tumbuh bersama,” katanya.
Tiongkok kini menjadi salah satu pasar wisata outbound yang tumbuh paling pesat di dunia. Aru mencatat bahwa wisatawan Tiongkok semakin mencari destinasi yang menawarkan pengalaman otentik dan keindahan alam—yang Vanuatu tawarkan secara melimpah.
“Mulai dari pantai alami, lubang-lubang biru, pertemuan budaya di desa, hingga pendakian ke gunung berapi aktif—Vanuatu adalah destinasi impian bagi wisatawan Tiongkok,” ujarnya. “Namun yang paling penting, kehangatan masyarakat kami membuat setiap pengunjung merasa seperti keluarga.”
Aru menyatakan, penerbangan uji coba ini hanyalah permulaan, dengan harapan kelak akan terwujud penerbangan langsung rutin, peningkatan kunjungan, dan kerja sama jangka panjang di sektor pariwisata maupun bisnis.
“Bersama-sama, kita akan membuka cakrawala baru dalam pariwisata, bisnis, dan persahabatan,” kata Aru. “Terima kasih telah menjawab panggilan Vanuatu, China Southern Airlines. Selamat datang di negeri kami.”
Sementara itu, Perdana Menteri Vanuatu, Jotham Napat, turut hadir dalam penyambutan. Ia menyampaikan apresiasi kepada mantan PM Charlot Salwai dan Wakil PM Johnny Koanapo atas peran mereka dalam memfasilitasi kedatangan China Southern Airlines.
“Saya juga diberitahu bahwa penerbangan berikutnya dari Guangzhou ke Vanuatu dijadwalkan pada 6 Mei, artinya minggu depan. Ini menunjukkan komitmen kuat dari mitra kami,” ujar PM Napat.
Ia menambahkan bahwa meskipun sebelumnya telah ditandatangani beberapa perjanjian layanan udara, tidak satu pun yang terealisasi—hingga akhirnya, melalui tekad dan komitmen di bawah pemerintahan mantan PM Salwai, terbuka babak baru dalam sejarah pariwisata, konektivitas, dan penerbangan Vanuatu. (*)





















Discussion about this post