Jayapura, Jubi – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Papua Tengah sedang merumuskan agar ke depan program pembangunan di delapan kabupaten tepat sasaran, terukur, dan berbasis data untuk menjawab masalah di lapangan.
Upaya merumuskan program pembangunan berbasis data dan sesuai kondisi ril di lapangan itu dilakukan Bapperida Provinsi Papua Tengah melalui Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Naskah Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Wilayah Provinsi Papua Tengah Tahun 2026.
FGD ini dilaksanakan di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Kabupaten Nabire yang berlangsung sejak 20 Oktober 2026 hingga 23 Oktober 2026.
Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Elieser Yogi, S.STP, M.Si mengatakan, ide FGD ini muncul
dari pemikiran Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH, dan pihaknya setelah melihat program kegiatan atau kebijakan yang telah dilakukan.
“Kita mau memastikan bahwa setiap program atau kegiatan yang dilaksanakan di delapan kabupaten di Papua Tengah, harus berdasarkan fakta lapangan. Ini berkenaan dengan program 2027 dan tahun-tahun berikutnya,” kata Elieser Yogi, S.STP, M.Si, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, FGD ini menghadirikan para Pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di tingkat provinsi maupun kabupaten, pihak keamanan, mitra pembangunan serta media.
“Kita mau melihat kondisi di lapangan seperti apa dari semua bidang pembangunan. Bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur, politik, keamanan, sosial dan lainnya. Bagaimana kami berdiskusi dan mendapatkan informasi sedetail mungkin mengenai kondisi di lapangan dari setiap bidang,” ucapnya.
Katanya, dalam pelaksanaan FGD itu, Bapperida Provinsi Papua Tengah didampingi para tim ahli yang berberlatar belakang peneliti dalam berbagai bidang.
Tim ahli ini membantu Bapperida Provinsi Papua Tengah melakukan kajian terkait berbagai informasi yang disampaikan para narasumber dari pimpinan OPD, pihak keamanan dan lembaga mitra.
“Mereka [para narasumber] ini menyampaikan seperti apa kondisi di lapangan dalam semua bidang pembangunan. FGD ini berlangsung selama empat hari dan dibagi dalam delapan sesi,” ujarnya.
Elieser Yogi mengatakan, setiap hari dua sesi yang digelar terpisah, sesuai setiap bidang. Ini bertujuan menggali seperti apa kondisi di lapangan di setiap kabupaten, sehingga nantinya bisa menjadi sebuah laporan dalam bentuk rekomendasi untuk diserahkan kepada Gubernur Papua Tengah sebagai pimpinan di wilayah itu.
“Agar beliau (gubernur) bisa menentukan kebijakan dalam bentuk program kegiatan untuk menjawab kondisi yang sebenarnya di lapangan yang mungkin butuh percepatan, penguatan.”
Bapperida Provinsi Papua Tengah berharap, dengan adanya rekomendasi itu nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan pimpinan untuk mengambil kebijakan ke depannya.
“Harapan kami, program yang akan kami laksanakan dari setiap OPD benar-benar tepat sasaran, terukur berdasarkan data dan menjawab masalah di lapangan. Kami dari tim juga sudah memberikan format untuk diisi oleh para narasumber sesuai bidang masing-masing,” kata Elieser Yogi.
Para narasumber yang terlibat dalam FGD itu diharap dapat membuat laporan terperinci sesuai format yang diberikan oleh tim Bapperida Provinsi Papua Tengah, sehingga laporan akhir kegitan itu benar-benar akurat, terukur dan bisa dipertanggungjawabkan.
“Ada 11 narasumber [yang hadir dalam FGD ini] sesuai bidang masing-masing, dan setiap sesi dipandu tim kami para peneliti dari masing-masing bidang,” ucapnya. (*)























Discussion about this post