Dalam era globalisasi terjadi banyak perubahan dari segi ilmu pendidikan dan perkembangan teknologi. Untuk itu, setiap satuan pendidikan perlu meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja sekolah agar dapat bertahan ditengah perubahan yang ada. Kinerja sekolah yang dimaksud adalah kinerja dari para tenaga administratif dan tenaga pengajar.
Tenaga administratif yang tidak efisien dalam bertugas, tenaga pendidik yang kurang kompeten, serta penurunan minat belajar anak adalah tantangan yang terkadang dihadapi dan menurunkan kinerja sekolah. Proses pendidikan yang bermutu serta kinerja baik dari sekolah tidak akan terwujud apabila permasalahan dari segi tenaga administratif maupun tenaga pendidik masih ada.
Kinerja sekolah yang buruk biasanya dapat dilihat melalui refleksi rapor pendidikan. Rapor Pendidikan adalah indikator terpilih dari Profil Pendidikan yang merefleksikan prioritas Kemendikbudristek dan digunakan untuk menilai kinerja daerah dan satuan pendidikan (https://kbbi.kemdikbud.go.id/).
Sekolah yang kinerjanya jelek tentu akan terpampang nyata dan dapat diakses oleh semua pihak. Setiap sekolah tentu ingin mendapatkan laporan kinerja yang baik, untuk itu penting mempertahankan hasil kinerja yang baik agar keberlangsungan dari suatu satuan pendidikan dapat terus ada.
Kepemimpinan merupakan faktor utama penggerak organisasi yang diwujudkan melalui penanganan, perubahan dan manajemen yang dilakukannya sehingga, keberadaan pemimpin bukan hanya sebagai simbol yang ada atau tidaknya tidak menjadi masalah tetapi keberadaannya memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi.
Pemimpin dari sekolah harus dapat membawa perubahan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sekolah secara keseluruhan khususnya dalam era perubahan zaman yang terjadi dengan begitu cepat, agar dapat bertahan.
Kepala sekolah harus dapat memimpin dengan baik, namun baik belum tentu cukup. Setiap pemimpin harus dapat melakukan inovasi melalui perubahan-perubahan transformatif yang membawakan pengaruh positif untuk meningkatkan kinerja sekolah.
Menurut Bakker dalam bukunya yang berjudul Daily Transformational Leadership, kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang berfokus pada menginspirasi dan memotivasi individu untuk melampaui kepentingan diri sendiri demi kebaikan bersama.
Dengan demikian, peningkatan kinerja positif dari sekolah tentu bergantung pada pemimpin sekolah yang harus mampu menggerakan seluruh sumber daya sekolah secara efektif dan efisien dalam giat meningkatkan kinerja sekolah melalui transformasi.
Menurut Bas dalam bukunya Multifactor Leadership Questionary, kepemimpinan yang transformatif ditempuh melalui beberapa proses. Proses pertama adalah meningkatkan kesadaran pengikut atau bawahan terhadap nilai dan pentingnya tugas atas pekerjaan. Tugas kepala sekolah memberi motivasi dan wejangan agar seluruh warga sekolah dapat bekerja sebagaimana mestinya.
Para tenaga administratif dan para guru harus dapat melaksanakan tugas sesuai tupoksinya masing-masing agar keberlangsungan sekolah dapat berjalan dengan baik. Proses selanjutnya adalah mengarahkan pengikut atau bawahan untuk fokus pada tujuan kelompok dan organisasi, bukan pada kepentingan diri sendiri atau pribadi.

Kepala sekolah harus menjadi pemimpin karismatik yang dapat menekankan bahwa dalam satuan pendidikan, tujuan utamanya adalah untuk mencerdaskan anak bangsa dan membantu proses administrasi peserta didik agar menjadi lebih mudah. Hal ini tentu sejalan dengan visi dan misi dari sekolah demi tercapainya kinerja yang baik. Proses ketiga atau proses terakhir adalah mengembangkan potensi (pengetahuan, kecakapan, ketrampilan) pengikut atau bawahan secara optimal.
Setiap pengajar harus dapat meningkatkan kompetensi agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman dalam mengajar dan melayani peserta didik. Selain itu, kepala sekolah juga harus dapat mengontrol staf administrasi seperti tata usaha dan bagian akademik agar dapat melengkapi berkas-berkas administratif peserta didik. Dengan pengajar yang memiliki kredensial yang baik, maka para peserta didik dapat meningkatkan potensi dan kapasitas mereka.
Kepemimpinan transformasional melahirkan inovasi. Di Kota Jayapura, salah satu contoh nyata yang dapat kita lihat adalah transformasi SMA PGRI dan SMA Korpri yang berubah status menjadi SMA Negeri 7. Kepala sekolah SMA PGRI, Parjan, S.Pd dan SMA Korpri ibu Yuliana Layaba, mengambil langkah strategis dalam kepemimpinan transformasional, dimana dicetuskan program transformasi inovasi perubahan status kedua sekolah ini menjadi sekolah negeri.
Sebelumnya ada beberapa kendala yang dihadapi oleh kedua sekolah menengah atas ini seperti biaya operasional dan biaya pendidikan yang cukup mahal, sehingga minat peserta didik menurun seperti yang dilaporkan redaksi Jubi pada tanggal 12 Juli 2023. Jika permasalahan ini tidak ditangani, maka tentu jumlah peserta didik di kedua sekolah ini akan terus menurun drastis dalam setiap tahun ajaran baru. Dengan terus menurun, maka eksistensi kedua sekolah ini benar-benar terancam karena tidak ada peserta didik lagi kedepannya.
Namun, dalam semangat kepemimpinan transformasional, maka dicetuskan inovasi transformasi untuk berubah status menjadi sekolah Negeri. Ini merupakan usaha mempercepat dan efisiensi perkembangan pendidikan. Transformasi ini bisa menjawab permasalahan-permasalahan terutama di dunia pendidikan.
Melalui langkah dan inovasi yang transformatif ini, anak-anak di wilayah Distrik Jayapura juga memiliki tambahan pilihan untuk menempuh jenjang SMA. Inovasi transformasi ini mempercepat pemajuan pendidikan di Kota Jayapura.
Sebagai kontra, jika para pemimpin telah menempuh kepemimpinan transformasional, namun para pengajar dan warga sekolah pasif, tentu semangat perubahan tidak dapat terjadi. Pada tanggal 10 November 2021 dilaporkan Wahana News, terjadi penutupan sekolah di Kabupaten Jayapura yaitu sekolah SMP Satu Atap. Hal ini terjadi karena tuntutan honor penjaga sekolah, namun penjaga sekolah tersebut tidak memiliki SK sehingga tidak dibayar oleh sekolah.
Pimpinan sekolah telah melaksanakan tugas dengan baik, namun hal-hal seperti ini dapat terjadi. Dalam kasus ini, kepemimpinan transformasional telah diaplikasikan, namun kurang efektif sehingga kasus seperti ini dapat terjadi. Untuk itu, kepemimpinan transformasional juga dalam beberapa kasus ada yang kurang efektif.
Oleh karena itu, kepemimpinan transformatif adalah jenis kepemimpinan yang mengubah serta mendorong semua sumber daya yang ada di sekolah untuk dapat mencapai tujuan utama dari sekolah. Sifat-sifat kepemimpinan transformasional kharismatik, membangkitkan inspirasi, merangsang, tenggang rasa secara individu yang dapat mendorong seluruh tenaga administratif, pengajar dan seluruh peserta didik untuk dapat berkembang dengan optimal, sehingga kinerja dari sekolah dapat meningkat dan mencapai tujuan yang diinginkan bersama. *
*) Penulis adalah Staf di Universitas Cenderawasih Papua dan Mahasiswi Magister Manajemen Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih.




















Discussion about this post