Jayapura, Jubi – Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Cenderawasih (BEM Uncen) Jayapura, Frengky Kabak tertembak peluru karet di kaki kiri hingga berlubang, saat terjadi kericuhan antara demonstran dan kepolisian di kawasan Perumnas III Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (15/8/2026).
Ratusan mahasiswa Uncen bersama massa Komite Nasional Papua Barat atau KNPB menggelar aksi bertepatan dengan 64 tahun Perjanjian New York.
Aksi itu sebagai bentuk protes terhadap perjanjian yang ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Belanda pada 15 Agustus 1962.
Perjanjian yang ditandatangani di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu adalah kesepakatan peralihan Irian Barat (Papua) dari Belanda kepada Pemerintah Indonesia, tanpa melibatkan orang Papua.
Ketika itu, para pihak menyepakati peralihan Irian Barat dari Pemerintah Belanda kepada badan PBB, United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) sebelum diserahkan ke Pemerintah Indonesia.
Aksi di kawasan Perumas III Waena, terjadi dua kali kericuhan antara demonstran dan aparat kepolisian akibat negosiasi tak menemui kesepakatan.
Kepolisian memukul mundur massa menggunakan tembakan gas air mata, dan water canon. Massa membalas dengan melempar batu dan terjadi juga aksi saling melempar. Dalam kericuhan itu, Frengky Kabak tertembak di bagian betis kiri.
Kericuhan meresa setelah proses negosiasi Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Papua, mahasiswa dan kepolisian.
“Dalam insiden ini kami punya Wakil ketua BEM, Frengky Kabak tertembak peluru karet di kaki. Kejadian ini kami tidak terima, karena kami sudah negosiasi baik-baik kepada pihak kepolisian [namun pihak kepolisian melakukan tindakan] represif kepada kami,” kata koordinator lapangan mahasiswa, Fergis Kossay.
Kossay mengatakan, mahasiswa mulai bergerak dari Kabesma Uncen Gapuran Uncen Atas pukul 08.00 WP. Dari situ massa aksi turun menuju ke putaran taksi Permunas III. Namun demonstranan langsung diadang kepolisian.
Katanya, perwakilan mass aksi sempat mencoba bernegosiasi. Meminta Kepolisian menjaga dan mengawasi long marc ke Lingkaran Abepura, di Distrik Abepura atau memfasilitasi mahasiswa dengan kendaraan untuk bergabung dengan massa aksi di Lingkaran Abepura.
“Tapi polisi menolak, dengan alasan bahwa atasannya tidak mengizinkan massa aksi dari Permunas III bergabung di Abepura. Aparat keamanan dorong kami dan melakukan pemukulan, sehingga kami dipukul mundur dan terjadi saling melempar batu itu bentrok pertama,” ucapnya.
Menurutnya, setelah massa dari asrama Yahukimo bergabung bersama, mereka kembali mencoba bernegosiasi dengan polisi agar diizinkan menuju Lingkaran Abepura. Namun negosiasi kembali menemui jalan buntu.
Ketegangan antara massa dan polisi kembali terjadi. Polisi kemudian menembakkan gas air mata, dan water canon untuk membubarkan massa aksi.
“Dalam insiden ini, kami punya Wakil ketua BEM Universitas Cenderawasih, Frengky Kabak tertembak pake peluru karet di tulang kaki,” ujarnya.
Kossay merasa kesal dengan tindak represif kepolisian itu. Katanya, fungsi aparat keamanan itu melindungi, mengayomi masyarakat. Akan tetapi pihaknya justru me dapat perlakuan brutal.
“Sekarang kami tidak mengakui lagi polisi melindungi rakyat, tapi polisi pengacau keamanan dan ketertiban masyarakat,” katanya.
Perwakilan KNPB, Munguar Pahabol mengatakan KNPB Pusat dan KNPB Numbay mengkonsolidasi dan memediasi rakyat untuk aksi demonstrasi damai memperingati 64 tahun Perjanjian New York, sebagai salah satu akar persoalan yang menyebabkan Papua Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan.
“Sikap kami hari ini, penjajah berhasil kasih bubarkan kami. Tapi kami KNPB tidak akan menyerah, atau mundur. Kami akan tetap berjuang bersama-sama dengan rakyat sampai refrendum,” ucap Pahabol.
Katanya, yang diprotes pihaknya adalah Perjanjian New York antara Amerika, Belanda dan Indonesia, tanpa melibatkan orang Papua.
“Yang kami protes hari ini itu perjanjian Ilegal yang disebut dengan New York Agreement. Perjanjian ini yang membuat bencana kemanusiaan dan darurat militer di Papua,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Kota atau Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Fredrickus W.A. Maclarimboen mengatakan, secara umum demonstrasi hari ini terkendali. Beberapa titik konsentrasi massa adalah kawasan Ekspo Waena, Perumnas III Waena, Lingkaran Abepura.
“Namun di Permunas III ada upaya massa menerobos blokade polisi, terjadi dorong-dorongan dan diawali pelemparan dari massa kepada petugas. Kami bubarkan dengan tegas sehingga kita membatasi ruang itu, ketika mereka mundur, kita berharap tidak terjadi lagi,” kata Fredrickus W.A. Maclarimboen.
Menurutnya, saat kericuhan pecah ada anggota keamanan yang terluka karena lemparan baru. Namun Kapolresta belum dapat memastikan jumlah korban dan kondisi korban.
Katanya,b1.560 personil keamanan diturunkan untuk melakukan pengamanan di beberapa titik aksi di Kota Jayapura. (*)
























Discussion about this post