Opini  

Dekonstruksi dan rekonsiliasi intelektualitas Papua (Refleksi atas aksi USTJ)

USTJ
Foto ilustrasi. - pixabay.com

Oleh: Siorus Degei*

Publik Indonesia digegerkan dengan aksi heroik pengibaran bendera Bintang Kejora beberapa mahasiswa di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Kamis (10/11/2022). Mereka ini tampil apa adanya. Tidak terlihat canggung atau takut dan gegabah. Aksinya tampak profesional, dewasa, demokratis dan bijaksana.

Hal ini menandaskan bahwa mereka benar-benar mahasiswa sejati, yang mampu menampilkan kedewasaan intelektual dan kematangan emosional di depan aparat keamanan. Sebenarnya di balik aksi ini banyak nilai kebajikan dan kebijakan hidup, dan ada beberapa pihak sentral yang menjadi target kritikan dari aksi itu.

Kritik atas universitas di Papua

Barangkali bertebaran pertanyaan. Kenapa para mahasiswa itu beraksi di kampus USTJ, tidak di jalanan, dan kenapa para pendemo dan pengibar Bintang Kejora itu mengancam eksistensi dan status quo civitas akademika USTJ lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan “nakal” ini tentu mengusik pikiran publik di Papua, terlebih mereka yang baru menyaksikan aksi nekat seperti ini. Namun jika ditelisik secara kompleks dan komprehensif, ternyata ada nilai besar yang sedang mereka perjuangkan.

Bahwa para mahasiswa ini hendak  menyelamatkan kesucian universitas dari jebakan oligarki, kartel, kapitalisme, kolonialisme dan dehumanisasi.

Pertama, patut kita sadari bahwa semakin ke sini situasi dan kondisi intelektualitas di Papua mengarah pada dehumanisasi. Banyak kampus atau universitas yang lari dari eksistensi, substansi dan esensi filosofisnya.

Kampus itu apa? Kampus itu dari mana? Kampus itu mau kemana? Kampus itu untuk siapa? Kampus itu harus buat apa? Kampus itu bagaimana? Dan pertanyaan eksistensial lainnya rupanya tidak terjawab selama ini.

Kedua, tridharma perguruan tinggi terdiri atas pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Apakah ketiga hal ihwal ini sudah terealisasi di Papua? 1) Bukan rahasia lagi bahwa pola pendidikan, pembinaan, dan pembangunan sumber daya manusia di di Papua hanya menghasilkan pengangguran yang meroket; 2) Kampus proyek. Banyak kampus yang tampil sebagai aktor intelektual. Dalam artian penelitian hanya dilakukan bagi kepentingan, keuntungan, keuangan dan kekuasaan oligarki, kartel, kapitalis, kolonial, liberal, feodal dan imperial. Contoh konkretnya dapat kita lihat dari pergerakan Universitas Cenderawasih. Nama baik kampus tersebut sudah “terporak-porandakan” oleh kepentingan sesaat dan sesat.

Kampus-kampus di Papua juga menjadi aktor intelektual yang mengembangkan misi depopulasi dan dekolonisasi melulu, dengan mengembangkan temuan-temuan ilmiah yang mengancam eksistensi manusia, alam, dan leluhur bangsa Papua; 3) Pengabdian. Sangat riskan dan musykil ditemukan bahwa kampus-kampus di Papua hanya mengabdi pada harta haram, tahta “iblis”, jabatan “abal-abal”, kepentingan hedonis, keuntungan pragmatis dan kekuasaan zalim.

Kritik atas mahasiswa di Papua

Seperti sudah disinggung di atas bahwa kampus-kampus besar di Papua, bahkan di Indonesia, hanya dapat memproduksi manusia-manusia kerdil, apatis, konsumtif, dan instan. Bahwa aksi pengibaran dan demonstrasi para mahasiswa USTJ itu hendak menegur para mahasiswa yang selama ini tidak tampil sebagai guardian of value (penjaga nilai), agent of change (agen perubahan), iron stock (generasi penerus), social control (pengontrol sosial), dan moral force (kekuatan moral) atas potret fenomena realitas sosial, politik, hukum, HAM, ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan, religi dan lainnya.

Mahasiswa dewasa ini hanya tampil dan memanifestasikan fenomena “mahasiswa tik-tok, youtube, facebook, instagram, twitter, patola, PUBG, mobile legend, free fire, dan ludo king”. Singkatnya mahasiswa dewasa ini adalah “mahasiswi handphone”. Padahal, Papua membutuhkan dan mengharapkan “mahasiswa buku, kertas-pena, perpustakaan, diskusi, mahasiswa lapangan/jalanan, tapol, rimba dan laut. Singkatnya Papua butuh mahasiswa yang sesuai dengan realitas kepapuaan.

Kritik terhadap para dosen di Papua

Selain kampus dan mahasiswa yang menjadi “tumbal” kepentingan, keuntungan, keuangan dan kekuasaan para neokolonialis, neokapitalis, neoliberal, neoborjuasi, neofeodalis, neoteknotratid, neoindustrialis dan neoimperialis, rupanya para intelektual di Papua juga menjadi “target empuk” para mafia dan gangster humanis dan ekologis. Banyak dosen yang difasilitasi oleh “iblis-iblis berdasi” sebagai aktor intelektual untuk meloloskan agenda-agenda, proyek-proyek, dan visi-misinya di Papua.

Tidak sedikit dosen atau intelektual yang menjadi “bidak dan budak” NKRI; mulai dari aneksasi 1962, Pepera 1969, otonomi daerah 1969-1998, otonomi khusus jilid 1 dan 2, pemekaran daerah otonomi baru (DOB), dan agenda etnosida, spiritsida, genosida dan ekosida di Papua lainnya.

Beberapa pokok penegasan

Pertama, memang tidak bisa dinafikan pula bahwa selama ini banyak kontribusi dan terobosan konstruktif, produktif dan positif yang dihadirkan oleh kampus, mahasiswa dan dosen di Papua. Namun yang terpampang secara telanjang hanyalah peran-peran yang terbatas, imparsial, dan irasional, dan semu. Banyak kampus, dosen dan mahasiswa yang progresif dan profesional dalam menegakkan kebenaran, keadilan dan kedamaian di Papua. Namun gerakan ini cenderung spontanitas dan karikatif;

Kedua, fenomena bahwa kampus menjadi koalisi, tim sukses, bidak dan budak kepentingan, keuntungan, kekayaan dan kekuasaan para “iblis berjas dan berdasi” itu lumrah di Papua. Karena itu, dibutuhkan evaluasi, refleksi, koreksi, konstruksi, rekonstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi, baik internal, maupun eksternal kampus;

Ketiga, fenomena krisis eksistensial mahasiswa Papua bukan lagi berita baru. Bahwa mahasiswa yang mengalami krisis identitas, substansi, esensi dan eksistensi sebagai guardian of value (penjaga nilai), agent of change (agen perubahan), iron stock (generasi penerus), social control (pengontrol sosial), dan moral force (kekuatan moral) atas potret fenomena realitas sosial, politik, hukum, HAM, ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan, religi dan lainnya bagi manusia, alam, leluhur dan Allah bangsa Papua. Sehingga dibutuhkan evaluasi, refleksi, koreksi, konstruksi, rekonstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi internal maupun eksternal mahasiswa;

Keempat, tidak kalah penting fenomena anomali, irasionalitas kaum cendekiawan/ti di Papua. Pasalnya, tidak sedikit kaum intelektual menjadi kaum “neosofis” di “pasar-pasar” kepentingan, kekayaan, kenikmatan, dan kekuasaan otoriter, diktator dan zolim.

Pada zaman pra-Sokrates para sofis ini adalah para intelektual, sastrawan, seniman, dan filsuf yang suka menjual kekayaan intelektualnya pada istana, raja-raja, dan rezim tertentu (Jubi.co.id, 17/11/2021). Kurang lebih fenomena yang sama pula yang sedang diperjuangkan dan dipertontonkan oleh para dosen di Papua. Sehingga dibutuhkan evaluasi, refleksi, koreksi, konstruksi, rekonstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi internal maupun eksternal.

Dengan demikian, sejatinya aksi demonstrasi dan pengibaran Bintang Kejora oleh para mahasiswa USTJ seperti disinggung di muka merupakan sebuah “ibadah rekonsiliasi intelektual” atau “perayaan metanoia hati nurani dan akal budi civitas akademika” atau “misa keselamatan peradaban sumber daya manusia dan alam” di Papua yang hendak mendekonstruksi dan merekonsiliasi tabiat, habitat, dan habitus kampus, mahasiswa dan para dosen sejak aneksasi 1962, Pepera 1969, OTDA 1969-2000, Otsus Jilid I-II, dan DOB/Pemekaran terjerumus dalam pusaran jurang, jebakan batman, dan “tirani beban moril” atas para mafia dan gangster etnosida, spiritsida, genosida dan ekosida di Papua.

Berkaca dari nasionalisme dan patriotisme para mahasiswa dan pengibar Bintang Fajar di USTJ itu, maka sudah saatnya universitas menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat). Pertama-tama hanya demi pembelaan/penghargaan, dan penegakan terhadap nilai kebenaran, keadilan dan kedamaian bagi Bumi Cenderawasih.

Semoga ada “pertobatan intelektual”, “metanoia intelektualitas” dan “rekonsiliasi akal budi dan hati nurani” kampus, mahasiswa dan dosen demi Papua baru, Papua tanah damai, dan Papua yang dipenuhi kemuliaan Tuhan. (*)

* Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura-Papua

Comments Box

Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari News Room Jubi. Mari bergabung di Grup Telegram “News Room Jubi” dengan cara klik link https://t.me/jubipapua , lalu join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
banner 400x130    banner 400x130
banner 400x130    banner 400x130
banner 728x250