Jayapura, Jubi – Menjadi penyandang disabilitas tak pernah membuat seorang Hana Resti minder atau berputus asa dengan keadaan. Atlet para tenis meja, cabang olahraga bagi atlet dengan disabilitas, dan meraih banyak prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Berkat prestasinya, ia kini menjadi Aparatur Sipil Negara atau ASN Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Hana Resti adalah atlet tuna daksa yang lahir di Jayapura pada 21 Oktober 1994. Ayahnya adalah seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Jayapura.
Saat kecil, perempuan berdarah Toraja itu tak pernah bercita-cita menjadi seorang atlet. Hana Resti bahkan mengaku tidak ada kerabatnya yang menjadi olahragawan. Deretan prestasi Resti sebagai atlet para tenis meja berawal dari teras rumahnya, saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Ia sering bermain tenis meja dengan sebuah meja yang dibuat oleh ayahnya sendiri. Saat itu, ia bahkan memakai sandal atau buku sebagai bet atau pemukul bola tenis meja.
“[Saya] tidak pernah terpikir [untuk menjadi atlet] sih awalnya. Dulu kebetulan hanya sering main di rumah sendiri. Orangtua saya membuat meja. Awalnya hanya main-main menggunakan bet dari sandal atau buku,” kata Resti kepada Jubi, belum lama ini.
Berkat ayahnya, Resti berkesempatan mengikuti seleksi untuk menjadi atlet Yayasan Pembina Olahraga Cacat atau YPOC, lembaga yang kini berganti nama menjadi Komite Paralimpiade Nasional atau NPC Indonesia. Di sanalah Resti mendalami bakatnya sebagai atlet para tenis meja, dan mulai mengikuti berbagai kejuaraan.
“Saya pertama ikut seleksi itu waktu SD. Bapak saya mengajar di SLB. Waktu itu [nama lembaga] NPC Indonesia masih YPOC. [Sejak saat itu] saya mulai ikut pertandingan,” tuturnya.
BERITATERKAIT
Resti kemudian melangkah jauh di dunia olahraga. Pada 2011, ia tampil pada Pekan Olahraga Pelajar Cacat Nasional (sekarang Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional atau Peparpenas) V yang berlangsung di Provinsi Riau. Pada ajang kompetisi multicabang olahraga tingkat nasional yang dikhususkan atlet disabilitas itu, Resti berhasil meraih medali emas.
Karena prestasinya itu, Resti kemudian mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan Pemusatan Latihan Nasional atau Pelatnas ASEAN Para Games. Saat itu, ia masih mengenyam pendidikan SMA di Taruna Bhakti Jayapura.
Resti kemudian bergabung dengan Pelatnas di Solo, dan langsung dipercaya untuk memperkuat Tim Para Tenis Meja Indonesia dalam ASEAN Para Games VI yang berlangsung di Indonesia pada 2011. Dalam ajang itu, Resti meraih medali perak nomor pertandingan tunggal putri T18 dan medali perunggu nomor pertandingan ganda T18.
“Karena dulu itu [atlet para] tenis meja belum banyak, saya ditawari ikut Pelatnas. Akhirnya saya berlatih di Pelatnas Solo, sampai sekarang,” ujarnya.
Meski telah bergabung dengan Pelatnas, Resti tetap membawa nama Papua. Ia menjadi anggota Kontingen Peparnas Papua pada Pekan Paralimpiade Nasional atau Peparnas XIV Riau 2012. Peparnas merupakan kejuaraan multicabang olahraga tingkat nasional yang dikhususkan bagi atlet dengan disabilitas.
Resti mencetak prestasi gemilang. Ia meraih medali emas nomor pertandingan tunggal putri klasifikasi T9, dan merebut medali nomor pertandingan perak ganda campuran klasifikasi T9. “Peparnas tahun 2012 di Riau itu menjadi Peparnas pertama saya. [Sejak saat itu], saya tidak pernah absen di ajang Peparnas,” katanya.

Sering dirundung
Jauh sebelum menjadi seorang atlet nasional, Hana Resti menjalani masa kecil yang keras. Ia sering mengalami perundungan (bullying) karena kondisi fisiknya. Namun berbagai perundungan itu tidak melunturkan semangat hidupnya. Resti tak pernah menganggap dirinya berbeda dengan kebanyakan orang, ia pun bersekolah di sekolah umum.
“Waktu kecil, saya melihat saya sama dengan orang lain, saya belum paham karena masih kecil. Waktu SD, saya sudah kena bullying, biasa lah anak SD. Sempat minder, yah namanya anak kecil, waktu di-bully pasti nangis. Dulu, saya selalu hindari anak kecil, karena mereka biasanya [bicara] spontan. Tapi kalau orang dewasa yang bully, biasa saya omongin balik,” ujarnya.
Sejak ia merantau ke Solo, anak pertama dari empat bersaudara itu mengaku tak pernah lagi menjadi korban perundungan. “Waktu lulus SMA itu saya langsung ke Solo, alasannya waktu itu kepada orangtua saya [bilang] mau kuliah. Setelah pergi dari Jayapura, saya lebih percaya diri. Waktu masih di Jayapura, saya merasa menjadi kaum awam dan agak aneh, karena sering dilihat terus oleh orang-orang. Kalau di sini [di Solo], saya tidak pernah mengalami itu,” tuturnya.
Meskipun hanya memiliki satu lengan, Hana Resti membuktikan dirinya bisa sukses di dunia olahraga. Kini ia dikenal sebagai atlet para tenis meja unggulan, dan menjadi salah satu atlet Tim Para Tenis Meja Indonesia.
Ketua NPCI Papua, H Jayakusuma bangga dengan pencapaian Resti. “Hana Resti ini memang sudah lama menjadi atlet kami. Dia merupakan salah satu atlet yang paling berprestasi. Dia membela NPCI Papua sejak Peparnas tahun 2012 di Riau. Kami bersyukur punya atlet hebat seperti Hana Resti,” kata Jayakusuma.
Ketua Bidang Organisasi NPCI Papua yang juga selaku Kepala Sekolah SLB Jayapura, Kamino juga menuturkan Hana Resti merupakan atlet berbakat. Sejak kecil Kamino sudah melihat bakat dan mental juara pada diri Hana Resti.
“Resti itu sejak kecil sudah sering ikut melihat kegiatan olahraga NPCI. Dari kecil Resti juga sudah punya mental juara, karena tidak pernah minder,” kata Kamino.

Juara dunia
Hana Resti punya banyak prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Bersama NPCI Papua, Resti tak pernah absen berkontribusi dalam perolehan medali Kontingen Peparnas Papua dalam berbagai ajang Peparnas. Dalam Peparnas XIV Riau 2011, Peparnas XV Jawa Barat 2016, Peparnas XVI Papua 2021, maupun Peparnas XVII Jawa Tengah 2024, Resti selalu meraih medali emas.
Prestasinya juga mentereng di tingkat internasional. Ia mempersembahkan medali untuk Indonesia di ajang ASEAN Para Games atau ajang olahraga disabilitas antar negara Asia Tenggara, sejak ASEAN Para Games VI tahun 2011 di Indonesia hingga ASEAN Para Games XII tahun 2023 di Kamboja.
Pencapaian terbaiknya yakni menggondol tiga medali emas sekaligus pada ASEAN Para Games XI di Solo tahun 2022. Ia juga meraih empat medali ASEAN Para Games XII di Kamboja.
Di level Asia, Resti juga pernah mempersembahkan medali perunggu pada Asian Para Games tahun 2018 di Jakarta. Ia menggenapi prestasi di tingkat internasional itu dengan memenangi Kejuaraan Dunia Para Tenis Meja di Spanyol tahun 2022, ketika berduet dengan mendiang atlet elit para tenis meja Indonesia, David Jacobs.
“Itu yang paling berkesan bagi saya, waktu kejuaraan dunia di Spanyol tahun 2022 saya duet sama Kak David Jacobs di ganda campuran. Itu pertama kali [saya] tampil di kejuaraan dunia, dan pertama kali juara,” kenang Resti.
Sederet prestasi yang ia raih itu mengantarnya menjadi ASN Kemenpora. Ia lolos seleksi ASN melalui jalur prestasi, setelah mempersembahkan satu medali emas dan dua medali perak ASEAN Para Games VIII Singapura 2015 di Singapura.
Waktu itu, Presiden Joko Widodo berjanji jika atlet disabilitas meraih medali emas ASEAN Para Games VIII, mereka akan diangkat menjadi ASN. Resti bersama beberapa atlet disabilitas lainnya, termasuk atlet para renang Papua, Marinus Melianus Jowei kemudian diangkat sebagai ASN.
“Waktu itu pas [masa pemerintahan] Pak Jokowi, tahun 2015. Syaratnya [atlet] harus mendapatkan medali ASEAN Para Games. Saya dapat medali emas nomor perorangan. Tahun 2019 pengangkatan. Kantor kami di lapangan, tapi [kami] staf Kemenpora, dan status kami tetap atlet,” ujarnya.
Usai perhelatan Peparnas XVII di Solo, Jawa Tengah, pada awal Oktober lalu, Resti memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya. Ia menikah dengan mantan atlet para renang Papua, Jendi Panggabean pada 20 Oktober 2024 di Jayapura.
Hingga kini, Hana Resti masih tergabung dalam Pelatnas, dan masih melanjutkan kariernya sebagai atlet. Resti akan kembali berkompetisi dalam ASEAN Para Games XIII Thailand pada tahun 2025 mendatang. (*)

































