Jakarta, Jubi – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK memperingatkan komposisi sampah plastik dapat bertambah. Untuk itu, KLHK menyampaikan diperlukan penanganan dan sinergi oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk produsen.
“Kalau kita bekerja biasa-biasa saja dengan kumpul angkut buang, tidak ada pengurangan, tidak ada pemilahan, maka kalau kita bicara sampah plastik komposisinya akan meningkat dua kali lipat, dari 19,21 persen di 2023 maka akan menjadi 38,42 persen pada 2050. Tapi mirisnya untuk bahan baku daur ulang kita masih juga impor dari negara lain,” kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati di Jakarta, Senin (7/10/2024).
Dia merujuk kepada target penanganan sampah, yaitu pengurangan sampah 30 persen dan 70 persen pengelolaan sampah yang perlu dicapai pada 2025. Sementara menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), total timbulan sampah mencapai 38,2 juta ton pada 2023 dan 38,21 persen di antaranya tidak terkelola.
Untuk itu, Vivien mendorong sinergi antara pemangku kepentingan untuk mewujudkan pengelolaan sampah di Indonesia yang lebih baik, didukung aturan perundang-undangan.
“Kita punya slogan ‘sampahku adalah tanggung jawabku’, maka sampah yang kita hasilkan menjadi tanggung jawab kita sendiri, juga saya minta tolong produsen, yang juga memproduksi barang-barang yang menggunakan wadah, tolong kami dibantu untuk bisa mengurangi sampah, menarik kembali sampah, merancang kembali kemasan,” katanya.
Salah satunya, kata dia, dengan Extended Producer responsibility (EPR) atau tanggung jawab produsen diperluas yang tertuang dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.75 Tahun 2019. tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Secara khusus dia meminta kepada produsen yang ditargetkan dalam aturan itu yaitu manufaktur, jasa makanan dan minuman serta ritel, untuk segera menyusun peta jalan untuk menekan timbulan sampah plastik sekali pakai.
Menurut data KLHK sampai Agustus 2024, dari 556 produsen yang menerima bimbingan teknis dari KLHK sebanyak 95 produsen sudah memiliki akun untuk menyusun peta jalan pengurangan sampah, 52 di antaranya sudah mengirimkan dokumen peta jalan tapi belum mendapatkan persetujuan dan 21 produsen sudah menerima persetujuan serta siap melaksanakan.
Terdapat juga 20 produsen yang sudah melaksanakan peta jalan pengurangan sampah, dan berhasil mengurangi sekitar 127 ribu ton timbulan sampah pada 2023.
Peneliti: Mikroplastik ditemukan di berbagai ekosistem
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova memperingatkan, bahwa mikroplastik sudah ditemukan di hampir semua ekosistem mulai dari perairan hingga pegunungan dengan kelimpahan yang beragam.
“Jadi di Indonesia itu memang seluruh bagian ekosistem mulai dari air, tanah, udara, air tawar, lautan terdalam, gunung tertinggi itu semua sudah terkontaminasi mikroplastik,” ujar Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN Reza dalam diskusi daring BRIN yang dipantau dari Jakarta, belum lama ini.
Dia menjelaskan mikroplastik di lingkungan sendiri merupakan hasil sampah plastik yang terdegradasi dan tidak dikelola dengan baik, baik dibuang secara sembarangan maupun hasil pengelolaan yang tidak tepat seperti dimusnahkan dengan proses pembakaran.
Kandungan mikroplastik yang bocor ke lingkungan dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui ikan atau hewan air lain yang dikonsumsi, selain itu juga lewat pernapasan dan paparan terhadap benda plastik yang mengalami proses pelapukan atau degradasi perlahan.
Menurutnya, 75 persen dari sampel biota air, tanah dan udara dari penelitian terkait mikroplastik sampai dengan 2024 memperlihatkan kandungan mikroplastik.
Selain itu, permodelan penyebaran mikroplastik di permukaan air laut wilayah Asia Tenggara memperlihatkan bahwa semakin dekat dengan arah aktivitas penduduk maka semakin tinggi pula mikroplastik yang lepas ke lautan.
Kelimpahan mikroplastik juga beragam, mulai dari 0,1 sampai 11 juta partikel mikroplastik per 1.000 liter air, 3 sampai 50.000 partikel per kilogram tanah dan 0,1 sampai 65 partikel per individu produk perikanan.
“Dari sekitar 109 negara, negara Asia Tenggara termasuk yang paling banyak ‘mengonsumsi’ mikroplastik,” ujarnya.
Namun, meski jumlah penggunaan produk plastik Indonesia lebih rendah dibandingkan negara tetangga yaitu 22,5 kilogram per kapita, lebih sedikit dibandingkan Singapura lebih dari 100 kilogram dan Malaysia 80 kilogram, tapi atribusi sampah plastik yang bocor ke lautan diperkirakan lebih besar.
Menurut Reza, hal itu terkait erat dengan pengelolaan sampah di Indonesia yang masih belum optimal, termasuk masih maraknya praktik pembakaran sampah secara terbuka oleh masyarakat.
Untuk itu, dia mendorong pengelolaan sampah plastik yang lebih baik dan pengurangan produksi plastik sekali pakai yang masih terjadi saat ini. (*)





















Discussion about this post