Jayapura, Jubi – Banyaknya sampah plastik yang berserakan di sekitar lokasi wisata Tugu Pekabaran Injil di Tanah Tabi, yang dibangun di Pulau Metu Debi, Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, menjadi perhatian serius Komunitas Rumah Bakau (RB) Jayapura.
Salah satu komunitas yang peduli terhadap lingkungan di Kota Jayapura ini, merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Hal itu dikatakan Koordinator Umum Komunitas RB Jayapura, Muhammad Iqbal Asra, saat ditemui di Kota Jayapura, pada Senin (2/12/2024).
“Kami telah melakukan pembersihan di sekitar tugu itu, baik melalui inisiatif sendiri maupun dalam rangka kolaborasi dengan komunitas lokal lainnya. Kawasan ini menjadi salah satu titik utama pembersihan sampah yang kami lakukan, karena keberadaannya yang strategis dan sering dikunjungi wisatawan, sehingga menuntut perhatian lebih dalam terkait pengelolaannya,” katanya.
Diperkirakan, sampah yang diangkut mencapai ratusan kilogram dalam sekali aksi bersih-bersih. Sampah-sampah ini terdiri dari botol plastik, kantong plastik, styrofoam, dan sampah rumah tangga lainnya yang terbawa arus. Kemudian yang paling banyak adalah botol kaca dan kemasan oli.
“Kami fokus pada pembersihan wilayah pesisir, mangrove, dan perairan di sekitar Kota Jayapura. Aktivitas yang dilakukan seperti pengangkutan sampah plastik yang terdampar atau terperangkap di area mangrove Kampung Enggros Tobati, itu rutin dikumpulkan dan dibuang,” ujarnya.
Ia menyampaikan komunitas yang diketuai salah satu jurnalis, Abdel Gamel Naser itu memang sering mengedukasi masyarakat maupun para pelajar di Kota Jayapura, tentang bahaya sampah plastik terhadap lingkungan laut, khususnya mangrove, dan mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
“Masyarakat di Kampung Enggros dan Tobati harus berperan penting dalam menjaga lingkungan di sekitar mereka. Ada kelompok masyarakat setempat yang bekerja sama dengan Komunitas RB Jayapura, mengumpulkan sampah dan membersihkan kawasan hutan mangrove yaitu kelompok tani hutan Ibayauw,” katanya.
Komunitas RB Jayapura juga sering menggandeng masyarakat umum dari Kota Jayapura, termasuk pelajar, mahasiswa, dan komunitas lainnya, untuk bersama-sama melakukan aksi bersih lingkungan. Kegiatan ini selain membantu mengurangi sampah juga meningkatkan kesadaran warga kota.
“Kami sampai saat ini terus berupaya mengurangi dampak sampah plastik dengan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan, meskipun tantangan tetap ada, terutama dari sisi volume sampah yang besar dan pola konsumsi plastik masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Aktivis Lingkungan Enggros, Petronela Merauje, mengatakan sampah-sampah plastik yang tersebar dan terdampar di wilayah Holtekamp dan sekitar Kampung Enggros Tobati itu, sebagian besar adalah sampah yang terbawa arus dari Kali Acai, Distrik Abepura, Kota Jayapura.
“Kesadaran warga yang tinggal di daerah Padang Bulan sampai Abepura, itu perlu ditingkatkan, supaya tidak membuang sampah ke kali, karena kalau seperti ini terus, kami di sini yang terima imbasnya, laut tercemar sampah, populasi biota laut juga ikut berkurang, banyak sampah juga yang terdampar di hutan mangrove,” katanya. (*)




















Discussion about this post