Nabire, Jubi – Ketua Pokja Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah Benny Wenior Pakage mengkritik Pemerintah Kabupaten Nabire dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam penanganan wabah ASF. Menurutnya penanganan wabah ASF di Nabire tidak seserius penanganan Covid-19.
“Harusnya semua kekuatan diturunkan untuk menjaga agar babi masyarakat tidak punah. Pemerintah juga seharusnya sudah bisa mendeteksi wabah ini dari jauh sebelumnya agar bisa mencegah jauh-jauh hari, bukan sudah ada wabah baru mulai ambil kebijakan, ini fatal,” katanya kepada Jubi yang meminta tanggapannya pada Rabu (22/1/2025).
Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah dilanda wabah ASF (African Swine Fever) atau penyakit DBA (Demam Babi Afrika) sejak awal November 2024. Dalam tiga bulan, dari 7 November 2024 hingga 9 Januari 2025, tercatat 2.054 ekor babi milik peternak dan warga mati akibat wabah itu. Untuk mengatasi wabah tersebut, Bupati Nabire menetapkan Status Keadaan Darurat Wabah Penyakit ASF di Kabupaten Nabire melalui Surat Keputusan Nomor 828 tanggal 14 November 2024.
Pakage mengatakan pemerintah harus belajar dan studi banding ke daerah atau negara lain terkait penanganan wabah ASF, karena sebagian Orang Asli Papua memelihara babi.

“Kalau dilihat dari pengalaman penanganan di negara lain, seperti Korea dan Mongolia, mereka hentikan pasokan babi, baik daging maupun ternak dari Cina untuk mengatasi DBA di wilayah mereka,” katanya.
Dengan melihat situasi ini, kata Pakage, seharusnya pemerintah mengambil langkah tegas untuk mengisolasi setiap peternakan serta penjualan daging dan ternak.
“Tutup daerah seperti Biak, Serui, dan Waropen yang biasa mengirimkan babi ke Nabire menggunakan kapal laut. Kemudian selidiki sepanjang jalan menuju ke Paniai dan Deiyai, tidak boleh babi dikirim ke atas selama virus ini mewabah di Nabire,” ujarnya.
Di tempat lain seperti Korea, kata Pakage, mereka melarang penjualan pakan babi tanpa uji laboratorium.
“Di Papua ini mereka melihat DBA biasa saja tanpa memikirkan dampak ekonomi warga. Di Nabire, Timika, Deiyai, dan Paniai saya melihat ada wabah tetapi pedagang menjual pakan ternak tanpa ada uji laboratorium, ini penanganan virus yang sangat kacau” katanya.
Menurut Pakage pemerintah seharusnya berani menghentikan sementara penjualan daging babi dan melakukan penanganan serius terhadap virus tersebut.
“Isolasi babi-babi yang ada, suntik antibiotik, semprot kandang-kandang, dan tangani babi-babi yang mati sesuai peraturan yang ada agar benar-benar dimusnahkan,” ujarnya.
Pakage mengatakan saat ini masyarakat rugi banyak karena DBA. Dalam kondisi seperti ini ekonomi masyarakat terhimpit dan pemeritah seharusnya memiliki alternatif lain untuk membantu masyarakat selama virus mewabah.
“Agar mereka bisa berjualan lain yang bisa mendatangkan pendapatan,” katanya.
Pemerintah daerah menurutnya juga harus berpikir memperketat wilayah masing-masing dan tidak boleh lagi ada mobilisasi ternak babi.
“Semua pesta yang tidak penting dihentikan sementara agar virus ini tidak menyebar ke kampung-kampung di pedalaman atau ke peliharaan babi di kota-kota,” katanya.

Pakage menyampaikan dalam tradisi hidup orang Papua babi memiliki nilai yang penting karena biasa dipakai saat membayar mas kawin, membayar denda untuk menyelesaikan masalah, dijual untuk mencari uang, serta dipakai juga dalam ritual keagamaan, adat, dan budaya.
“Selain orang Papua yang babi bagi mereka memiliki nilai penting, mereka yang anut agama Kristen, Hindu, Buddha, dan dan Konghucu juga biasa menilai babi sebagai sesuatu yang penting dalam acara tertent,” ujarnya.
Tidak ditemukan cacing pita
Dokter Hewan Irvan Arief Palo dari Posko Darurat ASF Kabupaten Nabire mengatakan dalam wabah ASF (African Swine Fever) di Kabupaten Nabire 2024-2025 tidak ditemukan cacing pita.
“Cacing pita hanyalah penyakit sekunder yang menambah keparahan pada babi,” katanya kepada Jubi, Rabu (22/1/2025).
Namun pemilik fasilitas rawat inap hewan peliharaan ‘Rigel Vet’ itu menyampaikan bahwa cacing pita dapat menyebabkan kematian pada babi.
“Medianya bisa melalui makanan yang belum dimasak, sisa BAB yang dimakan babi, dan sebagainya,” ujarnya.
Pada babi, kata Palo, lazim dijumpai kasus cacing pita atau sistiserkosis. Fase ini yang biasa menular kepada manusia melalui daging babi. Cacing pita terseut pemberantasannya berkala dan tidak diprogramkan seperti kasus lain.
“Jika daging babi yang tidak dimasak sempurna kemudian ada merah-merah kalau dibakar tidak matang, itu bisa menular ke manusia,” katanya.
Untuk mencegah tersebarnya cacing pita maka caranya adalah menghindari mengonsumsi daging mentah atau setengah matang, seperti daging sapi, babi, atau ikan air tawar.
Kemudian, tambah Palo, memasak daging dan ikan hingga matang sempurna. Mencuci bersih buah dan sayur sebelum dikonsumsi, mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah mengolah makanan, sebelum makan, dan setelah menggunakan toilet.

“Intinya membiasakan pola hidup bersih dan sehat. Mengonsumsi obat cacing secara berkala. Kemudian hindari mengonsumsi air mentah. Jika memiliki hewan peliharaan, bawalah ke dokter hewan jika terinfeksi cacing pita,” ujarnya.
Sebelumnya, di sela melantik Penjabat Bupati Mimika pada 14 Januari 2025, Penjabat Gubernur Papua Tengah Anwar Harun Damanik mengatakan berkomitmen untuk mengatasi wabah African Swine Fever (ASF) di Provinsi Papua Tengah.
“Wabah ASF telah menyebabkan kerugian besar bagi peternak babi di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Dari 7 November 2024 hingga 9 Januari 2025 tercatat sebanyak 2.054 ekor babi mati akibat wabah ini. Sementara di Kabupaten Mimika hingga 1 April 2024 tercatat 5.819 ekor babi mati akibat virus ASF,” katanya.
Untuk mengatasi wabah ASF, kata Damanik, Pemprov Papua Tengah telah membentuk satuan tugas (satgas) khusus.
“Beberapa langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi wabah ASF, di antaranya memberikan subsidi untuk mengendalikan lonjakan harga daging. Juga memastikan harga daging tetap stabil dan terjangkau bagi konsumen, serta menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan Kementerian Pertanian,” katanya.
Damanik juga telah menginstruksikan peternak babi yang sakit atau mati secara mendadak untuk segera melapor kepada petugas, serta melakukan pemantauan dan pengamatan langsung ke lapangan. Selain itu juga melakukan depopulasi atau pemusnahan terbatas di daerah wabah, serta meningkatkan desinfeksi di peternakan babi.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua Tengah Jhoni Kobogau saat ditemui Jubi di halaman Kantor DPR Papua Tengah Senin (20/1/2024) mengingatkan kepada warga agar tidak mengonsumsi daging babi yang terkena virus ASF dan mencegah penularan virus dengan menjaga kesehatan kandang.
“Karena ampas makanan itu bisa menyebabkan penularan ke babi-babi lain yang masih hidup. Nanti setelah wabah ini sudah lewat sekian bulan barulah konsumsi babi lagi, kita harus mencegah penularan ini agar babi tidak musnah,” katanya.
Kobogau meminta legislatif dan eksekutif di Papua Tengah dapat bekerja sama untuk pengadaan ternak babi dan didistribusikan kepada masyarakat Provinsi Papua Tengah.
“Karena banyak warga kami telah kehilangan ternak mereka, mereka menyesal hari ini banyak orang yang kehilangan ternak babinya, satu kandang bisa 20 sampai 30 ekor, bahkan sampai 50 ekor mati,” katanya.
Kobogau meminta agar pedagang daging babi tidak menjual daging babi yang sakit dan kalau bisa pengadaan daging babi di pasar untuk sementara dihentikan.
“Karena babi sehat pun bisa terpapar karena ini musim sakit,” katanya. (*)




Discussion about this post