Jayapura, Jubi – Sore itu udara di kawasan Bandara Lama Nabire, Papua Tengah terasa hangat, namun antusiasme peserta di arena kegiatan Festival Media se-Tanah Papua 2026 jauh lebih membara. Di hadapan puluhan pelajar, anak muda, jurnalis dan pekerja media, Citra Dyah Prastuti, Wakil Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Pusat, melempar sebuah pertanyaan reflektif; “Apa yang tidak kelihatan dari saya?”
Citra sedang membedah identitas, hal yang tampak seperti gender dan suku, serta hal yang tersembunyi seperti agama atau usia. Baginya, memahami identitas adalah langkah awal memahami GEDI (Gender, Equality, Diversity, and Inclusion), sebuah napas baru yang harus ditiupkan ke dalam industri media di Tanah Papua.
Membicarakan gender sering kali terjebak pada istilah teknis. Citra menyederhanakannya dengan analogi sepeda. Ia memaparkan perbedaan mendasar antara equality (kesetaraan) dan equity (keadilan).
“Kesetaraan itu artinya semua orang dapat sepeda yang sama. Tapi kalau sepeda dewasa dikasih ke anak kecil atau ibu yang sedang menggendong anak, sepeda itu tidak berguna,” ujar Citra yang tampil sebagai pemateri dalam dua sesi pada Rabu, 14 Januari 2026. Sebaliknya, keadilan (equity) adalah memberikan sepeda sesuai kebutuhan; sepeda kecil untuk anak, dan sepeda dengan boncengan untuk sang ibu.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Prinsip ini, menurut Citra, adalah kunci bagi jurnalis, terutama saat menyusun proposal bantuan dana (grant). Pihak donor internasional kini sangat menitikberatkan pada sejauh mana aspek gender dan inklusi masuk dalam rancangan liputan.
Realita sosial yang timpang masih menjadi pemandangan sehari-hari yang sering dianggap normal oleh media. Citra mencontohkan bagaimana seorang ayah yang pulang membawa makanan dianggap “ayah hebat”, sementara ibu yang melakukan hal sama justru dicap “malas memasak”.
Di dunia kerja, perempuan masih sering dihadang hambatan domestik sementara laki-laki bisa berlari kencang mengejar karier tanpa beban cucian atau masakan. Ketimpangan ini tercermin dalam data, hanya satu dari empat narasumber di media adalah perempuan.
“Kalau liputan isinya laki-laki semua, pembaca perempuan akan merasa tidak relevan. Padahal, riset menunjukkan konten yang representatif memiliki potensi pembaca yang lebih tinggi,” ucapnya.
Citra juga menyoroti unconscious bias atau prasangka bawah sadar yang kerap menghinggapi jurnalis. Bias terhadap orang bertato, berambut gimbal, atau stigma usia sering kali mempengaruhi keputusan redaksi, mulai dari proses rekrutmen hingga pemilihan sudut pandang berita.
“Jika satu redaksi memelihara bias terhadap kelompok tertentu, pemberitaannya bisa keliru. Itulah mengapa tim redaksi harus beragam; ada laki-laki, perempuan, senior, dan junior agar bisa saling mengoreksi bias masing-masing,” ucapnya.

Harapan dari Nabire
Sesi tanya jawab menjadi puncak kegelisahan sekaligus harapan peserta. Pertanyaan kritis muncul mulai dari kekerasan seksual terhadap jurnalis perempuan, alasan mengapa laki-laki jarang mengurus pekerjaan rumah, hingga stigma kesuksesan perempuan yang selalu harus diberi label “inspiratif”.
Menjawab pertanyaan para siswa SMA dan SMK di Nabire, Citra menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, seperti sekolah. “Memastikan ruang sekolah aman bagi teman perempuan yang sedang menstruasi agar tidak diejek adalah bentuk nyata mendukung kesetaraan. Kehilangan akses pendidikan karena rasa malu adalah awal dari ketidakadilan yang lebih besar,” ujarnya.
Bagi Citra, media di Papua memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga menyediakan konten yang aksesibel bagi semua orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik melalui penyediaan subtitle atau fitur ramah penglihatan.
Festival media se-Tanah Papua edisi perdana digelar selama tiga hari (13-15 Januari 2026) di Nabire. Kegiatan yang digagas oleh Asosiasi Wartawan Papua (AWP) ini menjadi pengingat bagi jurnalis di Bumi Cenderawasih bahwa berita yang baik adalah berita yang mampu memotret kemanusiaan secara utuh, tanpa meninggalkan seorang pun di belakang. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post