Jayapura, Jubi – Harga daging babi maish melonjak sejak Desember 2024 hingga Februari 2025, di Pasar Induk Regional Youtefa, Kota Jayapura, Papua.
Tot Korwa (22) satu dari sejumlah pedagang penjual daging babi di pasar tersebut mengatakan, sejak Desember hingga kini harga daging babi perkilogram masih mencapai 140 ribu rupiah dari sebelumnya Rp120 ribu. Kenaikan harga itu, karena mereka masih sulit mendapat stok babi hidup di Kota Jayapura.
” Kami penjual merasa kewalahan [untuk dapat] stok babi hidup, akibat serangan penyakit African Swine Fever (ASF) sejak Oktober 2024 sampai 2025 ini. Adapun itu berdampak terhadap pembeli, setelah mendengar informasi itu pembeli sudah tidak ramai,” ujar Korwa, di Pasar Youtefa, distrik Abepura, Kota Jayapura, pada Senin (17/2/2025)
Pedagang asal Biak itu menjelaskan, penyebaran ASF juga memengaruhi stok babi.
” Seminggu, kami hanya membeli satu seekor babi sekitar Rp8-10 juta, kemudian dipotong lalu dijual perkilogram. Namun terkadang dalam seminggu kami tidak mendapat stok,” ujarnya.
Korwa menduga penyebaran virus ASF mewabah, setelah masuk pengiriman daging babi dari luar kota seperti Timika, Sulawesi Tengah, Nabire, Bali dan Merauke.
” Saya berharap dinas terkait harus turun lapangan terhadap penjualan daging babi di semua tempat,” ujarnya.
Gondron (47), satu dari sejumlah warga peternak babi di belakang Perpustakaan Daerah Provinsi Papua Jln. Raya Kotaraja Abepura -Jayapura, mengklaim di kawasannya sejak 2023- 2025, ternak babi miliknya belum terserang virus ASF.
” Iya, saya pernah dengar informasi penyakit babi, tapi syukurlah kami dari 2023 sampai sekarang belum mengalami itu. Mungkin di Kota Jayapura, tetapi selain disini ada, saya belum pernah melihat secara langsung jadi takut ngomong [bicara],” ujarnya.(*)




Discussion about this post