Nabire, Jubi – Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Deiyai melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) memberikan Bimbingan Pelatihan cara mengelola kue bagi para pedagang Orang Asli Papua atau OAP yang berlangsung di Aula Katolik Waghete II, Kabupaten Deiyai Papua Tengah, Selasa (7/10/2025).
“Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk mempersiapkan pengusaha OAP di Deiyai. Karena tahun 2027 jalan dari Timika Deiyai akan tembus dan Deiyai akan menjadi tempat transit,” kata Bupati Deiyai, Melkianus Mote.
Sebagai tempat transit, akan banyak pengunjung yang akan datang ke Deiyai. “Masyarakat Deiyai harus memiliki skil agar pengunjung yang datang bisa membeli oleh oleh khas Deiyai yang bisa dipasarkan,” ujar Bupati.
Ia mengatakan pembinaan tersebut untuk membekali pedagang OAP dengan ilmu pengetahuan praktis guna menggerakkan ekonomi rumah tangga.
“Jadi dari enam puluh kelompok yang hadir ini yang benar-benar tekun dalam usahanya saya akan memberikan Kartu jaminan Ketenagakerjaan. Jadi kartu ini tidak hanya pegawai yang dapat tetapi kepada setiap pengusaha OAP, nanti berlaku tahun depan,” kata Bupati Melkianus Mote.
“Pelatihan dibutuhkan karena mulai tahun depan, Pemkab Deiyai akan mengubah sistem pengajuan proposal menjadi sistem pengawasan langsung di lapangan,” kata Bupati Mote dalam rilis yang diterima Jubi di Nabire, Papua Tengah pada Rabu (8/10/2025).
Melkianus Mote menjelaskan tahun ini, bantuan mungkin masih disalurkan kepada mereka yang belum sepenuhnya bekerja. Namun, untuk tahun mendatang, dinas terkait akan turun langsung ke lapangan melihat apa yang dikerjakan oleh masyarakat lalu didata dan diberikan bantuan.
Sejak Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Deiyai akan memasang spanduk tidak menerima Proposal. Bantuan akan diberikan dalam bentuk barang atau peralatan, bertujuan untuk menguji ketahanan usaha para pedagang sehingga siapa yang akan bertahan, itulah yang akan diberikan bantuan.
Kepala Dinas perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Deiyai, Burno Adii menegaskan bahwa kunci utama perubahan dan kemajuan adalah ilmu pengetahuan.
Ia menyoroti kondisi di mana banyak potensi usaha OAP terhambat bukan karena ketiadaan sumber daya seperti tanah, kebun, atau rumah, melainkan karena kendala pengetahuan dalam mengelola bisnis.
“Contohnya kemarin jalan trans Nabire Ilaga putus kami OAP yang mengeluh, kalau dipikirkan seharusnya orang pendatang yang mengeluh karena jalan trans untuk mendistribusi barang dagangan mereka terhambat kita tapi itulah kenyataan,” ujarnya.
Burno Adii mengharapkan bahwa pelatihan ini adalah langkah awal bahwa ilmu yang didapatkan tidak berhenti pada peserta yang hadir, melainkan menyebar luas dan menjadi program kerja berkelanjutan di organisasi-organisasi tempat peserta berasal, seperti kelompok wanita di gereja dan organisasi lainnya.
“Kami harap jadikan sebuah program. Jadi ilmu pengetahuan ini dia menyebar, tidak cukup hanya di mereka yang datang,” katanya.
Ia menambahkan dalam waktu dekat, Dinas Perindag juga akan menyalurkan bantuan alat-alat produksi kue kepada para peserta sebagai pendamping ilmu yang telah mereka dapatkan. Saat ini, tercatat ada 326 proposal usaha kue dan kerajinan yang sedang didaftarkan untuk mendapatkan bantuan tersebut.(*)





















Discussion about this post