Jayapura, Jubi – Dunia akademisi di Tanah Papua khususnya di Universitas Cenderawasih (Uncen) mengalami duka mendalam, setelah kehilangan seorang pakar antropolog politik, JR Mansoben, MA, PhD pada Rabu (11/2/2026).
JR Mansoben, MA, PhD, menyelesaikan disertasi doktornya berjudul “Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya” di Universitas Leiden, Belanda, pada 1994. Disertasi tersebut dibimbing oleh pakar antropologi politik Universitas Leiden, Prof. Dr. Claessen, serta diuji antara lain oleh Begawan antropologi Indonesia, Prof. Dr. Koentjaraningrat, pada Oktober 1994.
Antropologi politik adalah cabang ilmu antropologi yang mempelajari fenomena politik dalam konteks kebudayaan, sejarah, dan lingkungan sosial manusia. Antropologi politik tidak hanya tertarik pada struktur dan proses politik formal, tetapi juga pada praktik dan simbol politik informal yang terjadi di berbagai tingkat masyarakat, mulai dari keluarga, komunitas, hingga negara.
“Saya sendiri beruntung telah turut membimbing disertasi ini sebagai co promotor,” kata Prof Dr Koentjaraningrat dalam pengantar disertasi anak didiknya yang telah diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI (sekarang BRIN) pada 1995.
Mendiang Prof Dr Koentjaraningrat yang mendidik dan melahirkan banyak pakar antropologi Indonesia di Universitas Indonesia dan melanjutkan studi antropologi di Universitas Leiden di Negeri Belanda dengan bantuan Pemerintah Belanda saat itu.
JR Mansoben menyelesaikan Pendidikan di FKIP Jurusan Geografi Uncen, 1974 dan kemudian bersama Dr J Walkers melakukan penelitian di Asmat.
Selanjut penelitian di Pulau Gag. JR Mansoben bersama sahabatnya Arnold C Ap ikut penelitian dengan Dr Walkers. Keduanya bersahabat sejak Primary Middleschool (PMS) setara SMP zaman sekarang.
Arnold Clemens Ap lebih fokus dalam studi museum dan ikut pelatihan di Australia. Sedangkan JR Mansoben usai penelitian di Asmat melanjutkan Pendidikan Sarjana dan Master (MA) di Fisip Universitas Indonesia.
“Arnold C Ap, Hanock Mackbon, Frans Wospakrik, Simon Morin dan JR Mansoben adalah alumni PMS Biak sekitar 1960 an,”kata Piet Wospakrik adik kandung mantan Rektor Uncen Frans Wospakrik kepada jubi.id di kediaman mendiang JR Mansoben di kompleks perumahan dosen Uncen, Rabu (11/2/2026).
“Saya bersama Octovianus Ataruri seangkatan di PMS Biak sedangkan Sam Kapisa kakak tingkat,” kata Wospakrik.
Ia menambahkan JR Mansoben dan Hanock Makbon kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Gabungan Kota Jayapura.
Usai menyelesaikan studi di SMA Gabungan, kata Wospakrik, Hanock Makbon ke Fakultas Kehutanan di Universitas Cenderawasih di Manokwari sedangkan JR Mansoben ke FKIP Jurusan Geografi di Uncen di Jayapura.
“Kami selama pendidikan di PMS harus belajar tiga Bbhasa antara lain Belanda, Inggris dan Jerman,” kata Wospakrik mengenang rekan rekan senior di PMS Biak kala itu.
Kepergian JR Mansoben jelas meninggalkan duka mendalam bagi semua pihak terutama rekan rekan sekerjanya, Dr Manuel Kaisiepo mengenang almarhum JR Mansoben, saat sama sama terlibat dalam penelitian di LIPI Jakarta.
Manuel Kaisiepo pula yang meminta agar JR Mansoben menulis artikel di Majalah Prisma Jakarta tentang Koreri dan Manarmakeri dari Suku Biak dalam majalah tersebut.
Salah seorang pakar antropolog dari Amerika Serikat Prof Dr Danilyn Rutherford yang juga fasih berbahasa Biak dan meneliti tentang wor mengatakan terima kasih atas pemberitahuan tentang kepergian JR Mansoben, pada Rabu 11 Februari.
Dekan Fisip Universitas Cenderawasih Dr Marlina Flassy, MA dan juga Dr Andro Loekito, MA anak didik dari JR Mansoben juga turut berduka dan merasa kehilangan guru yang selalu tekun dan rendah hati dalam mendidik mahasiswa antropolog di Unibersitas Cenderawasih.
Jenazah almarhum JR Mansoben akan diberangkatkan ke Supiori pada Sabtu, 14 Februari 2026. Selamat jalan antropolog politik Papua.(*)
Profil :
Nama : JR Mansoben, MA PhD
Lahir : Biak, 29 September 1947
Meninggal: Jayapura, Rabu 11 Februari 2026
Istri : Almarhum Dra Neltje Hubertina Mampioper
Anak anak :
- Emilie Mansoben S.Sos MA
- Bory Mansoben, SE






















Discussion about this post