Jayapura, Jubi – Mama-mama Papua pelaku usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM di Kabupaten Jayapura, Papua mengaku masih terkendala dengan akses pemasaran produk hasil olahan pangan lokal dan pendanaan untuk meningkatkan produksi pangan lokal.
Kelompok UMKM dari Kampung Yoboi, Yuslina Sokoy mengatakan di Kampung Yoboi banyak bahan lokal yang bisa diolah menjadi makanan dan dijual. Akan tetapi pihaknya terkendala pemasaran dan pendanaan untuk meningkatkan produksi.
Di Kampung Yoboi yang dikenal dengan kampung wisata memiliki banyak potensi. Satu diantaranya makanan tradisional seperti ulat sagu dan sagu. Sagu bisa dibuat es krim sagu, kue sagu dan banyak lagi jenis makanan lainnya.
“Kalau untuk ulat sagu, mama dong bisa buat sate ulat sagu, bakso, biskuit ulat sagu dan masih banyak lagi. Akan tetapi yang masih jadi kendala atau masalah adalah dana tidak cukup untuk mendukung kami buat itu,” kata Yuslina Sokoy saat festival kuliner makanan tradisional di Aula Sanggar Senadi ST. Clara Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (28/07/2025).
Menurutnya, mama-mama di sana sudah belajar banyak dari berbagai pelatihan. “Mama-mama mau pasarkan hasil olahan itu mau kemana lagi, itu masalah bagi UMKM yang ada di kampung-kampung,” ucapnya.
“Tadi mama ada sempat bilang ke kabid UMKM kalau boleh ada OPD-OPD yang siap untuk usaha-usaha yang ada di kampung-kampung itu, mereka bisa bawa ke tempat-tempat dimana bisa mereka jual. Mungkin masalahnya cuman itu dana sama pemasaran kalau untuk hasil olahannya mama rasa sudah cukup baik,” ujarnya lagi.
Katanya, pihaknya juga sudah mempromosikan produk mereka melalui media sosial. Namun itu tidak cukup membantu.
“Kami berharap dinas terkait bisa lebih mendorong kami dibagian pemasaran dan juga dana, sehingga kami bisa memberdayakan masakan makanan tradisional kami lebih ke luar. agar produk kami bisa terkenal juga bukan saja di Papua tapi sampai ke daerah lain,” katanya.
Emy Suebu, Ketua Kelompok UMKM dari Kampung Yahim, juga mengaku pemasaran produk masih menjadi kendala bagi pihaknya, karena harus bersaing dengan pedagang non-Papua.
“Untuk mengolah pangan lokal menjadi makanan yang bisa dinikmati semua orang saya rasa mama-mama sudah punya kemampuan itu. Semangat mama-mama ini luar biasa walaupun ada banyak saingan tapi mereka tetap maju,” kata Suebu.
Selain pemasaran, kendala lain yang mereka hadapi adalah pendanaan. Pihaknya berharap, kedepan ada perhatian dari pemerintah atau pihak terkait, untuk bantuan dana kepada kelompok-kelompok UMKM di kampung-kampung, agar tetap eksis.
“Kami minta supaya dari dinas terkait terus mendorong dan membina mama-mama agar kedepannya terus ada pangan lokal. Mulai dari dikelola dan dipasarkan,” ucapnya. (*)






















Discussion about this post