Jayapura, Jubi – Festival kuliner tradisional yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII Papua bertujuan untuk memberdayakan masakan tradisional sebagai pendukung ketahanan pangan lokal di Papua.
Festival ini diselenggarakan di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua pada 28 Juli 2025 hingga 30 Juli 2025.
Festival diikuti 25 kelompok mama-mama. Pada hari pertama festival diikuti sembilan kelompok, hari kedua delapan kelompok dan hari ketiga delapan kelompok.
Ketua panitia festival kuliner tradisional Papua, Erlinda Kurniasanti mengatakan festival ini untuk lebih meningkatkan kreativitas masyarakat, khususnya mama-mama Papua dalam mengolah dan mengembangkan makanan khas di daerah untuk dikonsumsi sehari-hari, dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.
“Kegiatan ini untuk mengangkat, mengembangkan dan mempertahankan makanan khas tradisional yang ada di Provinsi Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura. Kita tahu bahwa makanan tradisional juga merupakan ciri khas dari suatu daerah yang sangat penting untuk dilestarikan dan dipertahankan,” kata Erlinda Kurniasanti usai pembukaan festival.
Selain itu festival kuliner tradisional Papua itu bertujuan memperkenalkan para pemuda dan pemudi bagaimana cara mengolah makanan tradisional yang berasal dari bahan alam dan hasil laut.
“Manfaat dari kegiatan ini bisa mengingatkan kepada masyarakat, khususnya generasi milenial bagaimana pentingnya mengembangkan dan mempertahankan kuliner tradisional agar tidak hilang,” ujarnya.
Menurutnya, seiring perkembangan zaman, generasi muda mulai kurang berminat mengkonsumsi makanan tradisional. Salah satu penyebabnya, karena cara pengolahan makanan yang tidak sesuai dengan selera makan generasi muda kini, sehingga timbul kebosanan mereka saat menikmatinya.
“Untuk itu, perlu dipikirkan bagaimana cara mengolah bahan makanan dari alam agar menarik minat para generasi muda saat ini,” ucapnya.
Festival kuliner tradisional itu menggabungkan kelompok mama-mama Papua, dan pemudi setempat untuk lebih kreatif dalam mengolah bahan makanan khas daerahnya, dengan tampilan dan rasa yang kekinian tanpa meninggalkan keaslian khasnya.
“Sehingga makanan khas Papua khususnya di kabupaten Jayapura menjadi makanan yang menarik dan digemari generasi muda kini, untuk tetap melestarikan, mengembangkan dan memperkenalkan makanan tradisional ini bukan hanya di daerah setempat namun lebih dipromosikan makanan tradisional ke ke kalangan yang lebih luas,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jayapura, Elisa Yarusabra mengatakan festival kuliner tradisional untuk ketahanan pangan lokal Papua, merupakan ajang promosi makanan tradisional Papua.
“Kegiatan ini sangat baik untuk terus dilakukan dan dikembangkan. Untuk itu, kita terus melakukan pembinaan, pendampingan karena mama-mama kita ini mereka punya potensi untuk mengolah dan menghidangkan makanan tradisional menjadi menu yang baik,” kata Yarusabra.
Menurutnya menu yang dihidangkan pada kegiatan itu tidak kalah saing dengan makanan-makanan yang dihidangkan di rumah makan atau kantin-kantin, dengan rasa nikmat yang lebih terasa dalam makanannya.
“Jadi saya dari Dinas Pariwisata melihat ini event yang sangat baik dan ini menjadi promosi pariwisata kita kedepan. Kami berharap di semua tempat-tempat pariwisata itu, didukung dengan kuliner-kuliner yang ada. Sehingga bicara pariwisata secara keseluruhan didalamnya itu ada kuliner makanan tradisional Papua,” ucapnya.
Selain itu kuliner kata Yarusabra, pemberdayaan makanan lokal perlu terus didorong, sebab ini merupakan bagian penting untuk mempertahankan makanan lokal yang ada.
“Supaya anak-anak kita ini beralih atau lebih memilih makanan yang datang dari luar dan tidak menjaga, mencintai dan menyukai makanan lokal yang ada,” ujarnya. (*)




















Discussion about this post