Jayapura, Jubi,- Siang hari menjelang sore, Minggu (2/11/2025), bau asap kayu bakar yang khas menggelayut di udara Kompleks Dok 8 Pantai, Kota Jayapura. Di sebuah dapur sederhana berukuran 4×6 meter, Mama Silvia Maniani (62) sibuk mengawasi deretan ikan yang sedang diasapi.
Tangannya cekatan membalik ikan-ikan cakalang dan tuna di atas tungku pengasapan. Ikan asar itu menjadi makanan khas dari Papua, yang telah menjadi mata pencarian Mama Silvia sejak 1988. Usahanya itu menjadi fondasi pendidikan bagi anak-anaknya.
Mama Silvia berdiri di antara kepulan asap tipis. Wajahnya memancarkan kehangatan, tak ada tampak lelah sedikit pun. Setiap orang yang datang ke dapurnya disambut dengan senyum ramah.
“Nama saya Ibu Silvia Maniani, saya buka usaha ini tahun 1988. Anak-anak saya sekolah, semua dari ikan asap yang saya jual,” ujarnya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Mama Silvia adalah ibu dari enam orang anak dan satu sudah meninggal. Suaminya bekerja di pelabuhan. Ia menceritakan, hasil penjualannya selama puluhan tahun tidak pernah ditabung untuk masa depan. Semua diperuntukkan bagi sekolah anak-anaknya.
”Tiga sampai empat orang anak saja kalau sekolah itu biayanya besar, apalagi kalau semua. Mereka tidak kuliah, tapi sampai lulus SMA,” katanya bangga.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dua anaknya kini bekerja di Pertamina, satu di Kantor Gubernur Papua, dan satu lagi di PT Freeport Indonesia.
Mama Silvia lahir pada 1962. Walau tidak muda lagi, ia masih kuat bekerja sendiri. Mulai dari membeli ikan di pasar, lalu mengolahnya di dapur, hingga malam harinya berjualan di pinggir jalan Dok 8. Baginya, usia tidak menjadi hambatan.
“Banyak orang sudah bilang saya tua, tapi saya bilang tidak. Saya masih kuat untuk mencari uang,” katanya.
Sejak kecil ia sudah mendapatkan nasihat dari orang tuanya di kampung. Ia diajarkan hidup mandiri dan membantu suami untuk menghidupi anak-anaknya.
“Dulu di kampung itu saya sudah bekerja keras sejak kecil, orang tua ajar kita untuk hidup mandiri dan bantu suami,” ujarnya.
Jualan ikan asar sejak harga Rp3 ribu
Mama Silvia mengenang masa-masa awal perjuangannya. Tiga puluh tujuh tahun lalu, harga satu potong ikan asar (hanya separuh) dijual Rp3 ribu. Sekarang, harga seekor ikan asar yang berukuran besar bisa mencapai Rp70 ribu hingga Rp100 ribu.
”Sekarang kami beli ikan mentah dari pasar harganya Rp25 ribu seekor. Biasanya saya beli 40 ekor. Ikan itu saya asar sendiri, nanti kadang saya atau anak-anak yang jual,” katanya.

Penjualan malam hari cukup menentukan. Jika beruntung, 20 ekor bisa laku. Jika ada sisa, ikan-ikan itu akan dihangatkan kembali menjelang sore untuk dijual lagi hari berikutnya.
Ikan asar olahan Mama Silvia terbilang awet, bahkan ada pembeli yang membawanya hingga ke luar kota seperti Jakarta. Untuk proses pengasapan yang ingin lebih tahan lama, Mama Silvia bisa menghabiskan waktu hingga empat hari.
Meski hasilnya lumayan, Mama Silvia mengakui pekerjaan ini membutuhkan modal yang tidak sedikit. Kendala utamanya adalah bahan bakar.
“Kita harus ada kayu bakar. Satu mobil pikap atau blekos itu Rp300 ribu. Kalau saya pakai, itu satu minggu saja habis, karena setiap hari dipakai untuk pengasaran,” katanya.
Selain kayu bakar, ada biaya untuk kertas pembungkus, membayar orang untuk mendorong gerobak ikan dari pasar, bahkan membayar ojek Rp40 ribu untuk pengiriman.
“Saya jualan ikan asar dari tahun 1988, pada 2023 baru ada bantuan,” ujarnya.
Kendala yang menyulitkan usahanya itu satu per satu bisa teratasi lewat saluran bantuan dari Dinas Perikanan Kota Jayapura dan Pertamina Patra Niaga Papua Maluku.
Pertamina datang memberikan oven untuk mengganti kayu bakar. Namun, oven tersebut berukuran kecil dan hanya bisa menampung sedikit ikan.

“Kami usulkan, kalau boleh berikan kami oven yang besar, supaya kita tidak pakai kayu bakar lagi,” katanya.
Bantuan dari Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku diberikan melalui Program ‘Kampung Bright Gas’ Pengolahan Ikan Asar. Sebanyak 21 mama-mama di Dok 8, termasuk Mama Silvia, tergabung dalam kelompok ini yang didampingi mitra pemberdayaan.
”Melalui Program Kampung Bright Gas ini, kami ingin membantu mama-mama mengolah ikan asar dengan cara yang lebih modern, cepat, dan efisien menggunakan LPG Bright Gas sebagai bahan bakar utama,” kata Ispiani Abbas, Area Manager Communication Relations & CSR Papua Maluku,.
Pertamina juga memberikan pelatihan membuat abon ikan asar dan sambal ikan asar, ditujukan untuk meningkatkan nilai jual dan memperluas pasar.
Warisan yang tak boleh putus
Mama Silvia termasuk beruntung di antara para pengolah dan pedagang ikan asar di Kota Jayapura. Dapur tempat ia bekerja, yang dinamai Waiweroi (nama dari salah satu tempat di kampungnya) adalah bantuan dari Dinas Perikanan Kota Jayapura.
“Dinas Perikanan membantu saya berupa barang, bukan uang. Di Jayapura ini, hanya ada tiga orang yang punya dapur bantuan dari Dinas Perikanan. Saya di Dok 8, satu orang di Hamadi, dan satu lagi di Entrop,” katanya.
Dinas Perikanan Kota Jayapura menyadari potensi besar dari usaha ikan asar yang ditekuni sekitar 70 pelaku UMKM. Kepala Dinas Perikanan Kota Jayapura Matheys Sibi mengatakan pihaknya telah memberikan dukungan kepada para pelaku usaha ikan asar seperti Mama Silvia.
”Pembinaan yang dilakukan Dinas Perikanan berupa penguatan kelembagaan dan pendampingan pada produk olahan agar lebih higienis,” katanya.

Fokus pembinaan, tambah Sibi, juga diarahkan kepada implementasi CPIB (Cara Pengolahan Ikan yang Baik) serta pendampingan terhadap sarana olahan, seperti bangunan UPI (Unit Pengolahan Ikan) yang digunakan Mama Silvia. Tujuannya agar dapur tersebut bisa tersertifikasi SKP (Sertifikat Kelayakan Pengolahan).
Matheys Sibi juga memaparkan program utama Dinas Perikanan Kota Jayapura untuk UMKM ikan asar adalah Program Penguatan Daya Saing Produk. Hal itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan pasar produk lokal.
“Di dalamnya ada kegiatan Pelatihan Pengolah Hasil Perikanan,” ujarnya.
Mama Silvia dan para perempuan yang pembuat ikan asar di Dok 8 berharap Dinas Perikanan Kota Jayapura dapat membangun pasar khusus untuk mereka. Saat ini, mereka hanya menjual di pinggir Jalan Dok 8 yang berada di atas rumah Mama Silvia, dan hanya beroperasi pada malam hari.
Kini Mama Silvia sudah mewariskan mata pencariannya itu kepada anak bungsunya. Ia mengaku usaha itu harus terus berjalan karena ia bangun dari nol dan bisa menjadi penopang ekonomi keluarganya. Ia memastikan asap dari dapur Waiweroi akan terus mengepul, membawa aroma perjuangan dan kemandirian.
“Usaha ikan asar ini tidak boleh putus. Harus terus berlanjut dan diwarisi anak-anak saya. Karena ini mata pencaharian saya sejak dulu. Dan anak bungsu saya dia sudah lanjutkan usaha ini,” pungkas Mama Silvia. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post