Jayapura, Jubi – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jayapura mengimbau warga tidak panik terhadap wabah virus demam babi Afrika. Mereka memastikan Kota Jayapura masih dikategorikan aman dari penularan penyakit pada ternak babi tersebut.
Petugas kesehatan hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jayapura Bagyo mengatakan mereka terus mengencarkan sosialisasi kepada peternak untuk menangkal penularan demam babi Afrika. Dalam sosialisasi itu, mereka mengimbau peternak memerhatikan penerapan ketahanan hayati atau biosecurity, yakni mencegah agen penyakit masuk, tumbuh, berkembang, dan menyebar di peternakan.
“Kalau ada ternak yang mati, semprot, atau bakar [bangkainya] untuk membunuh virus, dan kuburkan dalam tanah. Jadi, jangan buang [bangkai ternak] sembarangan karena [virusnya] bisa menyebar ke hewan lain,” kata Bagyo, Selasa (11/6/2024).
Bagyo juga mengimbau konsumen selalu memastikan daging babi yang mereka konsumsi telah matang dengan sempurna saat dimasak. Mereka pun mesti memerhatikan dengan seksama kondisi dan kualitas kesehatan daging babi potong yang dibeli di pasar.
Demam babi Afrika merupakan penyakit mematikan bagi babi ternak maupun babi liar. Penyakit tersebut ditandai gejala awal berupa suhu tinggi dan kehilangan nafsu makan pada babi. Selain itu, babi sering muntah, diare, sesak napas, dan lumpuh
Demam babi menular melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi. Virus penyakit tersebut dapat bertahan hidup hingga beberapa bulan dalam daging babi olahan, dan beberapa tahun dalam daging babi beku. Namun, demam babi Afrika tidak menular ke manusia.
Di Tanah Papua, demam babi Afrika mewabah di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. Sebanyak 156 babi mati dan diduga akibat penyakit tersebut pada Februari hingga April lalu.
Penyakit serupa sebelumnya juga dilaporkan merebak di Mimika. Lebih 5.000 babi mati akibat serangan demam babi Afrika.
Untuk mengantisipasi penularan penyakit tersebut, Melkie, seorang peternak babi di Kota Jayapura mengaku rutin membersihkan kandang ternaknya. Dia menyemprotkan larutan disinfektan untuk memastikan kandang ternaknya terbebas dari virus.
“Saya pelihara 10 babi. Saya biasa membersihkan kandang dengan menyemprotkan disinfektan. Petugas [kesehatan hewan] juga selalu memantau [kondisi dan kesehatan ternak babi,” kata warga Tanah Hitam, Abepura tersebut. (*)






















Discussion about this post