Jayapura, Jubi – Balon berwarna biru, putih, merah muda yang diikat merapat dengan pagar Kantor Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua di Kota Jayapura melambai-lambai. Di depan Kantor Klasis Kota Jayapura, didirikan sebuah tenda untuk ibadah peringatan Hari Anak Kingmi Papua.
Di pagar, panitia penyelenggara menempelkan poster berisi beragam seruan perlindungan terhadap anak. “Stop Perang Suku”, “Stop Miras”, dan banyak seruan lainnya. Di ujung pagar, terpasang baliho Hari Anak Kingmi Papua ke-7, lengkap dengan tema peringatan kali ini, “Menangkan Anak, Selamatkan Generasi”.
Rabu (19/10/2022) itu, rombongan demi rombongan anak usia belia dan para pengasuh dari berbagai Gereja Kingmi berdatangan menggunakan mobil bak terbuka dan angkutan hukum. Mereka semua akan mengikuti perayaan Hari Anak Kingmi Papua ke-7.
Moderator Dewan Gereja Papua sekaligus inisiator Perayaan Hari Anak Kingmi Papua Dr Benny Giay menceriterakan latar belakang penatapan Hari Anak Kingmi Papua. Menurut Giay, pihaknya mengamati bahwa Gereja tidak serius menaati perintah Tuhan untuk membesarkan anak menjadi generasi juara.
“Gereja Kingmi itu juara ataupekabaran Injil, tetapi melalaikan amanat Tuhan untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya menjadi generasi anak yang terdidik dalam segala bidang,” kata Giay saat di temui di halaman Kantor Sinode Kingmi Papua di Kelurahan Imbi, Kota Jayapura, Rabu.
Giay mengatakan Hari Anak Kingmi Papua ditetapkan karena secara budaya orang Papua sudah terbiasa melepas anaknya bebas menjelajahi dunia sekitarnya bersama kerabatnya, dan kembali ke rumah saat menjelang sore. “Kita terus terbawa dalam kebiasaan membiarkan anak-anak bebas menjelajahi hidupnya, sementara terjadi goncangan dalam 50 tahun terakhir dalam dunia sosial, budaya, dan agama, yang pada gilirannya menyebabkan gerak langkah orang Papua sudah dikuasai para pendatang,” kata Giay.
Badan sinode menyaksikan pada tahun 2014 – 2016, Sinode Gereja Kingmi Papua terus menerima laporan gelombang kematian puluhan anak-anak dalam sejumlah periode singkat, misalnya dari Tigi Barat dan Nduga. Pada 19 Oktober 2015, di tengah-tengah pelaksanaan Konferensi Sinode Gereja Kingmi Papua, kembali datang laporan kasus kematian anak.
Para peserta konferensi melakukan Eba Mukai, atau tradisi alas tikar untuk mengumpulan uang secara spontan, hingga terkumpul uang duka senilai Rp30 juta. “Uang duka itu kemudian diserahkan kepada pihak keluarga korban melalui koordinator,” kata Giay menuturkan sejarah Hari Anak Kingmi Papua.
Setahun kemudian, pada 19 Oktober 2016, Sinode Gereja Kingmi Papua untuk pertama kalinya memperingati Hari Anak Kingmi Papua. “Sehingga tahun ini kami merayakan [Hari Anak Kingmi Papua] ke-7, [dengan tema perayaan] ‘Menangkan Anak, Selamatkan Generasi’,” kata Giay.
Ketua Panitia Peringatan Hari Anak Kingmi Papua ke-7, Pdt Meni Yogi mengatakan meskipun pihaknya bekerja dalam waktu yang singkat, panitia dapat menyelenggarakan kegiatan berupa jalan santai dan ibadah bersama remaja dan anak-anak Sekolah Minggu Koordinator Mamta.
“Tadi kami mulai start berjalan santai dari Halaman Kantor Sinode Kingmi Papua sekitar jam 14.00 WP, kemudian putar di depan pom bensin, lewat depan Polda Papua, dan putar ke Taman Imbi, kembali masuk ke halaman Kantor Sinode Kingmi Papua untuk mengikuti ibadah,” kata Yogi.
Ia mengatakan orangtua harus memperhatikan anak-anaknya dengan baik, sebab anak-anak itulah yang akan menerima estafet kepemimpinan dalam gereja.”Anak-anak itu yang harus menggantikan petuah di gereja. Ada anak-anak yang mau, siap,” katanya.
Yogi menyampaikan terima kasih untuk kehadiran anak-anak jemaat Kingmi yang berdomisili di Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura, dan Kota Jayapura. “Terima kasih para guru, khususnya para ketua biro, dalam waktu singkat bisa hadir. Ke depannya, kami akan menyiapkan sama-sama dan lebih baik. Terimakasih banyak orangtua sudah hadir mengantarkan anak-anaknya,” kata Yogi. (*)



















