Jayapura, Jubi – Upaya menjadikan Kampung Yenggu Baru di Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua sebagai wilayah ekowisata sudah lama dicetuskan oleh salah seorang anak adat setempat, Alex Waisimon sejak 2011 silam. Namun saat itu, warga belum memahaminya.
Setelah Alex Waisimon membangun obyek wisata pengamatan burung Cenderawasih di Bukit Issoy di Rhepang Muaib barulah membuka mata warga Kampung Yenggu Baru.
Ekowisata merupakan bentuk wisata yang menjadikan alam sebagai tujuan utama rekreasi, atau wisata alam di daerah yang masih alami dengan tujuan untuk menikmati keindahan alamnya, dan mendukung usaha konservasi, serta meningkatkan pendapatan perekonomian masyarakat setempat.
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2009) menyatakan, ekowisata memiliki tujuan yang mengacu kepada aspek pendidikan, pemberdayaan, konservasi, dan perekonomian masyarakat lokal, antara lain memberikan pengalaman sekaligus pendidikan kepada wisatawan.
Memperkecil dampak negatif yang bisa merusak karakteristik lingkungan dan kebudayaan pada daerah yang dikunjungi.
Mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan dan pelaksanaannya, memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal maupun penyelenggara wisata. Menjadikan objek wisata yang terus bertahan dan berkelanjutan.
“Kitorang (kami) belum paham apa itu ekowisata dan pengamatan burung, sehingga kami tidak tertarik dan tidak bikin pondok maupun pengembangan wisata. [Kami] hanya konsentrasi bikin kebun dan piara (beternak) ayam,” kata Marthen Waisimon kakak kandung Alex Waisimon kepada Jubi di pondok pengamatan burung di Kampung Yenggu Baru, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, Alex Waisimon sudah menyampaikan gagasannya kepada warga. Akan tetapi hanya dianggap angin lalu, hingga akhirnya ia membuat lokasi pengamatan burung di Bukit Issoy Rephang Muaib kini.
“Sekarang kitorang (kami) semua sudah paham dan mengerti bahwa pengembangan ekowisata ini sangat penting untuk menjaga alam dan lingkungan serta tanah adat di sini,” ucap mantan Kepala Kampung Yenggu Baru itu.
Katanya, sejak itu sudah ada kerja sama antara ekowisata Kampung Yenggu Baru dan Rephang Muaib. Biasanya para turis dan peneliti burung yang datang, singgah dulu di Rephang Muaif baruah ke pondok di Kampung Yenggu Baru.
“Di Kampung Yenggu Baru punya penginapan, pondok pengamatan burung serta ruang pertemuan yang langsung berhadapan dengan bukit dan hutan alam di Lembah Grime,” ujarnya.
Katanya, sebagai anak adat Namblong, Alex Waisimon dapat mengelola kurang lebih 16 hektare hutan adat Suku Waisimon. Di hutan itu terdapat dua kampung, yakni Yenggu Baru dan Yenggu Lama.
Di lahan seluas itu terdapat beberapa objek wisata, seperti rumah pohon di Kampung Yenggu Baru, pemantauan Burung Mambruk dan Kasuari di Kampung Yenggu Lama, dan pemantauan Burung Cenderawasih.
Marten Waisimon dan Alex Waisimon menyatakan terdapat enam spesies Burung Cenderawasih yang ada di kawasan hutan ekowisata di Kampung Yenggu Baru dan Yenggu Tua/Lama.
Untuk dapat menikmati keindahan burung “surga’ khas Papua itu, pengunjung membutuhkan waktu delapan jam berjalan menyusuri hutan lindung.
Di dekat rumah pohon Kampung Yenggu Baru ada homestay, sehingga pagi pagi sekitar pukul 05.00 WP (Waktu Papua), pengunjung sudah bisa mengamati dan melihat burung Cenderawasih bermain.
Pengunjung pun bisa melihat matahari terbenam di kaki gunung Lembah Grime dari atas pondok maupun rumah pertemuan. “Sore hari bisa melihat bagaimana matahari terbenam,” kata Marthen Waisimon
Adapun jenis burung Cenderawasih di Kawasan Nimboran adalah Cenderawasih Mati Kawat (Seleucidis melanoleucus) yang dikenal pula sebagai Cenderawasih matawire, memiliki ciri khas berupa bulu menyerupai kawat di bagian ekornya.
Cenderawasih Raja (Cicinnurus regius), Cenderawasih berukuran kecil dengan bulu dominan merah menyala, Cenderawasih Belah Rotan (Cicinnurus magnificus) yang memiliki warna bulu sayap kuning keemasan yang sangat kontras.
Toowa Cemerlang ( Ptiloris magnificus), terkenal dengan warna hitam beludru berpadu warna biru-hijau metalik di dada dan Cenderawasih Paruh Sabit Paruh Putih (Drepanornis albertisi), yang merupakan spesies unik dengan bentuk paruh melengkung tajam mirip sabit.
Di kawasan ekowisata ini tidak diperbolehkan berburu atau membunuh hewan karena satwa di sana dilindungi, guna menjaga keberlanjutan hidup spesies langkah khas Papua, terutama di Lembah Grime di Nimboran.
“Alex Waisimon melarang warga kampung berburu dan bikin jerat (perangkap hewan) mulai dari babi hutan sampai tikus tanah tidak boleh ditangkap, demi menjaga kekayaan alam, flora dan fauna. Semua hewan dan burung bebas hidup di hutan sehingga kita hanya hidup dari memelihara ayam dan kebun,” ucapnya.
Jurnalis Jubi, Engel Wally pun mengisahkan pernah bersama Alex Waisimon membongkar jerat tikus tanah dan babi hutan selama berjalan menelusuri hutan Nimboran.
“Paitua (bapak) Alex Waisimon langsung bongkar semua jerat dan memarahi orang sedang menebang kayu dengan mesin gergaji,” kata Engel Wally. (*)























Discussion about this post