Jayapura, Jubi — Komite Nasional Papua Barat atau KNPB Konsulat Indonesia bersama enam wilayah konsulat dan Aliansi Mahasiswa Papua Tengah Indonesia atau AMPTPI menyiapkan aksi nasional, Sabtu (15/8/2026).
Aksi tersebut mengusung tema “Papua Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan” itu digelar berdasarkan arahan KNPB Pusat, dalam rangka memperingati 64 tahun Perjanjian New York pada 15 Agustus 2026.
Perjanjian New York adalah kesepakatan yang ditandatangani antara Indonesia dan Belanda di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 15 Agustus 1962.
Perjanjian ini menyepakati peralihan Irian Barat (Papua) dari Pemerintah Belanda kepada badan PBB, United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) sebelum diserahkan ke Pemerintah Indonesia.
Koordinator lapangan KNPB Konsulat Indonesia, Niswan Wanimbo mengatakan, sejumlah persiapan telah dilakukan untuk memastikan pelaksanaan aksi pada 15 Agustus 2026.
Menurut Wanimbo, konsolidasi terbuka yang melibatkan berbagai elemen telah dilakukan di Asrama Papua Makassar, Sulawesi Selatan pada 10 Agustus 2026.
Sebelumnya, pihaknya juga melakukan pembagian selebaran dan konsolidasi tahap kedua ke 29 asrama organisasi daerah mahasiswa Papua di Makassar pada 8 Agustus.
“Pengantaran surat pemberitahuan aksi ke Polrestabes Makassar bersama 33 instansi lembaga yudikatif, legislatif dan eksekutif dalam tembusan resmi secara organisasi dilakukan pada 12 Agustus 2026,” katanya saat dihubungi Jubi melalui aplikasi pesan singkat, Jumat (14/8/2026).
Katanya, tekni di lapangan telah dibahas dalam konsolidasi terbuka, finalisasi persiapan pun telah dilakukan. KNPB juga melakukan pembagian selebaran di pusat Kota Makassar sejak pada Jumat pagi hingga sore.
KNPB Konsulat Indonesia menyatakan sejumlah perlengkapan telah disiapkan untuk aksi tersebut, antara lain mobil komando, poster, spanduk, selebaran, pernyataan sikap politik, rilis pers dan perangkat media.
Mereka memperkirakan sekitar 500 orang akan mengikuti aksi. Massa direncanakan membawa atribut organisasi, termasuk bendera KNPB, bendera S.O.S dan bendera AMPTPI.
Aksi di Makassar direncanakan dimulai dari Asrama Papua Makassar menuju Kantor Kementerian Hukum dan HAM. Massa dijadwalkan bergerak mulai pukul 09.00 hingga aksi selesai.
Tiga orang yang disebut sebagai koordinator lapangan, wakil koordinator lapangan dan jenderal lapangan masing-masing adalah Niswan Wanimbo, Rotalina Gwijangge dan Emison.
Sementara itu, persiapan aksi 15 Agustus juga dilakukan KNPB Wilayah Sentani. Namun, KNPB Wilayah Sentani menyatakan terjadi kericuhan saat aktivis KNPB membagikan selebaran di kawasan Pos 7 Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (13/8/2026).
Ketua KNPB Wilayah Sentani, Sadrack Lagoan, mengatakan pembagian selebaran dilakukan bersama sejumlah mahasiswa dari STTC Jayapura, dimulai sekira pukul 13.00 WP dan awalnya berlangsung aman.
Lagoan mengklaim aparat kepolisian kemudian datang ke lokasi dengan kendaraan roda dua dan sejumlah kendaraan Dalmas. Jumlahnya diperkirakan 20 orang ditambah sekira 50 personel Dalmas.
Menurut Lagoan, polisi membubarkan kegiatan tersebut dengan menggunakan tongkat dan tindakan kekerasan. Ia juga mengklaim sejumlah aktivis mengalami luka di bagian kepala dan leher.
“Kami berupaya untuk menenangkan situasi dan melakukan negosiasi, namun itu tidak diindahkan,” kata Lagoan dalam keterangannya kepada wartawan Jubi pada Jumat (14/8/2026).
Lagoan menyebut situasi kemudian memanas dan terjadi bentrokan antara massa KNPB dan aparat kepolisian. Katanya, aparat mengeluarkan tembakan sehingga massa mundur dari lokasi.
KNPB Wilayah Sentani menyatakan tidak ada anggotanya yang ditahan dalam kejadian tersebut. Namun, mereka menyebut terdapat sejumlah orang yang mengalami luka.
Lagoan mengatakan pihak KNPB kemudian mendatangi Polres Jayapura sekira pukul 17.00 WP, untuk meminta klarifikasi dan pertanggungjawaban atas kejadian tersebut. Pihak kepolisian pun menyampaikan klarifikasi terkait keberadaan dan tindakan personel di lapangan.
KNPB Wilayah Sentani memastikan akan tetap melakukan aksi pada 15 Agustus 2026. Lagoan memastikan aksi akan dilakukan secara damai dan bermartabat di sejumlah titik yang telah ditentukan, yakni Pos 7, Pojok dan Kemiri di wilayah Sentani.
Jubi telah berupaya minta keterangan dari pihak Kepolisian Resor Jayapura mengenai kronologi pembubaran saat pembagian selebaran itu, termasuk dugaan pemukulan dan adanya tembakan yang disampaikan KNPB. Namun pihak kepolisian Resor Jayapura belum memberikan keterangan. (*)




Discussion about this post