Jayapura, Jubi – Lahan belakang rumah di ibukota Port Villa, Vanuatu terkadang dianggap tak bermanfaat, padahal tanah itu subur dan bermanfaat jika ditanami keladi, sayuran demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hal ini telah lama dilakukan oleh mama
Annie Louis, seorang janda berusia 55 tahun dari Freshwota Port Villa.
Dia mengatakan berkebun di halaman belakang rumahnya telah membantunya menghidupi keluarganya dengan sayuran segar, sebagaimana dilansir Jubi dari laman www.dailypost.vu, Minggu (19/7/2026).
Mama Annie mulai menekuni dan menanam sayuran di halaman rumahnya jauh sebelum COVID-19, pada 2019 lalu setelah wabah covid berlalu. Ia tak berhenti di situ dan terus melakukannya hingga saat ini.
Mama Louis termasuk salah satu penerima manfaat dari proyek berkebun terpadu di halaman belakang yang diluncurkan selama COVID-19 dan didanai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB).
Terdapat 100 penerima manfaat di Port Vila, termasuk mama Louis, dan 50 penerima lainnya di kota Luganville di bagian utara.
Di bawah Output 1 dari Proyek Respons COVID-19 untuk Kelompok Miskin dan Rentan yang Terdampak, Departemen Pertanian dan Pembangunan Pedesaan (DARD) berhasil mengimplementasikan komponen Berkebun di Halaman Belakang (BYG) di Port Vila dan Luganville, mendukung rumah tangga rentan, khususnya perempuan, untuk meningkatkan ketahanan pangan, gizi, dan ketahanan rumah tangga melalui peningkatan akses terhadap produksi pangan rumah tangga.
Intervensi tersebut mendapat sambutan baik dari para penerima manfaat dan telah berkontribusi pada peningkatan akses terhadap sayuran segar, pengurangan pengeluaran pangan rumah tangga, penguatan ketahanan pangan, dan peningkatan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan produksi pangan rumah tangga.
Mama Louis mengatakan BYG membantunya mendapatkan sayuran segar setiap hari untuk memberi makan 12 anggota keluarganya dengan makanan yang aman.
Ia mengatakan setelah punya kebun sendiri di halaman belakang rumah, tidak lagi pergi ke pasar karena semua stok sudah tersedia di kebun dan gratis pula.Pada 2026 ini kata mama Annie Louis sudah panen sebanyak lima kali.
“Ini membantu gaya hidup keluarga kami dengan berbagai macam sayuran di meja makan. Kami memberi makan banyak keluarga dan tamu di rumah kami. Proyek ini membantu kami terutama dengan mengurangi pengeluaran untuk membeli sayuran hijau, sayuran, dan makanan khas pulau dari pasar karena harga barang yang tinggi. Sekarang kami hanya memanen apa yang ada di depan pintu rumah kami. Kami memiliki sayuran segar dan sehat untuk keluarga kami,” katanya.
Jurnalis Daily Post sudah mengunjungi kediamannya di Freshwota dan menemukan bahwa Mama Louis memiliki kebun yang subur dengan berbagai macam sayuran seperti kacang putih, kubis bulat, selada, kacang panjang, tomat, brokoli, terong, dan kubis hijau serta keladi/taro.
Ia juga memiliki area peternakan unggas kecil dan sistem pemupukan buatan sendiri terutama pupuk organic/pupuk kandang.
Sebelum COVID-19, BYG (Bring Your Own Garden/Berkebun di Halaman Rumah) populer di Port Vila, dengan banyak rumah tangga mulai membuat kebun kecil di halaman mereka sendiri jika memungkinkan.
Negara-negara donor seperti Prancis mendanai proyek ini untuk mendorong masyarakat di Port Vila untuk memproduksi makanan yang aman.
Manajer Proyek James Bob mengatakan bahwa untuk memelihara dan melanjutkan penanaman di lahan kecil di halaman rumah mereka, warga Port Vila dan Luganville perlu memproduksi bibit sendiri.
“Kita telah belajar menerima, tetapi kita tidak bisa terus seperti ini. Kita harus membekali diri kita sendiri, itulah sebabnya kita harus melibatkan masyarakat kita dalam memproduksi bibit mereka sendiri dari kebun mereka sendiri,” katanya.
Bob mengatakan langkah selanjutnya dari proyek ini adalah membekali masyarakat agar dapat mengelola kebun mereka sepanjang tahun.
Dia mengatakan para penerima manfaat juga akan belajar cara membuat kompos sendiri.
Bob juga telah mendorong agar warga Port Vila bisa menanam sayuran sendiri di halaman rumah mereka karena tingginya harga sayuran di pasar.
Saat ini, sekotak tomat untuk dibawa pulang harganya VT500 dan kubis pulau harganya VT250.Sebanyak 500 Vatu Vanuatu (VUV) setara dengan sekitar $4,17 Dolar AS (USD) sedangkan 250 Vatu Vanuatu (VT/VUV) setara dengan sekitar $2,10 Dolar AS (USD).
Dia mengatakan bahwa sayuran ini dapat ditanam di rumah dengan menggunakan lahan yang lebih sedikit. Saat ini di Vanuatu memiliki perkiraan populasi sekitar342.000 hingga 350.000 orang.
Pada 2026, mayoritas penduduk tinggal di pulau-pulau pedesaan, dengan sekitar 30.000 orang menetap di ibu kota dan kota terbesar, Port Vila, yang terletak di pulau Efate. (*)























Discussion about this post