Jayapura, Jubi – Setidaknya sembilan orang, dilaporkan tewas dalam ledakan massal perangkat komunikasi penyeranta atau pager di sejumlah wilayah di Lebanon, Selasa, waktu setempat. Selain itu, sebanyak 2.750 lainnya terluka, dan 200, di antaranya dalam kondisi kritis.
Topaz Luk, penasihat dekat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengisyaratkan dalam sebuah unggahan di X bahwa Israel berada di balik ledakan perangkat radio nirkabel di seluruh Lebanon. Namun, dia kemudian menghapus pernyataan yang diunggahnya pada pada Selasa tersebut.
Ledakan massal pager itu terjadi di tengah serangan lintas batas antara Hizbullah dan Israel. Media Iran melaporkan Duta Besar Iran di Beirut Mojtabi Amani turut menjadi korban ledakan. Dia bersama istrinya mengalami cedera ringan sehingga dilarikan ke rumah sakit di Beirut.
Media lokal Lebanon, seperti dikutip Anadolu menyebut perangkat tersebut meledak setelah terjadi peretasan terhadap sistem komunikasi oleh Israel. Kementerian Kesehatan Lebanon telah mendesak semua pemilik segera membuang perangkat pager mereka.
Ledakan massal pager juga membuat Pemerintah Lebanon meliburkan seluruh aktivitas pendidikan pada hari ini. Kebijakan itu diumumkan Menteri Pendidikan Lebanon Abbas Halabi.
“Kami mengumumkan penutupan sekolah negeri maupun swasta, dan Universitas Lebanon, serta semua institusi pendidikan tinggi. Ini sebagai bentuk kecaman atas tindakan kriminal yang dilakukan Israel terhadap warga sipil,” kata Halabi.
Menteri Halabi juga menggugah kesadaran dunia untuk untuk menghentikan mesin pembunuh Israel yang tidak mengenal belas kasihan itu. Mereka dianggap melakukan kejahatan kolektif yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rakyat Lebanon.

Keprihatinan PBB
Ledakan massal pager di Lebanon mengundang keprihatian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Mereka menilai kejadian mematikan itu sangat mengkhawatirkan bagi Lebanon.
“Saya bisa mengatakan perkembangan ini [peristiwa ledakan pager] sangat mengkhawatirkan. Itu terutama karena terjadi dalam situasi yang sangat tidak stabil [ketegangan antara Lebanon dan Israel],” kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric kepada wartawan, dikutip Anadolu.
Dujarric menyatakan PBB tidak memiliki informasi apa pun mengenai ledakan massal itu, selain dari pemberitaan media massa. Namun, mereka menyesalkan adanya warga sipil menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
“Kami tentu menyesalkan jatuhnya korban sipil. Namun, kami tetap mencermati situasi [perkembangan peristiwanya],” ujar Dujarric.
Koordinator Utusan Khusus PBB untuk Lebanon Jeanine Hennis-Plasschaert mengutuk ledakan massal pager yang diidentifikasi sebagai serangan mematikan terhadap Lebanon. Dia mengingatkan warga sipil tidak boleh menjadi target serangan dalam peperangan apa pun.
“Sesuai hukum kemanusiaan internasional, warga sipil bukanlah target serangan, dan harus dilindungi setiap saat [dari peperangan]. Satu korban sipil saja, sudah terlalu banyak [dalam peperangan],” kata Hennis-Plasschaert.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi dari Pemerintah Israel terhadap tudingan bahwa mereka berada di balik ledakan massal pager di Lebanon. Namun, pihak Pentagon meyakinkan tidak ada keterlibatan Amerika Serikat dalam ledakan massal tersebut.
“Sejauh yang saya tahu, tidak ada sama sekali keterlibatan Amerika Serikat dalam hal ini. Sekali lagi, ini adalah sesuatu yang sedang kami pantau,” kata Juru Bicara Angkatan Udara Amerika Serikat Mayor Jenderal Pat Ryder, kepada wartawan, Selasa, dikutip Anadolu.
Ryder menyebut Menteri Pertahanan Lloyd Austin telah berbicara dengan mitranya dari Israel, Yoav Gallant, pada Selasa. Dia menyebut Austin sangat konsen dalam meredam ketegangan regional di Timur Tengah.
“Kami sangat percaya cara terbaik mengurangi ketegangan di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon ialah melalui diplomasi. Itu akan terus menjadi fokus kami,” ujar Ryder. (*)























Discussion about this post