Sorong, Jubi – Ratusan akademisi dari berbagai perguruan tinggi pertanian di Indonesia berkumpul di Kota Sorong, Papua Barat Daya, untuk menghadiri The 1st International Conference on Local Wisdom and Food Security for the Environment (INLIFE 2025). Kegiatan yang berlangsung pada 21–23 Oktober ini menjadi forum pertama Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) yang digelar di Tanah Papua.
Ketua Panitia INLIFE 2025, Dr. Syukur Karamang, SP., M.Si, menyebut konferensi ini sebagai momentum bersejarah bagi dunia pendidikan tinggi pertanian di wilayah timur Indonesia.
“Ini sejarah bagi kami, karena Universitas Papua dipercaya menjadi tuan rumah pertama di kawasan timur. Kegiatan ini bertujuan memperkuat jejaring dan sinergi antarperguruan tinggi pertanian, serta mengangkat nilai kearifan lokal dalam ketahanan pangan,” ujarnya di Vega Prime Hotel & Convention, Kota Sorong.
Menurutnya, tema besar konferensi, “Food Resilience and Security”, membahas isu strategis seperti keamanan pangan, pemberdayaan kearifan lokal, pertanian cerdas berbasis digital, perubahan iklim, serta pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar seminar, tapi forum akademik yang mengarah langsung pada penguatan ketahanan pangan lokal di Papua,” tegasnya.
Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri. Hadir pula sejumlah tokoh penting, antara lain Prof. Dr. Ir. Ahmad Muslim, M.Sc (Sekjen FKPTPI), Prof. Dr. Hugo Warami, S.Pd., M.Hum (Rektor Universitas Papua), serta pembicara dari Filipina, Vietnam, dan Australia yang tergabung dalam jaringan SAFE Network.
Selain konferensi, panitia juga menampilkan produk UMKM lokal yang mengolah bahan pangan dan kerajinan berbasis sumber daya alam Papua.
“Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kreativitas tinggi dalam mengolah hasil bumi. Semua ini bagian dari semangat memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal,” kata Dr. Syukur.
Rangkaian acara akan dilanjutkan dengan lokakarya nasional FKPTPI dan kunjungan lapangan ke Raja Ampat sebagai bentuk kolaborasi riset dan edukasi lingkungan.
“Kami berharap konferensi ini menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat pertanian dan ketahanan pangan masyarakat Papua,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Perikanan, dan Kelautan Papua Barat Daya, Absalom Solosso, yang mewakili Gubernur dalam sambutan pembukaan, menegaskan bahwa arah pembangunan daerah harus berpijak pada ekonomi lokal yang berkelanjutan.
“Ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Papua Barat Daya akan tumbuh kuat bila dibangun di atas pondasi ekonomi lokal, pertanian rakyat, dan kearifan budaya,” kata Gubernur dalam sambutan yang dibacakan Absalom.
Ia menekankan bahwa pembangunan bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menumbuhkan manusia dan menjaga bumi sebagai rumah bersama.
“Pertanian di Papua Barat Daya memiliki kearifan luar biasa, mulai dari sistem hutan sagu di Sorong Selatan, hingga perikanan tradisional di Raja Ampat. Ini teknologi lokal yang sudah terbukti menopang kehidupan masyarakat,” katanya.

Menurutnya, prinsip ketahanan pangan di Papua Barat Daya berakar pada keseimbangan ekosistem, keberlanjutan, dan gotong royong masyarakat adat. Dalam konteks krisis pangan global dan perubahan iklim, kearifan lokal menjadi kekuatan utama membangun pertanian berkelanjutan berbasis konservasi.
Ia juga memuji FKPTPI sebagai motor inovasi pertanian nasional, khususnya di wilayah timur Indonesia.
“FKPTPI bukan hanya wadah koordinasi perguruan tinggi, tetapi juga jembatan antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah untuk menciptakan solusi nyata bagi masyarakat adat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gubernur menyoroti pentingnya kolaborasi riset dan inovasi antara pemerintah daerah, universitas, dan pelaku lokal.
“Kerja sama antara FKPTPI, Universitas Papua, dan Pemerintah Provinsi Papua Barat serta Papua Barat Daya menjadi ruang transfer pengetahuan dan riset terapan yang memperkuat pertanian lokal dan UMKM orang asli Papua,” katanya.
Ia menyebut, masa depan pertanian Indonesia ditentukan oleh kemampuan menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal serta menyatukan teknologi modern dengan tradisi kampung.
“Kita harus mampu menjembatani riset modern dengan kebutuhan nyata masyarakat agar hasilnya berakar dan bermanfaat langsung bagi rakyat,” ucapnya.
Gubernur mengajak seluruh peserta menjadikan forum ini titik temu antara pengetahuan global dan kearifan lokal.
“Mari jadikan forum ini ruang bertemunya ilmu dan tradisi, agar dunia tahu bahwa ketahanan pangan sejati lahir dari kemandirian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam,” katanya.
Konferensi ini menjadi ajang penting memperkuat kolaborasi ilmiah antarnegara dan mendorong pembangunan pertanian berkelanjutan di Tanah Papua.(*)






















Discussion about this post