Sorong, Jubi – Puncak pelaksanaan Jambore Pemuda Adat Domberay di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat menjadi ajang para pemuda di wilayah adat Domberai menyampaikan keserahan mereka mengenak nasib alam Tanah Papua pada masa mendatang.
Jambor Pemuda Adat Domberay ini diikuti 30 pemuda dan pemudi dari berbagai daerah di wilayah adat Domberai, dan berlangsung di Rumah Etnik, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya pada 5–10 Agustus 2026.
Puncak kegiatan diisi parade budaya dan pertemuan generasi muda adat di Gedung Lambert Jitmau, Kompleks Perkantoran Wali Kota Sorong, Selasa (11/8/2026).
Dalam pertemuan itu, para pemuda adat menyampaikan keresahan mereka mengenai masa depan tanah, hutan, budaya, dan identitas masyarakat adat di Tanah Papua.
Mereka menilai perlindungan terhadap masyarakat adat tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial, festival budaya, maupun pernyataan pemerintah tentang pentingnya pelestarian kebudayaan.
Katanya, kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari tanah dan wilayah adat karena di sanalah bahasa, pengetahuan, ritual, pangan lokal, sejarah, serta identitas diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karenanya, mereka mendesak pemerintah segera memberikan kepastian hukum melalui pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat.
Pemuda adat Domberai secara tegas juga menyatakan penolakan terhadap pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN), yang dinilai berpotensi merampas, mempersempit, atau mengubah ruang hidup masyarakat adat tanpa perlindungan yang memadai.
Mereka meminta pembangunan tidak menjadikan masyarakat adat sekadar penonton di atas tanah leluhurnya sendiri. Sebab bagi mereka, pembangunan tidak boleh diukur hanya dari besarnya investasi, panjang jalan yang dibangun, luas lahan yang dibuka, atau nilai proyek yang masuk ke Papua.
Pembangunan harus diukur dari sejauh mana hak masyarakat adat dihormati, ruang hidup dilindungi, lingkungan tetap terjaga, dan masyarakat lokal tidak kehilangan hubungan dengan tanah leluhurnya.
Mereka juga menuntut adanya jaminan agar pembangunan tidak mengorbankan identitas lokal. Sebab, ancaman terhadap kebudayaan dianggap tidak hanya datang dari hilangnya bahasa atau tradisi.
Katanya, kebudayaan juga terancam ketika tanah adat berubah fungsi, hutan kehilangan tutupan, sumber pangan lokal menghilang, sungai dan wilayah pesisir rusak, serta generasi muda semakin jauh dari kampung dan para tetua adat.
Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha Djumaryo yang hadir dalam puncak Jambore Pemuda Adat Domberay itu mengatakan, kebudayaan tidak seharusnya dipandang sebatas warisan masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan hidup yang dapat menjadi sumber kreativitas bagi masa depan.
Ia mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan untuk merayakan kekayaan budaya masyarakat adat Domberay, sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya leluhur.
“Budaya adalah kekuatan yang menyatukan dan menjadi fondasi masa depan,” kata Giring Ganesha.
Sementara itu Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nasrau mengapresiasi pelaksanaan Jambore Pemuda Adat Domberay, dan berharap seluruh gagasan dan rekomendasi yang lahir dari kegiatan tersebut tidak berhenti setelah acara berakhir.
Ia menilai Jambore Pemuda Adat Domberay itu sangat luar biasa sebagai ruang interaksi anak muda dalam pemajuan kebudayaan.
Kami berharap kegiatan ini tidak sekadar seremonial. Kepada seluruh anak-anak adat Domberay, mari bersama-sama merawat dan melestarikan nilai-nilai tradisi masyarakat adat di Papua Barat Daya,” ujar Ahmad Nasrau.
Jambore Pemuda Adat Domberay ini diinisiasi Domberay Creative Project (DCP) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat.
Selama pelaksanaan, jambore diisi berbagai kegiatan, di antaranya talkshow bertajuk “Pelindungan Budaya Masyarakat Adat secara Berkelanjutan”, pameran budaya, pemutaran film, pertunjukan seni teater Opera Anana Papua, fashion show etnik, hingga penganugerahan Domberay Awards Night. (*)




Discussion about this post