Sorong, Jubi – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud RI) memberikan piagam penghargaan kepada Papuan Voices wilayah Sorong Raya, saat rangkaian puncak Jambore Pemuda Adat Domberay di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Selasa (11/8/2026).
Piagam penghargaan yang diterima oleh perwakilan Papuan Voices wilayah Sorong Raya, Irma Irene Mirino itu menjadi penanda bahwa kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan dari kampung-kampung, memiliki arti penting dalam menjaga ingatan, identitas, dan suara masyarakat adat Papua.
Irma Irene Mirino mengatakan, melalui film dokumenter, Papuan Voices Wilayah Sorong Raya merekam.cerita tentang tanah adat, tradisi, pangan lokal, pengetahuan leluhur, kehidupan masyarakat kampung, hingga berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat adat dapat direkam dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Katanya, penghargaan tersebut merupakan kehormatan bagi anak muda Papua yang selama ini belajar dan berkarya bersama para senior Papuan Voices, termasuk almarhum Max Binur.
Menurutnya, sosok Max Binur banyak memberikan motivasi kepada generasi muda untuk terus berkarya meski harus melalui jalan yang sunyi.
“Penghargaan ini adalah sebuah kehormatan bagi kami, anak-anak muda Papua yang sudah lama belajar dan berkarya bersama senior kami, almarhum Max Binur,” kata Irma Mirino, Kamis (13/8/2026).
Ia mengatakan, para senior tidak hanya mengajarkan bagaimana membuat film, juga mengajarkan keberanian untuk datang ke kampung-kampung, mendengarkan masyarakat, menggali cerita, serta mengangkat suara mereka melalui karya.
“Mereka adalah motivator dan kebanggaan kami. Mereka selalu mengajarkan kami untuk menelusuri jalan sunyi,” ujarnya.
Irma Mirino mengingat pesan almarhum Max Binur “Sudah terlalu banyak air mata jatuh di tanah ini. Jadi kita harus kuat. Sekecil apa pun yang torang buat, itu adalah anugerah”. Katanya, kalimat itu masih melekat kuat dalam ingatannya.
Pesan tersebut dimaknai sebagai kekuatan bagi anak-anak muda yang bergerak lewat film dokumenter. Sebab, kerja dokumentasi masyarakat adat tidak selalu menghasilkan sorotan besar, popularitas, ataupun keuntungan ekonomi.
Sering kali kata dia, kerja tersebut justru dilakukan dalam kesunyian. Masuk ke kampung, berjalan bersama masyarakat, mendengar cerita dari orang tua adat, merekam tradisi, dan mengabadikan pengetahuan yang terancam hilang apabila tidak segera didokumentasikan.
“Melalui gerakan film dokumenter yang diproduksi oleh Papuan Voices, kami ingin memberikan ruang kepada suara-suara yang tidak didengar dari kampung-kampung,” ucapnya.
Ia menegaskan, keberadaan Papuan Voices tidak boleh dilihat hanya sebagai komunitas pembuat film. Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya anak muda Papua untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat adat melalui karya audiovisual.
“Kami tidak ingin suara masyarakat dari kampung hilang begitu saja. Apa yang mereka miliki, apa yang mereka ceritakan, apa yang mereka wariskan, itu harus direkam dan diceritakan kembali melalui karya,” tegasnya.
Menurut Irma Mirino, penghargaan yang diterima itu justru menjadi tanggung jawab baru bagi Papuan Voices untuk semakin serius mendampingi generasi muda Papua.
Penghargaan itu lanjut Mirino, bukan akhir dari perjalanan. Justru ini menjadi pengingat bagi Papuan Voices bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Masih banyak kampung yang belum terdokumentasikan, masih banyak cerita masyarakat adat yang belum didengar.
Ia berharap generasi muda Papua tidak hanya menjadi penonton terhadap perubahan zaman, tetapi mampu menjadi pihak yang mendokumentasikan dan menceritakan kehidupan mereka sendiri.
“Anak-anak muda Papua harus menjadi orang yang menceritakan tanahnya sendiri. Jangan sampai orang lain datang, mengambil cerita kita, lalu mereka yang menentukan bagaimana Papua harus diceritakan,” katanya.
Ia mengatakan, piagam penghargaan tersebut juga menjadi simbol bahwa kerja dari jalan sunyi tidak pernah benar-benar sia-sia. Di balik kamera yang diarahkan ke kampung-kampung, ada cerita tentang manusia, tanah, hutan, budaya, leluhur, dan masa depan Papua yang sedang diperjuangkan agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kami akan terus berjalan. Sekecil apa pun karya yang kami buat, kalau itu bisa membuat suara masyarakat adat didengar, bagi kami itu sudah merupakan sebuah anugerah,” ucap Irma Irene Mirino. (*)





















Discussion about this post