Sorong, Jubi – Ratusan warga Kota Sorong menyambut kepulangan empat eks narapidana kasus makar di Kota Sorong, Rabu (26/11/2025). Mereka menggunakan pesawat komersial dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Internasional Eduard Osok kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya.
Masyarakat menunggu kedatangan Abraham Goram Gaman, Piter Robaha, Nikson May, dan Maksi Sangkek di Eduard Osok sejak pukul 05.00–07.00 WP. Forum Pro Demokrasi Sorong Raya kemudian memimpin langsung penjemputan tersebut, dengan melakukan arak-arakan dengan berjalan kaki, diiringi musik suling tambur dan pengawalan laparat keamanan. Arus kendaraan di sekitar bandara bahkan sempat tersendat akibat tingginya antusias masyarakat.
Rombongan kemudian bergerak menuju kediaman Abraham Goram Gaman di Kompleks Yohan dan tiba di rumah Abraham pukul 10.40 WP.
Pukul 11.14 WP, seluruh tamu dan warga sudah memenuhi halaman rumah. Ibadah syukuran pun dimulai pada 11.25 WP. Tepat pukul 11.40 WIT, ibadah selesai dan dilanjutkan dengan penyampaian pernyataan resmi.
“Kami tiga adalah hamba Tuhan yang ditangkap, dan satu adalah jemaat. Terima kasih kepada semua yang berdoa untuk kami. Jangan berhenti menyuarakan Papua Barat,” kata Abraham.
Abraham menegaskan bahwa dukungan doa masyarakat adalah kekuatan utama selama proses hukum berlangsung.
Ia meminta agar aparat Kepolisian di Provinsi Papua Barat Daya tidak melakukan penangkapan aktivis.
“Stop melakukan penangkapan terhadap aktivis Papua merdeka secara sembarangan. Jangan jadikan jabatan, seragam, dan kewenangan sebagai alasan untuk bertindak tanpa dasar hukum yang jelas,” katanya.
Ia mengatakan bahwa aktivis bukan musuh negara, “Kami bukan pelaku makar, dan fakta nyata bahwa kami bebas membuktikan bahwa tuduhan yang kalian lemparkan tidak berdiri di atas hukum yang benar,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar aparat keamanan untuk bekerja sesuai aturan. Jangan menegakkan hukum hanya berdasarkan prasangka, perasaan, atau tekanan.
“Hukum itu bukan alat untuk membungkam suara rakyat, tapi untuk melindungi semua pihak, termasuk kami warga Papua,” katanya.
Jika penegakan hukum sudah disalahgunakan, menurut Abraham itu bukan lagi proses penertiban, tetapi penindasan.
“Itu penindasan, dan penindasan tidak akan menyelesaikan persoalan di Papua, justru menambah luka dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara,” katanya.
Abraham menyampaikan apresiasi pada aparat penegak hukum yang sudah bekerja sesuai prosedur, saat pemulangan mereka.
“Polresta Sorong, Polda Papua Barat Daya, Kejaksaan semua bekerja sesuai prosedur,” katanya.
Menurutnya perjuangan harus sejalan dengan norma hukum internasional, bukan kekerasan .
Piter Robaha kemudian mengambil mikrofon, “Terima kasih untuk semua jadi Tuhan yang punya hidup akan membalas. Terus maju melaksanakan perintah Allah tentang kebenaran.”
Ia juga mengatasnamakan NFRPB dan mengapresiasi Masyarakat Kota Sorong, “Terima kasih anak muda, masyarakat Worot, dan semua koalisi perjuangan Kemerdekaan itu hak segala bangsa. berjuanglah secara damai,” katanya.
Piter menegaskan tidak ada kebencian dalam perjuangan mereka. “Kami tidak membenci Indonesia. Kami hanya menyuarakan hak kami. Kami diangkat paksa. Saya bahkan hanya minta sikat gigi, cuci muka, lalu berdoa sebelum dibawa [ke Makassar],” katanya.
Ia mengecam kekerasan yang terjadi saat mereka dipindahkan ke Makassar. Piter mengingatkan agar Masyarakat Papua terus berjuang untuk keadilan, karen itu perintah Tuhan Yesus.(*)




Discussion about this post