Jayapura, Jubi – Akademisi Universitas Cenderawasih menyebut Orang Asli Papua lulusan perguruan tinggi kini tak lagi hanya berpikir tes Calon Pegawai Negeri Sipil atau CPNS sebagai satu-satunya cara mendapat pekerjaan.
Ditemui usai mengikuti seminar bertema Literasi adalah Jembatan Kemajuan Papua, yang dilaksanakan di Balai Bahasa Provinsi Papua, Jalan Yoka Waena, Kecamatan Heram, Kota Jayapura, sabtu (11/5/2024), Yulindra Numberi, Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau FMIPA Universitas Cenderawasih itu mengatakan para lulusan sarjana OAP tak sedikit yang telah memilih berwirausaha dengan memanfaatkan potensi diri yang dimiliki.
Yulindra Numberi menyebutkan memang sebelumnya para sarjana OAP berorientasi pada peluang agar menjadi PNS, “Salah satunya seperti pernyataan mantan Rektor Universitas Negeri Papua Yan Pieter Karafir dalam sebuah artikel tahun 2011 yang menyebut hampir 80 persen lulusan perguruan tinggi di Papua masih memilih bekerja sebagai pegawai, terutama PNS, daripada menjadi wirausaha”.
Namun, lulusan perguruan tinggi, bahkan mahasiswa OAP saat ini kata Numberi, telah beralih dari mindset menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil atau CPNS sebagai satu-satunya tujuan mendapat pekerjaan. “Itu zaman dulu mereka [lulusan perguruan tinggi] masih menganggap bahwa menjadi PNS baru dapat dikatakan sudah punya pekerjaan, tapi sekarang kan sudah berubah anak-anak Papua mulai banyak yang membuka usaha dan lapangan pekerjaan baru. Ini menunjukan bahwa mindset mereka sudah berubah,” katanya.
Numberi mengatakan perubahan mindset lulusan Sarjana OAP itu membuat akademisi Uncen mulai menetapkan mata kuliah kewirausahaan sebagai kelas yang wajib didalami mahasiswa agar menemukan potensi dirinya dan mampu menciptakan lapangan kerja bagi mereka dan lingkungan masyarakat.
“Sekarang kami jadikan mata kuliah wajib, jadi bagaimana kita mengajarkan kepada mahasiswa untuk mengembangkan potensi yang mereka dapat dari dunia akademisi. Misalnya yang dulu mereka ketahui umbi-umbian dapat dimakan dengan cara direbus, sekarang bisa dijadikan keripik untuk dijual, demikian dengan potensi lainnya, jadi mereka harus mampu berinovasi dalam berwirausaha dan tidak harus menunggu jadi PNS,” tutur Numberi.
Numberi juga mengatakan selain memanfaatkan potensi sumber daya alam untuk menciptakan lapangan kerja, lulusan sarjana juga harus mampu melihat potensi diri yang mereka peroleh dari fakultas atau jurusan yang mereka geluti saat masih berkuliah. Dia menilai, potensi dari jurusan yang pernah digeluti para lulusan sarjana dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
“Saya katakan kepada mahasiswa, kalau memang kalian tidak bisa berjualan, coba kalian punya ilmu dari bidang yang dipilih sewaktu kuliah itu kalian kembangkan. Kalau belajar sebagai guru, pada bidang apapun, matematika atau biologi bisa menjadi guru les untuk anak sekolah dasar, itu salah satu peluang usaha jadi tidak harus bergantung pada orangtua tapi bisa memanfaatkan potensi diri,” tandasnya.
Trainer dan Motivator Speaker Jose Alvan Ohei, yang juga menjadi salah satu pembicara dalam seminar pada hari itu, menyayangkan cara pandang para lulusan perguruan tinggi yang masih belum berupaya menggali potensi diri untuk dijadikan peluang usaha tanpa menunggu jadi PNS. Ia mengatakan seharusnya mindset ‘menjadi PNS dapat mengangkat strata sosial OAP’ harus ditinggalkan.
“Karena OAP punya cara pandang dari dulu begitu, orang kantoran yang strata sosialnya tinggi sehingga orang Papua merasa kalau sa punya anak kerja di kantor, itu yang namanya kerja. Sehingga kesempatan dan peluang bisnis di sektor kewirausahaan diisi oleh Non Papua,” ujarnya.
Ohei mengimbau kepada para mahasiswa agar mampu menggali potensi diri. Ia menyatakan menggali potensi diri tidak dapat diperoleh mahasiswa dari kelas kuliah karena hanya 20 persen, sementara 80 persennya adalah dengan belajar pada organisasi dan komunitas baik internal atau eksternal kampus. (*)




















Discussion about this post