Sorong, Jubi – “Saya bukan hanya seorang rapper. Saya adalah suara bagi mereka yang selama ini dibungkam. Musik saya bukan sekadar hiburan, tapi sebuah perlawanan,” ujar Zoonde, rapper peranakan Papua asal Sorong yang kini karyanya dikenal luas di Tanah Papua dan Indonesia.
“Nama asli saya Yudho, umur saya 32 tahun, dan darah Serui mengalir di tubuh saya. Sejak tahun 2005, saya mulai jatuh bangun di jalur hip-hop. Itu bukan perjalanan mudah bagi saya, ditempa kerasnya jalanan, tidak jatuh dalam kriminalitas. Saya hanya memilih musik sebagai jalan saya untuk bicara,” kata Zoonde kepada Jubi pada Kamis (2/10/2025).
Menurutnya musik rap adalah ruang artikulasi, dan kata-kata adalah senjata perlawanan untuk membicarakan realitas Tanah Papua. “Saya tahu banyak orang tidak suka saya, tapi saya tidak peduli, karena musik rap saya adalah tentang kebenaran, bukan tentang selera pasar, katanya.
Sejak lama Zoonde menciptakan berbagai karya musik rap yang keras menyuarakan kritiknya terhadap beragam situasi di Tanah Papua. Pada 2019, ia merespons insiden ujaran rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya dengan karyanya berjudul “Poetry From Getto”.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Lagu itu saya tulis dengan hati penuh luka dan Saya bicara tentang penindasan, tentang diskriminasi, tentang negara yang tidak adil kepada orang Papua. Saya tahu banyak yang tersentuh, tapi juga banyak yang marah. Itu risiko saya sebagai musisi perlawanan,” kata Zoonde.
Zoonde bercerita bahwa ia dibesarkan di Blok 8, Sorong, sebuah lingkungan keras yang membentuknya. Dari sana rapper yang bermukim di Sorong itu belajar bahwa hidup orang Papua penuh tantangan. “Saya melihat saudara saya mati, dan saya melihat tanah kami dirampas. Saya melihat hutan kami dihancurkan atas nama Negara Indonesia. TNI/Polri ke sana bikin trauma masyarakat adat Papua. Semua itu membuat saya sadar, musik saya harus jadi medium perlawanan,” ujar Zoonde.
Bagi Zoonde, hip-hop ataupun menjadi rapper bukan sekadar gaya hidup. Baginya, hip-hop adalah alat perjuangan untuk menyalurkan keresahan, juga alat untuk menyebarkan pesan. Dengan musik karyanya, ia mengobarkan semangat kaum anak muda Papua terus menjaga tanah adat mereka.
Pada September 2025, Zoonde diundang Greenpeace Indonesia menghadiri Forest Defender Camp 2o25 yang berlangsung di wilayah adat Tehit-Knasaimos, Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya. Festival yang digelar di tengah hutan bakau Kampung Sira itu dihadiri perwakilan masyarakat adat dari Cekungan Kongo, Amazon, Borneo, dan berbagai wilayah adat Tanah Papua.
“Di sana Saya diminta membagikan cerita saya di depan ribuan peserta. Kami berkumpul untuk bicara soal hutan, soal adat, dan soal perlawanan terhadap investasi rakus yang merampas tanah kami,” katanya
Menurut Zoonde, momen itu bukan sekadar panggung musik. Dalam Forest Defender Camp, Zoonde bukan hadir sebagai artis yang tampil keren di panggung. “Saya hadir sebagai pejuang HAM. Saya isi ruang diskusi, saya bicara, saya teriak, saya ajak semua orang untuk tidak diam terhadap krisis iklim dan penindasan,” ujarnya.
Zoonde memilih untuk tidak berkompromi dengan pencuri. Baginya, Tanah Papua bukan milik negara atau investor, melainkan milik masyarakat adat Tanah Papua dan para leluhur mereka.
Ia mengakui banyak karyanya lahir dari kenyataan getir. Banyak pula lirik lagunya yang penuh sarkasme, karena ia melihat langsung penderitaan Orang Asli Papua yang terancam punah di tanah adat mereka yang dirampas. Ia bersuara keras melihat hutan sagu diganti kebun sawit, tambang merusak gunung, dan masyarakat adat yang mati. “Musik saya bicara tentang fakta itu,” ujarnya
Zoonde selalu percaya bahwa musik bisa menggalang solidaritas. Musik adalah medium yang menyatukan. “Dengan rap, saya mengajak orang orang sadar, bukan hanya orang Papua, tapi semua orang yang punya nurani, karena penindasan di Papua adalah masalah kemanusiaan, bukan hanya masalah lokal,” katanya.
Baginya, ia berdemonstrasi lewat musik rap karyanya. “Saya tidak perlu pegang spanduk, saya pegang mikrofon. Dengan mikrofon saya bisa lebih lantang bicara. Saya tahu banyak orang tidak suka, tapi saya tidak hidup untuk menyenangkan semua orang. Saya hidup untuk melawan ketidakadilan,” katanya dengan nada tegas.
Zoonde menekankan bahwa dia tidak sendiri. Ia menegaskan banyak banyak rapper Papua lain yang juga ikut bergerak, melawan ketidakadilan melalui karya-karya mereka. “Ada banyak rapper di Sorong dan di Tanah Papua yang juga berteriak lewat musik. Kami mungkin berbeda gaya, tapi satu tujuan melawan penindasan. Itulah kekuatan kolektif kami,” ujarnya.
Pilihan Zoonde untuk bersuara melalui musik dipengaruhi oleh Mambesak Group, kelompok musik legendaris di Tanah Papua yang dikenal karena karya musik mereka membangkitkan jati diri Orang Asli Papua. “Mereka bilang, ‘menyanyi untuk hidup, kini dan nanti.’ Itu jadi pegangan saya sebagai anak rap. Saya bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk generasi Papua di masa depan.”
Zoonde memberi pesan khusus bagi anak muda Papua. Ia ingin musik karyanya sampai ke hati anak muda Papua, baik itu mahasiswa, aktivis, kaum perempuan, pedagang, tukang ojek, guru, paramedis, pejabat, pegiat seni, siapa saja. “Jangan pernah diam. Kita harus bicara, kita harus lawan dengan cara kita masing-masing,” ujarnya penuh keyakinan.
Aktivis perempuan Papua dari Sorong Raya, Qvarica Reba melihat Zoonde bukan sekadar musisi. Bagi Reba, Zoonde adalah adalah pejuang, karena liriknya membongkar realitas Tanah Papua, topik yang biasanya dihindari banyak orang yang takut bicara. “Itu penting, terutama bagi generasi muda Papua yang sering dilemahkan oleh sistem, ujar Qvarica Reba pada Kamis.
Reba mengatakan banyak musisi dan rapper Papua lain yang juga berjuang untuk menyuarakan realitas Tanah Papua dengan gayanya masing-masing. “Rapper Papua sedang berjuang dengan gaya dan caranya, melalui lagu-lagunya. Seperti Ukam Maran, Epo D’Fenomeno, dan masih banyak anak muda Papua lainya yang konsisten menyuarakan kebenaran di tanah ini. Salam juang, kalian tetap semangat, Tuhan [dan] alam Papua ini senantiasa memberkati karya-karya kalian,” ujar Reba.
Menurut Qvarica Reba, karya Zoonde juga memberi energi bagi gerakan perempuan Papua. Melalui musiknya, Zoonde sebagai rapper mengangkat keresahan pegiat gerakan perempuan Papua.
Reba menyinggung pentingnya solidaritas antara orang Papua dan orang non-Papua. Saya bicara juga pada teman-teman non Papua yang lahir dan besar di tanah ini, Jangan kalian diam kalau tanah ini dirampas, karena Ini tanah kita semua. Kalian juga punya kewajiban menjaga Bumi Kasuari dan Cendrawasih ini,” ujarnya.
Sebagai rapper, Zoonde ingin terus bersuara tentang realitas kehidupan di Tanah Papua, dan realitas yang dihadapi masyarakat adatnya. Ia mengenang mendiang Max Binur, budayawan yang gigih menyuarakan realitas kehidupan masyarakat adat Tanah Papua melalui jalan kebudayaan dan baru saja berpulang. “Beliau sudah pergi lebih dulu, tapi semangatnya hidup dalam diri saya. Saya berdiri di panggung Forest Defender Camp II juga karena semangat beliau,| kenangnya dengan penuh hormat.
Zoonder meminta setiap orang yang terketuk dengan persoalan kemanusiaan di Tanah Papua untuk berjuang, termasuk mereka yang bukan rapper. “Teruslah berjuang dengan cara masing-masing. Kita jangan pernah menyerah, Papua butuh kita semua. Musik saya hanya salah satu jalan. tapi setiap orang punya peran. Mari kita bersatu menjaga dan merawat Mama Negeri Papua ini,” katanya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post