Jayapura, Jubi – Sagu Swamening, kuliner khas masyarakat adat Lembah Grime,disajikan pada ajang Festival Sagu dan Grime Art 2024 di Kampung Rephang Muaib, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Selasa (25/6/2024).
Kuliner sagu swamening, telah menjadi salah satu makanan khas. Warisan turun-temurun dari nenek moyang masyarakat adat di Lembah Grime. Swamening terdiri dari empat campuran bahan dasar; daun sayur gedi, sagu, parutan kelapa, dan sayur lilin yang disatukan dengan cara digulung. Lalu direbus hingga matang.
Bastiana Waisimon (52), salah satu ibu yang menyajikan kuliner sagu swamening mengatakan, Swamening biasanya disajikan pagi hari. Menu ini jadi santapan anak-anak sebelum ke sekolah. Sanggup bikin kenyang perut dalam jangka waktu lama.
“Swamening atau gedi gulung, ini makanan [kami] turun- temurun, biasanya dibikin saat ada pesta, untuk makan sehari-hari juga terutama pagi hari untuk anak-anak makan sebelum ke sekolah,” katanya kepada Jubi.
Campuran swamening sebenarnya terdiri dari daun sayur gedi, sagu, dan parutan kelapa. Namun, mama-mama di lembah Grime berinovasi, dengan menambahkan campuran sayur lilin untuk menambah varian rasanya.

Mama Bastiana Waisimon dan Martafina Demongreng sedang menyiapkan swamening untuk direbus dalam Festival Sagu dan Grime Art 2024 di Kampung Rephang Muaib, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Selasa (25/6/2024). Jubi/Hans Makabori
“Ini kitong punya makanan pokok, sebelumnya kami pake daun gedi, sagu , dan kelapa. Tapi sekarang kami coba tambahkan sayur lilin supaya ada tambahan rasa,” tutur Waisimon.
Festival Sagu dan Grime Art 2024 digelar Selasa-Kamis,, 25 – 27Juni, mulai pukul 10.00 s.d 15.00 waktu Papua.
Penyaji swamening lain, Martafina Demongreng (50) mengatakan, swamening belum dikenal secara luas. Untuk skala Papua sendiri lebih mengenal sagu bakar, atau sagu yang dibakar dalam cetakan khusus.
“Swamening ini masih lokal sekali, yang terkenal itu mungkin sagu bakar yang pakai cetakan seperti isi di bambu, atau cetakan keramik dari toko-toko. Orang Papua sendiri belum semua tahu jenis makanan ini. Padahal dari [bahan dasar] sagu juga,” kata Demongreng.
Demongreng berharap generasi Papua ke depan tetap mengenal makanan-makanan khas daerah masing-masing agar tidak hilang seiring waktu. “Makanan khas juga salah satu bagian dari identitas kita, jangan lupakan itu.” (*)




















Discussion about this post